Sahar dg Sija, Pembongkar Rahasia Racikan Kopi

Siapa yang tak kenal Warung Kopi (Warkop) Dg Sija di Sulsel. Warkop yang telah ‘beranak pinak’ hingga ke setiap kabupaten di Sulsel. Bahkan hingga ke Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Jakarta, dan Jayapura.

Warkop Dg Sija bermetamorfosa menjadi sebuah brand franchise. Meski pengelolaannya masih cukup sederhana, namun franchise Warkop Dg Sija tak kalah dengan frenchise branded lainnya.

Boleh dikata Warkop Dg Sija-lah yang menyebabkan ‘booming’ Warkop di Sulsel. Jumlah jaringannya sendiri sudah di atas angka seratusan. “Jumlahnya saya tidak ingat pasti, ada di rumah catatannya,” ujarnya.
Memang Warkop Dg Sija bukan yang pertama di Sulsel. Terdapat beberapa Warkop yang umurnya jauh lebih tua, sebut misalnya Warkop Dottoro dan Warkop Phoenam. Keduanya jauh lebih dikenal sebelumnya. Tetapi ekspansi usahanya lambat dan bersifat usaha tertutup.

Berbeda dengan konsep yang diterapkan Sahar Sija. Dia yang berhasil mendobrak kekakuan pengelola Warkop yang merahasiakan racikan kopinya. Sahar Sija-lah yang punya jasa besar dalam menciptakan pengusaha-pengusaha Warkop. Dia yang pertama kali memperkenalkan konsep Warkop berjaringan.

Warkop Dottoro dan Warkop Phoenam misalnya, hingga saat ini hanya memberikan kesempatan membuka cabang kepada keluarga dekatnya saja. Mereka membagikan resep racikan hanya kepada keluarga terdekat.

Berbeda dengan Warkop Dg Sija, karena sifatnya sama dengan frenchise, maka siapa saja yang berniat untuk membuka Warkop akan diakomodir. Asalkan mampu membeli konsep frenchisenya.

“Saya tidak pernah merahasiakan resepnya. Kalau ada yang mau buka Warkop, kita bisa bantu, mulai pelatihan, bahan baku hingga spanduk,” ujar Sahar Sija.

Dia menetapkan biaya Rp35 juta hingga Rp40 juta untuk satu jaringan Warkop Dg Sija. Biaya itu hanya untuk pelatihan dan penggunaan brand.

“Di luar dari pembelian bahan baku,” ujarnya lagi.

Dia menjamin, ketika membuka Warkop dengan menggunakan brand miliknya, maka bisa dipastikan akan ramai. “Orang sudah tahu Warkop Dg Sija,” katanya lagi.

Tidak banyak yang tahu, kalau Sahar Sija, yang akrab disapa Daeng Sija, dahulu bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah anak dari seorang masyarakat biasa. Kini, ia tersohor melalui keberhasilannya dalam usaha Kopi Daeng Sija.

Pria kelahiran Maros 31 Desember 1960, saat ini boleh dikatakan sebagai entrepreneur sukses di bidang peracik kopi dan ekspansi Warkop. Padahal, ia berasal dari keluarga ekonomi lemah di sebuah desa terpencil.

Awalnya dia karyawan atau bisa disebut anak buah di salah satu warkop di Makassar sebagai peracik kopi yakni di warkop Dottoro. Lebih kurang 20 tahun mengabdi di warkop yang dimulai pada 1975. Meskipun warkop tersebut milik keluarga, ia berinisiatif membuka warkop sendiri. Caranya, menyisihkan gaji untuk dijadikan modal yang dia dapatkan dari pekerjaaan tersebut. Tidak terlalu banyak, yakni Rp 650 ribu.

Namun, siapa yang sangka keuletannya benar-benar nyata. Ia memiliki warung kopi sendiri dengan racikan khasnya. Sampai saat ini, nama Dg. Sija terkenal di mana-mana.
Awal 2003, ia pun resmi memiliki Warkop pertama di Golagong, Jl Panakkukang. Perjuangannya tidak sia-sia, seiring berjalannya waktu, hingga mencapai puncaknya tahun 2007, ia pun merasakan dampak kerja kerasnya.

Warkop Dg. Sija berdiri lagi di Jl. Lobak, Bontoala Makassar dengan status sebagai owner. “Saya bisa beli ruko sendiri dan saya jadikan tempat tinggal juga,” ucapnya.

Di Makassar, dapat ditemukan di Jl. Boelevard dan di dalam Mal Panakkukang. Tampak jelas Warkop Dg. Sija terpampang sebagai nama depan. Warkop yang minimalis itu selalu ramai dipenuhi pengunjung dari pelbagai kalangan masyarakat yang ingin menikmati segelas kopi.

Cita rasa yang khas dan beda dari kopi lainnya, itulah racikan kopi Dg. Sija. Cara menyeduhkan kopi pun beda, tanpa gula, langsung susu. Manis dan pas, dijamin akan ketagihan.
Daeng Sija mengaku membuka warkop sendiri terinspirasi dari pergaulan dan ingin ke luar dari status menjadi karyawan. Pasang-surut katanya ia tak pernah rasakan, karena manajemen pelayanan dan strategi pemasaran yang tersusun rapi.

“Kalau karyawan sakit, saya langsung turun melayani pembeli,” itu karakternya. Dengan singkat, ia pun berujar, “Jika ingin sukses, jangan menyombongkan diri.”
Hingga saat ini, ia pun sering ditawari membuka ekspansi di usaha lain. Namun, Dg Sija belum minat. Katanya, jiwanya sudah ada di dalam teknis racikan kopi.

“Sampai sekarang saya masih mimpi, kenapa saya bisa jadi bos dan buka banyak cabang hampir seluruh di daerah Indonesia,” ujar dia. Wajar saja kalau banyak orang yang menyebutnya sebagai “tangan dingin” sang peracik kopi.

Sahar Daeng Sija
Lahir : Maros, 31 Desember 1060
Riwayat Pendidikan :
Riwayat Pekerjaan : Usaha jaringan Warung Kopi Dg Sija

Sumber: Buku 100 Tokoh Sulsel 2013

Tinggalkan komentar