Sebuah inspeksi mendadak (sidak) yang rutin berubah menjadi momen mengharukan ketika Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menginjakkan kaki di UPT SPF SD Inpres Kampus IKIP, Selasa (18/11/2025.

Bagi orang nomor satu di Kota Makassar ini, kunjungan kerja tersebut adalah sebuah “pulang kampung” – kembali ke tempat di mana fondasi pendidikannya pertama kali dibangun.
Jejak Pendidikan yang Terkikis Waktu
“Pagi ini, saya berinisiatif mau pergi lihat ini sekolah saya dulu saya tempati belajar menimba ilmu,” ujar Munafri dengan mata berbinar, menyapu pandangannya ke seluruh sudut sekolah yang tak pernah ia kunjungi lagi sejak tamat pada 1987 silam.
Appi – sapaan akrabnya – seperti berubah menjadi bocah kecil lagi saat menyusuri lorong-lorong sekolah, mengintip ruang kelas, dan berdiri di halaman yang dulu menjadi saksi bisu tawa dan candanya bersama teman-teman seangkatannya.

“Saya habiskan bermain di sini. Iya dulu ini cuma sekolah, terus di belakang ini lapangan,” kenangnya, jari menunjuk area yang kini mungkin sudah berubah wajah.
Lebih dari Sekadar Nostalgia
Namun kunjungan ini bukan sekadar perjalanan nostalgia. Di hadapan guru dan jajaran sekolah, Munafri dengan rendah hati memastikan keaslian data ijazah dan statusnya sebagai alumnus sekolah tersebut dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Sebuah langkah yang mencerminkan transparansi dan integritas pemimpin.
“Saya punya ijazah SD Inpres IKIP. Saya di SD ini masuk sekolah, dan tamat tahun 1987,” tegas mantan CEO PSM itu, menegaskan jejak pendidikannya yang jelas dan terdokumentasi.
- UMI-Pemkot Makassar Perkuat Kolaborasi Kesehatan Berbasis Interprofessional Education
- HUT ASITA ke-55, Aliyah Mustika Ilham Tegaskan Komitmen Pemkot Makassar Kembangkan Pariwisata
- Sulsel Fokus Selesaikan 6 Kasus Sengketa Lahan Strategis, Libatkan Jaksa Khusus
- Arogansi Amerika dan Kenaifan Dunia Internasional
- Pemprov Sulsel Menang Kasasi di MA, Gubernur Sulsel: Alhamdulillah Berkah-Nya untuk Warga Manggala
Dari Bangku SD ke Kursi Wali Kota
Perjalanan pendidikan Munafri memang layak dicatat. Dari bangku SD Inpres IKIP (1981-1987), ia melanjutkan ke SMP Negeri 3 Makassar (1987-1990), SMA Negeri 2 Makassar (1990-1993), hingga meraih gelar sarjana di Universitas Hasanuddin (1993-1999). Sebuah lintasan pendidikan yang membawanya dari siswa kecil menjadi pemimpin kota metropolitan.
Komitmen Nyata di Tengah Kendala Kepemilikan
Meski sekolah ini berada di bawah naungan Universitas Negeri Makassar (UNM), bukan Pemkot Makassar, Munafri tak tinggal diam.
“Apakah pemerintah bisa intervensi? Karena di belakang lahannya masih cukup luas untuk dikembangkan. Banyak sekali bisa dibikin. Bisa dibikin sentra untuk kesenian atau kegiatan lain untuk anak-anak,” ujarnya penuh antusias.
Ia juga menyoroti persoalan banjir yang kerap melanda kawasan tersebut. “Yang paling penting ini naik terus karena banjir. Jadi mungkin perhatian lebih ekstra. Nanti kita akan bicara, saya coba bicara dengan rektor,” janjinya.
Pelajaran dari Sebuah Kunjungan Singkat
Kunjungan Munafri ke SD masa kecilnya ini mengajarkan banyak hal. Bukan hanya tentang pentingnya mengenang akar pendidikan, tetapi juga tentang komitmen pemimpin terhadap dunia pendidikan tanpa terbatas sekat birokrasi. Sebuah pesan kuat bahwa kepedulian terhadap masa depan generasi penerus harus melampaui batasan institusi.
Momen ini mengingatkan kita semua bahwa di balik jabatan dan kekuasaan, setiap pemimpin tetaplah manusia yang punya sejarah, punya tempat di mana karakter dan impiannya pertama kali terbentuk. Dan bagi Munafri, SD Inpres IKIP adalah “rumah pertama” yang akan selalu membekas dalam perjalanan hidup dan kepemimpinannya. (*)
