
Berdiskusi dengan Prof Dr Qasim Mathar sama indahnya dengan membaca tulisannya. Opininya yang rutin dimuat di Harian Fajar. Ada ledakan-ledakan di sana. Ada lecutan api di kepala yang terkadang membolakbalikkan nalar.
Saya menemuinya di Pesantren Matahari yang dibangunnya. Tak jauh dari pinggir Kota Makassar. Mungkin lebih tepat jika dikatakan berada di bibir Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa. Karena letaknya berada di depan pintu gerbang perbatasan kabupaten itu, di Moncongloe, Maros.
Saya diterima di ruangan kantor pesantren itu pada satu sore usai hujan gerimis. Hanya dia seorang di ruangan itu. Tengah menyeduh kopi instan.
Sudah empat tahun pesantren itu berdiri. Siswanya kini sudah masuk ke kelas 1 SMA. Prof Qasim Mathar pun dengan setia menunggui sekolah binaannya itu. Dia sehari-hari menghabiskan waktunya di situ. Menjadi ‘guru’ dalam mencerahkan pemikiran para santrinya.
“Guru sebagaimana di kelas SMP atau SMA, tentu tidak. Tetapi rutin memberikan pencerahan usai salat,” ujarnya.
Aktivitas mengajar di pesantren itu adalah salah satu agenda kecil yang rutin dikerjakan di usianya yang sudah masuk 79 tahun. Dia masih aktif berceramah di forum-forum keagamaan dan majelis pengajian. Begitu juga dengan aktivitas menulisnya tetap dilakoni. Rutin setiap pekan di beberapa media.
Tak ada tanda-tanda surut. Atau keinginan untuk pensiun dari dunia intelektual. “Sepanjang fisik saya masih bisa, maka akan tetap saya lakukan. Bahkan kalaupun fisik sudah tak mampu tapi saya masih sadar, maka saya akan tetap mengerjakan ini,” ujarnya.
Dia memang sudah menerima Surat Keputusan (SK) pensiun dari pemerintah. Namun, dalam dirinya tak ada kata pensiun bagi seorang ‘guru’. Pensiun hanyalah administrasi. Tetapi menjadi guru dilakukan sepanjang hayat.
“Saya tak suka disebut pensiun. Banyak teman-teman yang sudah pensiun enggan lagi mengenakan titel profesor di depan namanya. Tapi bagi saya tidak. Saya lebih senang dipanggil profesor, karena itu adalah gelar sebagai seorang guru yang mengajarkan pencerahan kepada generasi bangsa,” tambah dia.
Menurutnya, tak ada hal yang berbeda dirasakannya usai menerima SK pensiun dibandingkan sebelumnya. Aktivitasnya tetap sama menjadi seorang guru. Seorang intelektual. “Yang berbeda hanyalah pada tunjangan saja,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Bagi dia, tak ada kata pensiun bagi tokoh intelektual. Karena tokoh intelektual itu bagai matahari. Memberikan cahayanya untuk menghidupkan tumbuh-tumbuhan. Memberikan kehangatan bagi makhluk hidup. Sumber energi. Dan tenggelam untuk memberikan kesempatan beristirahat bagi penghuni bumi.
Filosofi matahari itu pula lah yang menjadi alasan sehingga ia menamai pesantrennya dengan nama Matahari. “Ini tidak ada hubungannya dengan Muhammadiyah. Semata-mata karena ingin memaknai positif dari matahari bagi kehidupan,” ujarnya.
Namun dia tak menampik jika ada pihak yang mencoba menghubungkan nama itu dengan nama fam Mathar yang selalu menyertai penulisan namanya. “Bisa juga seperti itu. Tetapi intinya bagaimana memaknai secara positif Matahari,” ujarnya.
Kontroversial
Dalam berbagai kesempatan dan berbagai karya tulis, Qasim Mathar sering kali membuat audiensi terpancing karena pernyataannya yang kadang kala kontroversial. Pernyataan yang bisa membuat nalar seseorang tiba-tiba terlonjak.
Hal itu sengaja dilakukannya. Dia ingin mengajak para audiensi untuk terfokus pada satu persoalan yang akan dibahasnya. Pernyataan-pernyataan kontroversial itu digunakannya sebagai jembatan agar audiensi ‘betah’ melalap isi pikirannya.
Hal itu memang diakuinya sering kali terbukti. Cukup ampuh menyita perhatian audiensi.
Dia mengingat, satu ketika saat menjadi pembicara di sebuah forum seminar di Gedung IMMIM yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Sulsel. Hadir pula sejumlah pejabat di tempat itu. Ada juga Pangdam yang hadir mengikuti seremoni pembukaan kegiatan itu.
Biasanya usai seremoni pembukaan, para pejabat langsung meninggalkan acara karena memiliki agenda yang padat. Namun hari itu para pejabat tak langsung meninggalkan ruangan. Termasuk Pangdam. Bahkan dengan setia mendengarkan pidato Qasim Mathar hingga selesai dan masuk pada
sesi tanya jawab.
Saat ceramah, Qasim Mathar memang sempat mengeluarkan statement bahwa mudah-mudahan dia masih hidup dan menyaksikan umat Islam itu salat dan Kakbah itu ada di bawah pantat mereka.
