Pernah Bergaji Rp1 Miliar

Andi Chaerul Manggabarani

Kalau kamu belum punya apa-apa, dekat-dekatlah dengan masjid. Bergaullah dengan orang-orang yang saleh di masjid. Ikutlah meramaikan masjid, salat berjamaah dengan warga bersama-sama. Insya Allah akan dibuka pintu keberkahan dan rezeki dari situ,” ujar Andi Chaerul Manggabarani dengan penuh semangat membocorkan rahasia perjalanan hidupnya sebelum sukses menjadi seorang pengelola tambang yang pernah digaji Rp1 miliar per bulan.


Petuah itu tak diambilnya dari buku referensi atau dari penggalan kutipan petuah-petuah pesohor. Kalimat itu merupakan buah dari pengalaman yang pernah dijalani Andi Chaerul Manggabarani ketika mengembara di ibu kota Sebatang kara, tanpa siapa pun, termasuk keluarga.

Andi Chaerul Manggabarani


Andi Cherul adalah seorang tokoh sukses yang memiliki beragam profesi. Dia pernah menjadi dosen dengan status Pegawai Negeri Sipil. Pernah pula menjadi politisi dengan menduduki jabatan sebagai Wakil Sekjen DPP PDI. Pernah duduk sebagai anggota MPR RI. Menjadi pengusaha hingga menjadi seorang profesional yang bergaji Rp 1 miliar.


Dia bercerita, sebelum dirinya mengadu nasib di ibu kota, dirinya adalah seorang dosen di Universitas Haluoleo, Sulawesi Tenggara. Ketika dirinya aktif di partai politik dia memutuskan untuk mundur sebagai PNS. Dia bahkan sempat duduk sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI pada 1997 hingga 1999.
Keterlibatannya di partai politik, khususnya di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) bukanlah sesuatu yang baru. Ayahnya yakni Andi Moeis Manggabarani adalah tokoh PDI. Ayahnya bahkan pernah menduduki jabatan sebagai Ketua DPD PDI Sulsel.


Di PDI, Andi Chaerul bahkan memiliki posisi yang sangat strategis. Dia dekat dengan sosok Megawati Soekarno Putri, Ketua PDI yang juga menjadi simbol perjuangan PDI. Karena begitu dekatnya dengan Megawati, sehingga dia diperlakukan seperti anak sendiri.
Sampai terjadi peristiwa pecahnya PDI akibat intervensi pemerintah. Di tubuh PDI terjadi dualisme kepemimpinan. Selain Megawati Soekarno Putri yang menjabat sebagai Ketua Umum PDI periode 1993-1998, juga muncul nama Soerjadi yang terpilih sebagai Ketua PDI Periode 1996-1998 melalui kongres di Medan.


Pada saat itu Andi Chaerul Manggabarani dipaksa untuk menghadiri kongres di Medan. “Saya baru pertama kali menceritakan ini kepada siapa pun. Saya baru buka hari ini. Kenapa sampai saya terpaksa mengikuti kongres medan. Jadi saya dipaksa untuk hadir di Medan. Kondisinya saat itu yang memaksa saya untuk terbang ke Medan. Kalau ini menyangkut masalah nyawa sendiri, saya tidak takut. Tetapi ini menyangkut nyawa anak dan istri saya yang sudah ada dalam penguasaan mereka saat itu,” ujarnya.
Dia menambahkan, kondisi politik saat itu memang sangat erat campur tangan penguasa. Rumahnya, bahkan dijaga oleh tentara saat itu. Sehingga mau tidak mau dia harus terpaksa ikut kongres di Medan dan menempatkannya sebagai Wakil Sekjen DPP PDI dengan Soerjadi sebagai ketuanya.


“Saya yakin Ibu Megawati memahami posisi kami saat itu. Ini sebuah keterpaksaan,” ingatnya.
Setelah peristiwa itu, pelan-pelan dirinya menarik diri dari dunia politik. Dia lebih tertarik untuk masuk ke dunia bisnis, apalagi dirinya sudah bukan lagi seorang PNS.


Awal mula, Andi Chaerul masuk ke dunia bisnis dengan terjun ke perdagangan kayu di Sulawesi Tengah berkat jaringan pertemanan. Apalagi pamannya yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Sulteng, yaitu Aminuddiin Ponulele memanggilnya untuk berbisnis.


“Paman saya waktu itu memanggil, dia katakan, kan kamu sudah tidak lagi PNS sementara kamu punya tanggung jawab besar, ada anak dan istrimu. Kamu berusahalah di sini, nanti Om Amin bimbing,” ujarnya.


Menurutnya, bimbingan pamannya itulah yang pertama kali dirasakannya memulai masuk di dunia usaha. Walau sebenarnya di bisnis perdagangan kayu, keluarganya juga bukan orang bau. Ayahnya jauh lebih dahulu menekuni bisnis ini bahkan punya izin usaha HPH (Hak Pengelolaan Hutan).
Setelah cukup lama mendapatkan hasil dari bisnis kayu itu, Andi Chaerul kembali ingin melanjutkan studi S2 di Institute Pertanian Bogor (IPB).


