Capaian Intervensi Spesifik Stunting Dievaluasi

Makassar, Upeks — Dinas Kesehatan Kota Makassar menggelar evaluasi capaian intervensi spesifik stunting yang berlangsung  di Hotel Aston, Rabu (28/11/2024).

Menurut Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Kota Makassar, Sunarti kepada Upeks, kegiatan ini dihadiri 47 Kepala Puskesmas di Makassar, serta para petugas gizi, koordinator  bidan , serta lintas sektor terkait seperti PKK dengan prioritas  dari wilayah lokus stunting. 

Kegiatan ini dibagi dalam dua sesi dan bertujuan untuk menilai capaian program sekaligus mengidentifikasi kendala dan solusi dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Kegiatan ini menghasilkan beberapa poin penting, salah satunya adalah penandatanganan komitmen bersama oleh Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas, dan PKK kelurahan untuk memperkuat langkah pencegahan dan percepatan penanganan stunting. 

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Makassar, dr Nursaidah Sirajuddin M.Kes dalam sambutannya, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) tanpa meninggalkan penanganan balita stunting. 

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan, prevalensi stunting di Makassar pada Berrdasarkan data e- PPGBM bulan Oktober 2024 , prevalensi stunting sebesar 3,06 %. Data tersebut menunjukkan terjadi Penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan ini dicapai melalui berbagai intervensi, diantaranya dengan melakukan:

1. Peningkatan konsumsi tablet tambah darah untuk ibu hamil.

2. Pemantauan pertumbuhan balita di posyandu.

3. Peningkatan pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan.

4. Pemberian makanan tambahan (PMT) lokal di seluruh wilayah puskesmas untuk balita dengan masalah gizi, seperti balita yang tidak naik berat badannya,  balita dengan  berat badan kurang , balita gizi kurang serta ibu hamil KEK.

5. Pelayanan imunisasi dasar lengkap.

6. Tata laksana bagi balita dengan gizi buruk.

7. Distribusi tablet tambah darah kepada remaja putri sebagai pencegahan anemia.

Kendati demikian, terdapat beberapa kendala yang teridentifikasi meliputi tingginya mobilitas penduduk, penyakit penyerta pada balita, serta kebiasaan rumah tangga yang sulit diubah.

Kadis Kesehatan Makassar, menggarisbawahi perlunya pendekatan perilaku dan penguatan kolaborasi lintas sektor.

Kolaborasi ini melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), seperti Dinas Pendidikan, PU, dan lain-lainnya. 

Intervensi spesifik  terhadap penurunan stunting berkontribusi sebesar 30 % bila indikator  capaian intervensinya telah tercapai 90 %, sementara kontribusi intervensi sensitif dari berbagai lintas sektor terkait sebesar 70 % terhadap penurunan stunting. 

Dengan hasil evaluasi ini, Dinas Kesehatan berharap dapat meningkatkan efektivitas program stunting melalui pendekatan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. 

Upaya ini diharapkan mampu membawa Makassar menjadi salah satu daerah dengan capaian terbaik dalam penanganan stunting di tingkat nasional. (*)

Tinggalkan komentar