Bagaimana Memajukan Pendidikan Sulsel? Pertanyaan ini sangat menarik dan sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kata memajukan yang berasal dari kata maju adalah kunci dari pertanyaan itu. Secara bahasa maju adalah perbuatan atau tindakan yang dilakukan untuk berada di tempat yang lebih di depan.
Intinya adalah, maju adalah tindakan yang dilakukan agar posisi kita bergerak ke arah yang lebih baik. Hal ini kita sepakati dahulu. Bahwa kita bertujuan untuk mengarahkan pendidikan di Provinsi Sulsel ke arah yang lebih baik. Lebih kedepan. Lebih visioner dan lebih menjawab kebutuhan masa akan datang.
Jika membahas hal tersebut di atas maka, terdapat beberapa poin pertanyaan terkait hal tersebut di atas.
- Kita perlu terlebih dahulu mengenal sudah sejauh mana posisi kita?
- Bagaimana tantangan yang dihadapi oleh pendidikan kita saat ini?
- Bagaimana kebutuhan masa depan?
- Posisi
Menjawab pertanyaan tersebut diatas tentu kita harus membuka mata dan mengikuti perkembangan global saat ini.
Baru-baru ini kita mendengar ada peringkat negara-negara secara internasional yang mengukur kemampuan Sains, Literasi dan Matematika anak didik. Peringkat itu dikenal dengan sebutan PISA (Programme For International Student Assessment).
Terakhir, peringkat yang dikeluarkan akhir desember 2023 itu mengeluarkan susunan daftar peringkat negara-negara di dunia. Dimana dalam peringkat itu Indonesia berada pada urutan yang ke 68 dari 81 negara yang diriset.
Secara skor pencapaian indonesia mulai dari literasi, matematika dan sains mengalami penurunan jika dibandingkan 2018 lalu. Data itu pun disebutkan tak sesuai dengan pencapaian RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) Kemendikbudristek 2020-2024.
Selain itu, kita juga bisa melihat bahwa tingkat putus sekolah yang masih cukup tinggi di Sulsel dimana disebutkan data pada 2020 mencapai 163.000 anak usia 7 s/d 18 tahun mengalami putus sekolah.
Selain itu, kita perlu mengetahui pula bagaimana kualitas lulusan sekolah saat ini. Berapa persen siswa yang lanjut kuliah, bekerja atau menganggur. Gambaran itu mungkin bisa kita lihat dari data lulusan SMK di Provinsi Sulsel sebagai cerminan.
Pada 2022 lalu tercatat, data lulusan smk yang menganggur berada di bawah angka 5%, lanjut kuliah sebanyak 25%, bekerja lebih dari 30%, wiraswasta 20%, dan lain-lain sekitar 20%.
Dari data itu kita bisa melihat bahwa lulusan smk 50% bisa langsung diserap bursa kerja. Apakah itu menjadi pekerja atau sebagai entrepreneur.
Tentu lain lagi data lulusan SMA. Sebab karakter pendidikan SMK yang berbasis vokasi memang berbeda dengan SMA. Tetapi data di atas setidaknya bisa menjadi acuan atau gambaran kondisi pendidikan kita.
- Tantangan
Berbicara masalah tantangan pendidikan di Sulsel memang cukup variatif. Ini bisa terkait dengan berbagai faktor yang menjadi penyebabnya. Mulai dari faktor geografi, ekonomi, tenaga pendidik dan sarana-prasarana.
Kendati demikian, menurut kami tantangan yang paling dominan pada pendidikan di Sulsel disebabkan oleh faktor geografis dan ekonomi.
Wilayah Sulsel yang cukup luas yang mencapai 46 ribu km2 dan terbagi pada 24 kabupaten dan kota menjadi tantangan tersendiri.
Kondisi geografis wilayah Sulsel tak semuanya daratan landai. Ada juga daerah perbukitan, pegunungan dan pulau. Di antara daerah-daerah itu, terdapat beberapa wilayah yang aksesibilitasnya masih rendah. Masih sulit terjangkau. Hal itu karena infrastruktur jalan yang belum bisa menjangkau atau karena kondisi geografisnya yang membuatnya terisolir.
Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri baik bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.
Kondisi geografis inilah bisa jadi menjadi salah satu penyebab kualitas pendidikan yang rendah di daerah tersebut.
Tantangan berikutnya, yakni karena faktor ekonomi. Faktor ini bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan rendah. Namun demikian hal ini bisa teratasi jika komitmen anggaran pendidikan sebesar 20% diterapkan lebih maksimal. Disamping itu upaya pelibatan masyarakat yang lebih partisipatif dalam mendorong perbaikan sarana dan prasarana pendidikan.
