Rudianto Lallo, Lahir dari Kampung Terisolir

Rudianto Lallo masih ingat dengan jelas secara detil perjuangannya menempuh pendidikan di tingkat SMA dan universitas dulu.

Dia ingat harus berjalan kaki sepanjang 3 kilometer setiap hari menuju sekolahnya di SMAN 6 Makassar.

Setiap hari dia harus berjalan melalui pematang sawah, lalu melewati pematang empang menuju dermaga. Setelah itu menggunakan sampan menyeberang Sungai Tallo.

Perjalanan belum usai sampai di situ. Dia kembali harus berjalan kaki melewati pematang empang sekitar satu kilometer menuju poros Jl Ir Sutami.

Di situ baru bisa mendapatkan petepete (angkutan kota) menuju SMAN 6 Makassar.

Ironisnya, Pulau Lakkang, kampung halaman Rudianto Lallo, bukanlah sebuah pulau yang berada di tengah lautan. Pulau Lakkang letaknya tak jauh dari pusat aktivitas Kota Makassar, bahkan jika diamati pada peta, dia tepat berada di tengah Kota Makassar.

Pulau kecil ini diisolir oleh liukan Sungai Tallo dan anak-anak sungainya.

Satu-satunya akses ke pulau itu hanya dengan menggunakan sampan atau rakit. Tak ada jembatan di sana.

Tapi RL (begitu dia dipanggil,-red), bisa melewatinya bertahun-tahun. Bahkan mampu mencatatkan prestasi di SMAN 6 Makassar. Tak kalah dengan siswa-siswa lainnya.

Bersama enam orang siswa SMAN 6 Makassar, RL dinyatakan bebas masuk ke Universitas Hasanuddin tanpa harus mengikuti tes pada 2002.

Pilihan pertama jurusan yang diambilnya adalah Ilmu Pemerintahan dan kedua hukum. “Saya diterima di Fakultas Hukum dan karena itulah pilihannya maka saya fokus dan serius di situ,” ujarnya.

RL mengaku, hampir saja dia tak bisa melanjutkan pendidikan di tingkat universitas. Ayahnya, yang menopang ekonomi keluarga dan juga motivator yang selalu mendorongnya untuk sekolah, meninggal dunia saat dia masih kelas dua SMA.

“Kalau tidak bebas tes masuk Unhas. Saya belum yakin akan sekolah. Karena kalau mendaftar di kampus swasta pembayarannya mahal. Saya kurang yakin dengan posisi pendapatan orang tua saya. Ibu saya hanya ibu rumah tangga dan guru mengaji di kampung,” ujarnya.

Maka kesempatan emas yang diperolehnya itu dimanfaatkan sebaik mungkin. Meski tetap harus menjalani proses yang hampir sama saat SMA dulu, yakni berjalan kaki dan menggunakan sampan setiap hari, namun dengan rute yang berbeda. Kalau di SMA dia mengarah ke barat, sementara saat di Unhas dia mengambil rute arah timur.

Setelah kuliah, RL menghabiskan waktunya di kampus lebih banyak di banding di rumah. Selain mengikuti perkuliahan, dia juga aktif di organisasi. Dia juga tak ketinggalan dalam aksi demonstrasi bersama mahasiswa lainnya.

“Nanti kita merasakan bagaimana tinggal di kota saat menjadi aktivis mahasiswa. Tinggal di kos-kosan teman atau di sekretariat,” ujarnya.

RL aktif menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Unhas. Dia tak hanya berkiprah sebagai pengurus biasa, tapi juga sempat menduduki posisi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum.

Dia mengatakan, saat aktif menjadi pengurus di kampus itulah dia banyak belajar bagaimana berorganisasi, bagaimana berinteraksi dengan banyak orang, utamanya dengan para pejabat publik.

“Selama kuliah saya hampir tiap bulan bolak balik Jakarta untuk berbicara gerakan. Makanya saya termasuk orang yang sangat bersyukur bisa jadi aktivis karena di situlah saya bisa melihat dunia nyata. Di situlah saya bisa melihat networking. Di situlah saya bisa berkomunikasi dengan seorang menteri, itu hal biasa. Komunikasi dengan pejabat publik, itu hal biasa,” ujarnya.

