
MAROS – Semangat Ramadan 1447 H di Kabupaten Maros tahun ini terasa berbeda. Sebuah inisiatif kolaboratif bernama Kampung Ramadhan Maros resmi dibuka pada Rabu (25/2/2026) dan akan berlangsung hingga 15 Maret 2026. Acara yang digelar di kawasan Warkop Tepi Sungai ini tidak hanya menghadirkan nuansa religius, tetapi juga menjadi ruang aktualisasi ide dan kreativitas anak muda.
Pembukaan ditandai secara simbolis oleh Prayitno, Staf Ahli yang mewakili Bupati Maros. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi tinggi inisiatif masyarakat yang mengedepankan kemerdekaan berkreasi.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena mengedepankan kemerdekaan berkreativitas dan aktualisasi ide. Ini penting di tengah masyarakat yang daya bacanya masih rendah dan kreativitas yang perlu terus diasah. Jangan sampai budaya ‘aji mumpung’ justru lebih kental daripada semangat berbagi di bulan suci,” ujar Prayitno.
Bukan Sekadar Populis, Tapi Berdampak Nyata
Hadir pula sejumlah tokoh pemuda dan organisasi kemasyarakatan, termasuk Ketua BKPRMI Sulsel, Asri Said, yang menyampaikan pandangan kritisnya. Ia menegaskan bahwa kegiatan kepemudaan saat ini harus berorientasi pada dampak luas, bukan sekadar popularitas.
“Warkop itu bisa jadi gudang idealis. Kita harus menghindari budaya sekadar populis. Kegiatan kekinian harus berdampak luas. Ormas kepemudaan wajib mengutamakan formulasi kegiatan yang produktif, bukan sekadar seremonial dan simbolik semata demi menjaga kesucian bulan Ramadan,” tegas Asri Said.
Ia juga menyoroti event-event yang dinilai lebih banyak mudarat, seperti festival beduk yang kerap memakan korban jiwa.
“Pemerintah daerah harus berani mengevaluasi event yang lebih banyak mudaratnya. Jangan sampai kegiatan yang seharusnya ibadah malah menimbulkan korban,” imbuhnya.
Sementara itu, pendiri Warkop Tepi Sungai sekaligus Ketua Gerakan Rakyat Maros, Andi Iqbal Dwi, menegaskan bahwa Kampung Ramadhan ini lahir dari semangat kemandirian dan kebermanfaatan.
“Kami mengapresiasi kegiatan yang lahir dari kemandirian dan mengedepankan kebermanfaatan. Ini bukti bahwa anak muda Maros bisa berkarya tanpa selalu bergantung pada anggaran pemerintah,” ujarnya.
Senada dengan itu, Arbi, atau sapaan akrab Daeng Jhon, memaparkan bahwa keberadaan warkop kini memiliki posisi tawar yang strategis.
“Citra warkop akan memiliki bargaining position yang kuat jika diisi dengan kegiatan kreatif, edukatif, dan menjadi wadah perjuangan yang lebih riil dan terukur input serta outputnya. Ini ruang aktualisasi yang nyata,” jelas Arbi.
Kursus Bahasa Gratis hingga Peluang Kerja ke Jepang
Salah satu program unggulan yang menarik perhatian adalah kursus tiga bahasa gratis (Arab, Inggris, dan Jepang) yang telah berlangsung di Warkop Tepi Sungai. Program ini terbuka untuk umum dan bahkan telah diikuti peserta dari luar Maros, seperti dari Sudiang, Makassar.
Menariknya, Warkop Tepi Sungai telah menjalin kerja sama dengan agen resmi penyaluran tenaga kerja ke Jepang. Mereka menargetkan pendataan 1.000 pemuda-pemudi Maros yang berminat bekerja ke negeri sakura tersebut.
Mengusung tema “Berjaya, Berjamaah dan Berbagi tanpa Batas”, Kampung Ramadhan Maros menghadirkan beragam aktivitas utama, antara lain:
· Porena UMKM: Pameran produk UMKM lokal
· Tebus Murah: Program tebus murah untuk masyarakat
· Festival Lagu Religi Pelajar: Festival musik religi bagi pelajar
· Pelatihan bagi Pelaku UMKM: Peningkatan kapasitas pelaku usaha mikro
· Bag-Bagi Takjil: Pembagian takjil setiap sore
· Buka Puasa Bersama: Dirangkaikan dengan kuliah tujuh menit (kultum)
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai organisasi kepemudaan dan keagamaan, yakni BKPRMI, Masata, HPI, Gerakan Rakyat, serta didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Maros dan Baznas Maros.
Para inisiator berharap pemerintah dan masyarakat Maros terus mendukung setiap kegiatan yang memiliki visi misi produktif dan berkelanjutan, bukan sekadar ajang popularitas semata.
“Kami ingin Kampung Ramadhan ini jadi model bahwa bulan suci bisa diisi dengan kegiatan yang tidak hanya ibadah ritual, tapi juga ibadah sosial dan pemberdayaan ekonomi. Ini wujud nyata kolaborasi untuk Maros yang lebih baik,” tutup Andi Iqbal. (*)






