Bone,–Demonstran menerobos masuk dengan memaksa tiga pintu gerbang kantor Bupati Bone. Aksi kemudian berlanjut dengan pelemparan batu dan botol air mineral ke arah anggota polisi yang bertugas mengamankan area dalam kompleks kantor.

Aksi unjuk rasa ini dipersiapkan oleh 15 organisasi di bawah Aliansi Rakyat Bone Bersatu.
Mereka mendirikan posko dengan tenda dan mengumpulkan persediaan logistik untuk memobilisasi sekitar seribu massa guna menolak kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 300 persen.
Para pengunjuk rasa menuntut kehadiran Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, untuk bertemu dengan mereka secara langsung pada hari itu. Namun, hingga batas waktu yang ditunggu, bupati tidak juga hadir memenuhi permintaan massa.
Dikutip dari CNNIndoneaia.com, disebutkan seorang juru bicara aksi pada Selasa (19/8/2025) menegaskan kembali tuntutan mereka agar bupati dan wakil bupati turun ke lokasi unjuk rasa.
Menanggapi situasi yang memanas, kepolisian berupaya melakukan pendekatan secara persuasif untuk meredakan emosi massa dan mengajak agar demonstrasi dilakukan secara damai.
Melalui pengeras suara, aparat menyatakan bahwa aksi telah melanggar aturan karena tidak lagi menunjukkan nuansa damai.
Sampai dengan saat berlangsungnya, massa masih tetap berkumpul di depan kantor bupati. Mereka bergantian berorasi menyuarakan penolakan terhadap kenaikan PBB, sementara pihak kepolisian terus melakukan pengawalan ketat. Untuk mengantisipasi perkembangan aksi, sejumlah kendaraan operasional polisi disiagakan di dalam halaman dan sekitar 1.000 personel gabungan TNI dan Polri diterjunkan untuk mengamankan jalannya demonstrasi. (*)