Masa-masa menjadi aktivis itu membuat dirinya terlambat menyelesaikan kuliah. “Saya kuliah selama tujuh tahun. Selesai pada 2009. Bukan berarti saya tidak mampu cepat selesai, tetapi saya menikmati masa-masa menjadi pejabat mahasiswa,” katanya.

Nyaris saja RL mendapatkan surat DO, untungnya dia masih ada waktu enam bulan. “Karena saya pernah cuti kuliah pada saat semester tiga. Tidak ada biaya waktu itu,” ujarnya.

Namun pengalaman berorganisasi di kampus itulah yang akhirnya membawanya ke ranah politik. Interaksinya dengan sejumlah pejabat di Jakarta, menjadi jembatan masuk ke partai politik.

Selain sebagai aktivis BEM, RL tercatat pernah aktif sebagai Koordinator Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI), Pendiri Garda Tipikor Fakultas Hukum-Universitas Hasanudin, Ketua Dewan Pendidikan Kota Makassar, serta anggota Dewan Kehormatan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Makassar. Dari almamaternya, ia didaulat sebagai Ketua IKA Unhas Kota Makassar.

Dia juga pernah meraih penghargaan Amanagappa Award dari Persatuan Sarjana Hukum Indonesia (PERSAHI) Sulsel 2007, sebuah organisasi bergengsi di mana di dalamnya ada sejumlah tokoh hukum Indonesia, seperti Professor Ahmad Ali dan Prof Hasby Ali.
Masuk Dunia Politik
Awal mula masuk ke dunia politik ketika dia masih bekerja sebagai Advokat di Law Firm Lucas SH & Partners di Jakarta. Di situ dia bertemu dengan Akbar Faisal, politisi Partai Nasdem. Dia iseng mengajukan diri untuk masuk sebagai pengurus Partai Nasdem.

Di Partai Nasdem, RL menduduki beberapa posisi antara lain sebagai Ketua Biro Hukum DPW Nasdem Sulsel (2013-2015), Wakil Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik/Juru Bicara Nasdem Sulsel (2015-2016), Wakil Ketua Bidang Pemuda, Olahraga, Mahasiswa, dan Koordinator Daerah Nasdem Makassar (2016-sekarang), dan dipercaya sebagai Ketua Bappilu DPW Nasdem Sulsel.

Begitu juga saat bakal menjadi Caleg, RL mengaku dia juga iseng untuk mendaftar sebagai Caleg Nasdem. “Saat menjadi Caleg pada 2014 juga saya iseng. Ternyata lolos,” ujarnya.

Pada Pileg 2014 itu, RL berhasil meraup 2.346 suara. Selanjutnya pada Pemilu 2019, RL mencatatkan perolehan suara yang lebih besar lagi yaitu 5.694 suara.

“Ada peningkatan suara signifikan, artinya kinerja pada periode pertama dapat dinikmati masyarakat sehingga dukungan pada periode berikutnya bisa lebih banyak lagi,” ujarnya yang dikenal dengan Tagline Anak Rakyat.

Saat ini Rudianto Lallo duduk sebagai Anggota DPR RI Komisi III yang membidangi masalah penegakan hukum.

Rudianto Lallo, SH

Tempat/Tanggal Lahir : Ujung Pandang, 4 Juni 1983
Profesi : Politisi-Advokat

Riwayat pendidikan:
SD Neg 109 Kelurahan Lakkang (1990-1996)
SMP Guppi Samata Gowa (1996-1999)
SMA Neg 6 Makassar (1999-2002)
Strata 1 Fakultas Hukum Unhas (2002-2009)

Riwayat Organisasi:
Koordinator Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI)
Pendiri Garda Tipikor FH-Unhas
Ketua Biro Hukum DPW Nasdem Sulsel (2013-2015)
Wakil Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik/Juru Bicara Nasdem Sulsel (2015-2016)
Wakil Ketua Bidang Pemuda, Olahraga, Mahasiswa, dan Koordinator Daerah Nasdem Makassar (2016-sekarang).

Riwayat Pekerjaan:
Advokat 2009-2013
Anggota DPRD Makassar 2014-2019
Ketua DPRD Makassar 2019-2024     Anggota DPR RI 2025-sekarang

Penghargaan:
Penerima Amanagappa Award dari Persatuan Sarjana Hukum Indonesia (PERSAHI) Sulsel (2007).

Sumber : Buku Tokoh Sulsel 2021-2024

Tinggalkan komentar