Mata Ustadz Das’ad Latief merah. Ada bekas air mata di sudutnya. Intonasi suaranya pun tak teratur. Sesekali sesenggukan. Subuh itu, Das’ad tak kuasa membendung rasa haru yang menyeruak dari dada.
Dia berusaha menahan haru ketika mulai membuka ceramah subuh itu. Salam yang diucapkannya agak terbata-bata.
Dia teringat kenangan masa kecilnya dulu saat tamat SD. Saat meminta kepada ayahnya untuk disekolahkan di pesantren. Namun jawaban ayahnya tak sesuai keinginannya. Ayahnya tak sanggup menyekolahkan Das’ad di pesantren.
Sekolah di pesantren saat itu memang jauh lebih mahal dibandingkan di sekolah umum. Di pesantren selain biaya sekolah, juga ada biaya asrama. Biaya makan.
“Lebih mahal, dua kali lipatnya lah dari sekolah umum,” kata Das’ad yang terdokumentasi di channel youtubenya @DasadLatif pada Februari 2021 lalu.
Das’ad kecil punya keinginan untuk sekolah di pesantren. Belajar agama. Dia ingin masuk ke pesantren DDI Kaballangang yang diasuh oleh Alm. KH Abdurrahman Ambo Dalle.
- Aksi Cepat BPBD, Pohon Tumbang di Jalan Langsung Dibersihkan
- BPBD Makassar Tegaskan Siaga 24 Jam Usai Instruksi Wali Kota
- BPBD Makassar Pimpin Pencarian Warga Tenggelam di Waduk Nipa-nipa
- Menteri Agama Luncurkan Kampung Keren dan Gerakan Eco-Pesantren di Pesantren Al-Ikhlas Ujung
- Cuaca Ekstrem Mengintai, Wali Kota Makassar Instruksikan Jajaran Siaga 24 Jam
Karena mendapat jawaban seperti itu, Das’ad lalu mengadu kepada tuhannya. Melalui Shalat Tahajjud. Dia berkeluh kesah. Dia protes.
“Saya ngadu kepada Allah. Ya Allah.. Kenapa bapak saya miskin. Saya tidak minta motor. Saya tidak minta mobil. Saya mau sekolah agama,” ujarnya di video lainnya yang dipublish @SLQChannel pada Februari 2021 lalu.
Karena tak mendapat restu dari ayahnya, keinginan untuk masuk pesantren pun lambat laun tak dihiraukannya lagi. Das’ad akhirnya melanjutkan sekolah ke SMP Negeri Bungi, Pinrang. Jaraknya hanya sekitar 2 km dari rumahnya.
Setamat dari situ dia lalu memilih hijrah ke Makassar. Dia lanjut ke SMA Negeri 4 Makassar. Kembali ke sekolah umum. Hilang sudah keinginan sekolah di pesantren.
Saat kuliah, Das’ad mengambil jurusan Komunikasi di Fakultas Sospol Unhas, dua tahun lamanya dia merahasiakan kuliah di Sospol kepada ayahnya. Bukan apa-apa, ayahnya menilai politik itu identik dari pekerjaan suka berbohong.
Akhirnya dia pun mengikuti permintaan ayahnya. Dia mendaftar kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Alauddin Makassar yang sekarang berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Alauddin.
Awalnya dia ingin memilih jurusan Pendidikan Agama di Fakultas Tarbiyah, agar bisa jadi guru agama. Namun karena faktor kesalahan teknis, dia malah memilih jurusan Peradilan Agama, di Fakultas Syariah. Dan dia lulus di fakultas itu.
Akhirnya dia menjalani kuliah di dua kampus. Satu di kampus merah satunya lagi di kampus hijau. Di Unhas dia selesai tepat waktu, 3 tahun 8 bulan. Sementara di IAIN dia harus menjalaninya selama 7 tahun. Bahkan hampir Drop Out (DO).
Dia mengaku sempat dipanggil oleh Dekan Fakultas Syariah yang dijabat oleh Prof Dr Baso Mido saat itu. Dia diberondong pertanyaan alasan kenapa belum juga menyelesaikan kuliah. Saat itu, Das’ad memang masih punya sekitar 20 mata kuliah yang tertinggal.
“Beliau sempat bertanya, kamu kan yang sering menulis opini di Harian Fajar. Di situ tertulis bahwa kamu adalah mahasiswa pascasarjana. Kenapa bisa, sementara kuliah S1 belum selesai,” kata Das’ad meniru pertanyaan Dekan Fakultas Syariah.
Das’ad pun menjawab, apa yang tertulis di koran itu tidak salah. Saat itu dirinya memang masih berstatus mahasiswa pascasarjana Unhas. Dia mengakui tengah studi di dua universitas.
“Saya katakan bahwa saya terlambat selesai bukan karena bodoh. Tetapi karena persoalan waktu yang harus terbagi,” ujarnya.