Pernyataan itu sontak menyita perhatian, bahkan Pangdam pun tinggal dan menanyakan apa maksud statement itu. “Saya jawab. Begini Pak Panglima. Sudah lama orang mumuja negara-negara maju. Amerika sudah lama mendarat di bulan. Ada Rusia ada Cina, Jepang dan Korea. Kita tak ada.
Saya bermimpi kita bangsa Indonesia dan umat Islam yang besar juga melakukan hal yang sama. Menjadi astronot dan melesat ke sana,” ujarnya.
Dia menganalogikan bahwa astronot itu tengah duduk di kursinya di stasion angkasa dan tidak dapat meninggalkan tempatnya itu. Sementara tiba waktunya salat, sebagai seorang muslim yang baik maka dia akan melaksanakan ibadah itu. Tepat di atas bumi. “Kalau dia melihat ke bawah, bumi tepat di bawah pantatnya,” ujarnya.
Menurutnya, pernyataan-pernyataan ekstrem seperti itu lanjutnya disampaikan bukan inti atau utama. Tetapi dijadikannya sebagai metode untuk memfokuskan perhatian orang terhadap apa yang ingin diperbincangkan.
“Tetapi kalau mereka mau mendiskusikan, saya jelaskan. Nah sekarang terserah, apakah sadar mau menggunakan pernyataan itu asalkan sudah mengerti penjelasan itu atau saudara mau melunakkan. Terserah saja,” ujarnya.
Dididik untuk Menjadi Ilmuwan
Qasim Mathar mengaku dirinya dididik sejak kecil untuk terbiasa dengan dunia keilmuan. Dibiasakan menggauli bacaan-bacaan yang bisa membangun pemikiran.
Di usia yang masih sangat dini, yakni saat belajar di sekolah Rakyat (SR) di Makassar, Qasim Sudah diperkenalkan dengan media.
Ayahnya, Mahmud Mathar, yang membiasakan anak-anaknya untuk membuka wawasannya melalui Koran Abadi milik Masyumi dan majalah anak Si Kuncung.
Ayahnya membiasakannya untuk ‘hidup’ di dunia intelektual. Sehingga hal itu yang mendorong Qasim untuk terus menuntut ilmu kedepannya.
Mahmud Mathar bukanlah seorang dosen atau ilmuwan. Dia adalah seorang pedagang. Qasim mengingat ayahnya memiliki toko di Pasar Butung. Di sanalah ayahnya berdagang.
Namun aktivitas dagang di Makassar itu berhenti saat Qasim duduk di Kelas 5 SR. Karena persoalan ekonomi, ayahnya memilih pulang kembali ke kampung halaman di Sidrap.
Di Sirap dia lalu menyelesaikan pendidikannya di SD dan SMP. Setelah itu dia kemudian memilih lanjut di Pendidikan Guru Agama Lengkap (PGAL) Muhammdiyah Rappang. Di saat yang bersamaan, Qasim juga ikut sekolah di Pesantren Muhammadiyah Sulsel pada sore harinya. Di situ dia bertemu dengan siswa lainnya yang berasal dari berbagai kabupaten di Sulsel. Meski lokasinya di Rappang,, namun pesantren ini berskala Sulsel.
Setamat dari PGAL, Qasim lalu hijrah ke Makassar. Dia memilih mendaftar ke IAIN Alauddin.
Rencananya dia akan memilih jurusan adab. Dia berminat untuk memperdalam pengetahuannya di situ. Namun setelah berkonsultasi dengan Prof Dr AGH Habib Abdurrahman Shihab yang menjabat Rektor IAIN Alauddin saat itu dan tak lain memiliki hubungan kekerabatan dengan Qasim Mathar.
Prof Rahman menyarankannya untuk mengambil jurusan Ushuluddin. Kenapa bukan Adab?, alasannya karena saat itu Jurusan Adab masih tergolong baru dan belum diketahui bentuknya bagaimana dan seperti apa pada waktu itu.
“Setelah mendengar saran beliau, saya langsung menuju ke Fakultas Ushuluddin, mendaftar dan diterima sebagai mahasiswa,” ujarnya.
Saat kuliah inilah Qasim Mathar menghabiskan waktu sekitar 17 tahun untuk mengambil gelar Bachelor of Art (BA) dan Doktorandus (Drs). Cukup lama. Itu karena waktunya memang lebih banyak di sita pada kegiatan organisasi di HMI.
“Saya selalu sampaikan kepada mahasiswa saya atau anak-anak saya, jangan mencontoh saya seperti itu,” ujarnya.
BIODATA:
Prof. Dr. H. Moch. Qasim Mathar, M.A.
Tempat /Tanggal Lahir : Makassar, 21 Agustus 1947
Istri : St Nursiah Hamid
Profesi : Guru Besar
Riwayat Pendidikan :
PGAL Muhammadiyah Rappang 1967
S1 IAIN Alauddin 1984
S2 IAIN Syarif Hidayatullah
S3 IAIN Syarif Hidayatullah (1997)
Riwayat Pekerjaan :
Guru Besar Universitas Islam Negeri Makassar
Kolumnis di beberapa media cetak