Meski mendapat beasiswa, namun tentu jumlahnya tak memenuhi kebutuhannya untuk membeli buku serta untuk menghidupi anak dan istrinya. Dia harus putar otak untuk mencari tambahan pendapatan.


“Apa saja yang halal saya kerjakan. Saya juga sempat mengajar, bikin buku Autobiografi tokoh-tokoh tertentu. Karena saya ini dari keluarga baik-baik tapi tidak punya kekayaan lebih seperti orang lain. Bapak saya termasuk memilih jalan hidup yang tak lazim di keluarga Manggabarani. Bapak saya memilih mengabdi di PDI. Di zaman itu, orang PDI tak punya akses untuk jadi pengusaha pasti dimatikan usahanya,” ujarnya.


Di Jakarta lanjutnya sempat bekerja serabutan dengan modal semangat. Karena tak ada gaji dan berbekal ijazah. “Tapi waktu itu siapa yang mau mempekerjakan kita orang PDI,” tambahnya.


Dirinya sempat bekerja di perusahaan packaging industri asal Amerika. Dia juga membuat pelatihan-pelatihan. Hal itu dilakukannya untuk bisa bernafas dari hari ke hari di Ibukota. “Tapi kami tidak pernah datang mengemis dan meminta. Apalagi menjual harga diri dengan menipu orang, tidak pernah. Kami bekerja dengan keringat, doa, air mata dan dedikasi untuk menjaga siri dan kehormatan keluarga,” ujarnya.


Dia mengaku di Jakarta sebenarnya dirinya punya banyak keluarga yang berada di posisi-posisi strategis di kementrian bahkan di kepolisian. Namun dia mengaku enggan memanfaatkan jaringan itu semua. “Entah kenapa kelu ini lidah,” ujarnya.


Sambil bersekolah di IPB, dia mengaku sempat bekerja sebagai penyedia tenaga Cleaning Service di beberapa supermarket. “Jadi saya kenal dengan pemilik supermarket Robinson, Roberta, Ramayana dan Makassar,” ujarnya.
Di samping itu dia juga akrab dengan sekuriti keempat departemen store itu di Bogor dan tanpa ragu menawarkan diri untuk membantu kerja malam di tempat itu. Namun dia malah mendapatkan tawaran lain untuk menjadi penyedia tenaga kebersihan di tempat itu pada malam hari.


Namun selain itu, Andi Chaerul selalu melihat peluang-peluang di sekitar itu. Suatu ketika dia melihat ada pedagang kelapa yang kebingungan karena tukang hitungnya tak masuk. Andi Chaerul pun menawarkan diri untuk menjadi checker dan akhirnya dia berhasil dipercaya untuk melaksanakan tugas itu.


Karena masih memiliki waktu luang, Andi Chaerul juga melakoni sebagai supir pengangkut besi bekas. Dia mengenal dengan pemilik usaha itu di masjid dekat rumah kosnya. Namanya H Makmun. Di situ dia mengenalnya, dan akhirnya dipanggil untuk membawa salah satu pickup pengangkut besi milik H Makmun.
Dari perkenalan itulah pelan-pelan dia mulai masuk dunia usaha di Bogor. Awalnya dia menjadi suplier bahan bangunan di salah satu proyek perumahan. Lambat laun dia menjadi developer. “Waktu itu saya lagi sujud lalu tiba-tiba terlintas untuk membuat perusahaan bernama Sujud Bumi Berkah. Usai salat saya langsung buat perusahaan itu,” ujarnya.


Nama itulah kemudian digunakan untuk perusahaannya yang bergerak di bidang perkebunan sawit di Kalimantan Selatan. Tak lama kemudian dia ekspansi ke bisnis pertambangan batu bara dan Nickel.
Terakhir dia bertemu dengan seorang pengusaha muda H Samsuddin Andi Arsyad atau yang biasa dikenal Haji Isam yang mempercainya untuk menjadi Presiden Komisaris dan Direktur di beberapa perusahaan miliknya sampai sekarang.

Biodata:
Ir. Andi Chaerul Manggabarani, M.si
Tempat/Tanggal Lahir: Parepare, January 3rd 1962
Profesi : Pengusaha – Profesional
Riwayat Pendidikan
1970 – 1977 : SDN Pembangunan Mongonsidi Ujung Pandang
1977 – 1980 : SMPN Pembangunan Mongonsidi Ujung Pandang
1980 – 1983 : SMAN 1 Parepare
1983 – 1987 : Bachelor Degree, Agriculture faculty, Hassanuddin University, Ujung Pandang
1993 – 1995 : Magister Sains Ilmu Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Institut Pertanian Bogor. (*)

Sumber: Buku Tokoh Sulsel 2021-2023

Tinggalkan komentar