Akhirnya, dekannya pun memberikan dia kesempatan untuk menyelesaikan seluruh mata kuliah yang tertunda. “Alhamdulillah saya kemudian bisa selesai dan melanjutkan S2. Lalu terangkat menjadi dosen dan lanjut S3,” katanya.
Salah satu kesyukuran terbesarnya karena meski dia tak menikmati sekolah di pesantren, namun dia bisa menjadi dai. Berceramah ke berbagai tempat.
Awal Mula Jadi Dai.
Sebelum menjadi dai kondang, Das’ad Latif pernah menjalani beragam pekerjaan. Mulai dari loper koran, cleaning Service, hingga akhirnya menjadi dosen. Semua dijalaninya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Dia mengingat pernah bekerja di salah satu travel umrah, sebagai seorang Cleaning Service. Di tempat itu dia tak meminta bayaran, tetapi cukup namanya diikutkan dalam undian berhadiah umrah yang digelar di travel itu. Namun sampai akhirnya Das’ad berhenti bekerja di situ, namanya tak kunjung menang undian.
Awal mula menjadi dai, ketika Dia masih aktif sebagai remaja masjid di sekitar pemukimannya. Saat itu petugas penceramah yang harusnya mengisi acara, berhalangan hadir. Akhirnya ditunjuklah Das’ad untuk naik ke mimbar dan menjadi penceramah pengganti.
“Saya masih ingat waktu itu saya mencoba mengadopsi ceramah Zainuddin MZ,” ujarnya.
Gaya ceramahnya langsung disuka oleh para jamaah. Karena kepiawaiannya di atas mimbar itulah akhirnya dia mulai dikenal dan sering mengisi tausiah di masjid itu. Lama kelamaan mulai dipanggil di masjid-masjid lainnya. Hingga akhirnya mulai terkenal di Makassar.
Ceramah agama Das’ad Latif memang disampaikan dengan gaya yang unik dan khas. Tak sekedar menceritakan hal lucu saja, tetapi penuh dengan pesan-pesan moral. Uniknya, tak jarang Das’ad menyindir jamaah dalam ceramahnya. Tapi disampaikan dengan gaya yang lucu, sehingga yang disindir malah tertawa mendengarnya.
Dia cukup identik dengan istilah Gaspol karena ulahnya itu.
Punya 2,58 Juta Subscriber Youtube
Kepiawaiannya berkomunikasi dengan banyak orang bisa dibuktikan dengan penerimaan orang di seluruh Indonesia. Meski terkadang menggunakan istilah-istilah Bugis Makassar dalam ceramahnya, namun dapat diterima oleh berbagai suku di seluruh Indonesia. Setiap kali berceramah, jamaahnya selalu membludak.
Wajar jika Das’ad bisa masuk dalam jajaran lima besar ustadz dengan pengukut terbanyak di youtube. Di youtube, akun @DasadLatif tercatat memiliki sebanyak 2,58 juta subscriber. Video-videonya ditonton sebanyak 276.558.188 kali. Akun Youtubenya itu baru dibuat pada 2017 lalu.
Berdasarkan penelusuran penulis pada Januari 2023, jika diurut berdasarkan data jumlah subscriber, maka Das’ad Latif berada pada urutan ketiga di bawah Ustadz Abdul Samad yang memiliki 3,24 juta subscriber. Di atasnya ada Ustadz Adi Hidayat @AdiHidayatOfficial dengan jumlah subscriber mencapai 3,37 juta.
Ustaz Dr. H. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D
Tempat/Tanggal Lahir : Bungi, Pinrang, 21 Desember 1973
Profesi : Dai – Dosen
Riwayat Pendidikan
SD Negeri Inpres 169 Pinrang (1980–1986)
SMP Negeri Bungi, Pinrang (1986–1989)
SMA Negeri 4 Ujungpandang (1989–1992)
S1 Ilmu Komunikasi Unhas (1998)
S1 Peradilan Islam IAIN Alauddin Makassar (2000)
S2 Ilmu Komunikasi Unhas (2000-2002)
S3 Ilmu Komunikasi Universitas Kebangsaan Malaysia (2016)
S3 Ilmu Syariah UIN Alauddin Makassar (2018)
Riwayat Pekerjaan :
Dosen PNS Unhas sejak 1 April 2006
Dosen STIKOM FAJAR Makassar
Dosen STIE AMKOP Makassar
Dosen Universitas Islam Makassar
Dosen STIM NITRO Fajar Makassar
Dosen Universitas Indonesia Timur Makassar
Riwayat Organisasi
Ketua Remaja Masjid Jami’ul Ikhsan Perumnas (1996–1999)
Pengurus Badan Kontak Pengurus Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sulawesi Selatan (2000–2005) Imam Masjid Hikmah Makassar (2000–2002)
Ketua I Kesatuan Pelajar Mahasiswa Pinrang (2000–2003)
Pengurus Forum Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2000–2002)
Pengurus Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Organisasi Wilayah Sulawesi Selatan (2006)
Sumber: Buku 100 Tokoh Sulsel 2021-2023
