Laba Bersih Astra Turun 7% di Kuartal I 2025, Sektor Batu Bara dan Otomotif Tertekan

Jakarta, — PT Astra International Tbk mencatat penurunan laba bersih sebesar 7% menjadi Rp6,9 triliun pada kuartal pertama 2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lemahnya kinerja bisnis terkait batu bara serta lesunya penjualan mobil di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menyebutkan bahwa meskipun beberapa sektor mengalami tekanan, portofolio bisnis yang terdiversifikasi mampu memberikan bantalan terhadap dampak ekonomi yang tidak menentu.

““Laba bersih Grup pada kuartal pertama tahun 2025 lebih rendah, terutama mencerminkan kondisi ekonomi yang masih lemah dan harga batu bara yang mengalami penurunan dari level tertinggi sebelumnya. Terkait kinerja, walaupun terdapat penurunan pada bisnis otomotif dan bisnis terkait batu bara, penurunan tersebut sebagian diimbangi oleh kinerja yang solid dari bisnis lainnya. Hal ini menunjukkan resiliensi portofolio Astra yang terdiversifikasi. Kami akan terus memantau perkembangan kondisi makroekonomi seraya tetap fokus menjaga disiplin keuangan dan operasional Grup. Didukung oleh neraca keuangan yang kuat, portofolio Grup yang terdiversifikasi berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya dalam rilis resmi, Rabu (30/4/2025).

Pendapatan bersih konsolidasian naik 3% menjadi Rp83,4 triliun. Namun, laba bersih per saham turun menjadi Rp182 dari sebelumnya Rp201. Nilai aset bersih per saham juga naik 4% menjadi Rp5.468.

Kinerja Per Divisi
Otomotif & Mobilitas mencatat laba Rp2,7 triliun, turun 4%, dipengaruhi oleh penurunan penjualan mobil nasional 5% menjadi 205.000 unit. Namun, pangsa pasar Astra tetap stabil di 54%.

Jasa Keuangan meningkat 3% menjadi Rp2,1 triliun, ditopang oleh kenaikan pembiayaan konsumen dan alat berat.

Divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi mengalami penurunan tajam 30% menjadi Rp2 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh rendahnya harga batu bara dan curah hujan tinggi yang mengganggu aktivitas tambang.

Agribisnis mencatat kenaikan laba 20% menjadi Rp221 miliar, didorong oleh harga minyak sawit yang naik 22%.

Infrastruktur tumbuh 54% menjadi Rp260 miliar, dengan kontribusi dari volume lalu lintas dan tarif jalan tol yang lebih tinggi.

Teknologi Informasi melonjak 64% menjadi Rp36 miliar, sedangkan Properti naik tipis 4% menjadi Rp47 miliar.

Astra menyatakan akan terus menjaga kedisiplinan finansial dan operasional sambil memanfaatkan peluang pertumbuhan jangka panjang yang didukung oleh kekuatan neraca keuangan dan portofolio bisnis yang luas. (*)

Tinggalkan komentar