
H Arief Mone punya prinsip yang kuat dalam menggeluti dunia usaha yaitu punya konsep yang jelas dalam memulai dan menjalankan bisnis, utamanya bisnis properti.Â
Itulah yang menjadi pengangan awal mantan Ketua Realestate Indonesia (REI) Sulsel ini dalam menjalankan bisnisnya.
Bagi Arief dunia properti merupakan pilihan hidup yang dinilainya tak hanya memberikan nilai profit saja, melainkan juga ada nilai sosial di dalamnya. Â
Perjalanannya menggeluti dunia properti dimulai saat ia kuliah. Program studi yang dipilihnya punya keterkaitan yang sangat erat dengan bisnisnya saat ini.
Dia menuntut ilmu di Jurusan Arsitektur, Unhas di awal dekade 1990-an. Arief Mone sudah piawai mendesain dan menggambar, jadi secara tidak langsung hal itu punya peran dalam membentuk karakternya sebagai seorang pengusaha property.Â
Saat masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah, Arief sudah sering menerima project pemerintah, project swasta dan dari orang untuk desain gambar. Suatu waktu ada seorang dosen yang kebetulan sedang mengerjakan proyek konstruksi lalu memintanya agar dibuatkan desain dan gambar.
“Ketika itu saya masih duduk di semester 4. Untuk satu gambar saya diberi imbalan Rp50 ribu,” ungkapnya.
Karena dinilai mempunyai prestasi yang bagus, Arief pun sempat menjadi dosen yayasan di Universitas 45 dan UIN. Namun, hal itu tidak mampu membuatnya betah dan bertahan lama.
“Dalam hidup kadang kita harus memilih. Saya lebih menikmati menjadi seorang pengusaha property karena sesuai dengan bidang ilmu yang saya pelajari semasa kuliah sehingga dapat diimplementasikan dalam dunia kerja yang saya geluti. Semasa kuliah dulu, saya sudah belajar tentang konsep-konsep dalam menciptakan satu produk seperti perencanaan dan desainnya, jadi ketika memasuki dunia property rasanya tidak sulit sebab kita sudah pernah digembleng,” katanya.
Dalam dunia arsitektur ada namanya kritik arsitektur yakni hasil karya yang bagus dan hasil kerja yang bisa diterima oleh banyak orang, jadi persepsi orang bisa beda-beda.
“Untuk masuk ke dalam dunia usaha serta bisnis kita pun harus punya konsep yang jelas. Di situlah tantangannya,” terangnya.
Pria kelahiran Pangkep, 27 November 1972 ini mengaku sejak SD dan SMP sudah tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Arief menimba ilmu di Makassar sedangkan orang tuanya menetap di Pangkep.
“Memang sejak SD dan SMP saya tidak tinggal dengan orang tua. Saya sekolah di Makassar dan orangtua di kampung. Selepas SMP barulah saya kembali ke kampung dan bertemu orang tua karena saya sekolah di Maros. Hal itu pula yang secara tak langsung telah mendidik dan membentuk pribadi saya untuk mandiri,” tandasnya.
Nilai SosialÂ
Menurutnya, sebenarnya dalam dunia property terbagi 3 segmen yakni segmen subsidi, menengah dan menengah atas.Â
“Segmen subsidi ini punya unsur sosial dan kepedulian terhadap masyarakat berpenghasilan rendah. Saya membangun rumah di semua segmen tapi masing-masing mempunyai kelebihan dan rasa yang beda. Kalau menengah atas kami dapat meraup keuntungan besar,” ujarnya.
Menurutnya, membangun rumah subsidi punya nilai sosial yang lebih, karena ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berpenghasilan rendah. “Saya rasa punya nilai yang lebih besar, rasa bermanfaat bagi orang lain,” katanya.
Sebenarnya setiap usaha pasti punya kendala, tinggal seberapa mampu kita dapat memanage semua kendala. Orang dapat mencapai kesuksesan ketika kendala dapat menjadi sumber potensi. Begitu pula halnya pada bisnis property, kendala utamanya ada pada harga lahan dan ini sering menjadi problem karena tidak ada solusinya sebab yang berlaku adalah hukum pasar.
“Saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi pengusaha property apalagi menjadi ketua REI. Saya membangun bisnis dan karir di organisasi itu mengalir begitu saja. Saya tak pernah memaksakan sesuatu. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik dan membantu orang. Sebab saya menganggap kerja itu sebagai ibadah. Kunci kesuksesan itu adalah kita harus punya semangat kerja atau kemandirian yang kuat sehingga semua tantangan bisa dihadapi”. tuturnya.
Meski aktivitasnya sangat padat, Arief tetap memanfaatkan waktu luang bagi keluarganya. “Saya menerapkan disiplin waktu dan disiplin keuangan. Kalau libur, saya benar-benar menyempatkan waktu luang untuk keluarga. Jadi di saat sibuk keluarga sangat memahami,” pungkasnya. (*)
Ir. H. Muh. Arief Mone, MT
 TTL    : Pangkep, 27 November 1972
 Istri   : Jaya Sukasba, ST
Anak  :
1. Riska Safitri Arief
2. Muh. Rifki Safitra Arief
3. Riski Saputri Arief
Riwayat Pendidikan :
1. SMA Negeri I Maros
2. Teknik Arsitektur Unhas (S1)
3. Teknik Arsitektur (S2) Unhas
Nama Perusahaan
1. PT Arista Jaya
2. PT Tunas Baru Sulawesi
Riwayat Organisasi
1. Wakil Ketua Umum DPP REI Bidang percepatan pembangunan Perumahan Subsidi
2. Ketua DPD REI Sulsel
3. Wakil Ketua Kadin Sulsel
4. Wakil Ketua Apindo
 5. Wakil Ketua Hipmi
Sumber: Buku Tokoh Sulsel