Berikutnya, ada juga tantangan tenaga pendidik. Tenaga pendidik masuk dalam salah satu tantangan tersendiri untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik. Tenaga pendidik tentunya diharapkan mampu memberikan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik.
Tantangan berikutnya, sarana dan prasarana. Ketidakmerataan sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi salah satu persoalan yang dihadapi dalam memajukan pendidikan kita. Dibutuhkan perbaikan sarana dan prasarana untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan yang baik. Seperti misalnya ketersediaan jaringan internet yang mudah, murah dan cepat yang bisa diakses.
- Tantangan Masa Depan
Perkembangan teknologi yang semakin maju, utamanya teknologi komunikasi yang begitu pesat mendorong semua pihak, utamanya dunia pendidikan untuk mengikuti tren itu secara selaras.
Tertinggal teknologi, sama saja halnya tertinggal masa depan. Sebab di masa depan penggunaan teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Termasuk kebutuhan di dunia kerja.
Saat ini misalnya, Internet of Things atau yang disingkat dengan IoT atau Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, sudah menjadi makanan sehari-hari, termasuk di dunia kerja.
Kita bisa melihat, hampir semua aspek pekerjaan sudah mulai mengandalkan teknologi yang dilengkapi dengan AI.
Bahkan dengan kemampuan AI yang terus berkembang, maka mampu menggantikan manusia.
Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat itu apakah sudah dapat diimbangi di bangku sekolah? Sejauh mana anak didik memahami teknologi ini?
Tawaran Solusi
Mengingat hal-hal tersebut di atas, maka diperlukan langkah-langkah konkrit dan sistematis untuk menjawabnya. Peranan Dewan Pendidikan Provinsi Sulsel memiliki peran yang cukup sentral dalam menghadapi hal itu.
Terdapat beberapa solusi yang bisa dikerjakan oleh Dewan Pendidikan Provinsi Sulsel untuk menjawab tantangan tersebut di atas.
- Perbaikan sarana dan prasarana utamanya ketersediaan jaringan internet.
Ketersediaan internet bagi kami merupakan solusi yang bisa mengatasi beberapa tantangan yang saat ini dihadapi oleh pendidikan di Sulsel. Dengan ketersediaan internet yang mudah, murah dan cepat, tak hanya memberikan kesempatan bagi anak didik untuk mengakses pengetahuan yang lebih banyak secara global, tetapi juga menjadi penghubung antara tenaga pendidik baik di tingkat provinsi maupun secara nasional, bahkan internasional.
Hal ini tentunya akan memudahkan bagi para tenaga didik untuk mengikuti upgrade skill dan knowledge tanpa harus khawatir dengan faktor geografis.
Bagaimana dengan daerah terpencil? Jika memang daerah tersebut terisolir atau remote, dan belum pemerintah belum memiliki anggaran yang cukup untuk membangun infrastruktur jaringan di tempat itu, maka disinilah peran dewan pendidikan untuk berupaya menghadirkan instansi atau korporasi untuk membantu mewujudkan infrastruktur itu di lokasi tersebut.
- Proaktif mengajak korporasi menyalurkan CSR ke wilayah yang membutuhkan
Melanjutkan contoh di atas, dewan pendidikan harus lebih proaktif mengajak pihak-pihak korporasi untuk menyalurkan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaannya ke sektor pendidikan dan ke objek yang tepat sasaran.
Dewan pendidikan sebaiknya gencar berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan yang berada di Provinsi Sulsel untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan yang lebih baik.
- Memberikan stimulasi berupa kegiatan yang bersifat memacu kreatifitas
Dewan pendidikan Provinsi Sulsel dapat mendorong kemajuan pendidikan dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bersifat stimulan dan dapat memacu kreatifitas baik anak didik, maupun tenaga pendidik.
Program itu bisa berupa kompetisi berbasis proyek pada anak didik atau kompetisi penerapan kurikulum berbasis muatan lokal.
- Menjamin nilai-nilai luhur lokal dalam pendidikan
Selain hal tersebut di atas, dewan pendidikan Provinsi sulsel mampu memberikan jaminan bagi penyelenggaraan pendidikan untuk menerapkan nilai-nilai luhur daerah kedalam pendidikan.
Apalagi setelah Perda Akhlak Mulia didorong oleh DPRD Sulsel dan Pemerintah Sulsel, maka harus diimplementasikan dengan peleburan ajaran-ajaran luhur budaya dalam kurikulum pendidikan.
- Mendorong perbaikan mutu tenaga pendidik secara berkelanjutan
- Mendorong kolaborasi dengan kampus dan dunia kerja
- Memanfaatkan AI/IoT dalam proses pendidikan.
