Puang Makka atau lengkapnya Abdul Rahim Assegaf Puang Makka adalah tokoh kharismatik yang
memiliki banyak pengikut. Tersebar di seluruh wilayah Indonesia, bahkan mancanegara.
Dia merupakan pemimpin tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassari ke-duabelas menggantikan
ayahnya Syeikh Sayyid Djamaluddin Assegaf Puang Ramma seorang ulama kharismatik dan memiliki
pengaruh yang sangat kuat di Sulsel.
Puang Ramma, begitu ayahnya dipanggil, adalah guru pertama Puang Makka. Dia mengidolakan dan
menjadikannya sebagai guru dalam menimba ilmu agama.
“Jadi saya memulai itu dengan idola. Idola saya ya abah saya. Abah saya itu Mursyid Tarekat Khalwatiyah. Abah saya itu politisi ulung sejak 1955, pemilu pertama. Abah saya sudah tokoh nasional. Sudah menjadi anggota konstituante bersama KH Muh Ramli,” ujarnya.
Kiprah Puang Ramma di dunia politik dan dakwah, menggugah hati Puang Makka untuk mengikuti
jejak sang abah. Dia kagum pada kiprah abahnya. Kekagumannya itu dimulai saat sering melihat
langsung abahnya berpidato. Dia memuji kemampuan abahnya berpidato di mimbar dengan berapi-api.
“Kalau saya mengantar bapak, saya lihat dia pidato di atas. Saya bilang wah jagonya bapakku.
Jagonya abbaku. Sampai saya senang. Saya idolakan karena dia orator yang membuat saya
mengambil klisenya (gambar negatif pada film potret,-red). Saya tidak idolakan yang lain-lain, abah
yang saya idolakan karena melihat beliau paripurna. Beliau bagus. Orator, politisi, ulama dan beliau
mursyid tarekat,” kenangnya.
Kekagumannya kepada sang ayah inilah yang mendorongnya mengikuti jejaknya di tengah
masyarakat. Termasuk mengikuti cara menuntut ilmu agama yang langsung belajar dari ulama-ulama
besar.
Puang Makka juga menerapkan konsep belajar agama secara langsung dengan guru. Face to face.
Duduk berhadapan langsung dengan ulama-ulama besar yang dijadikannya sebagai guru. Puang
Makka lebih memilih gaya belajar agama seperti ini dibanding mengikuti jalur pendidikan formal.
“Perguruan saya itu seperti ini, mengaji tudang atau duduk. Saya lebih senang belajar seperti ini.
Duduk langsung berhadapan dengan guru. Lebih kental ilmu masuk kalau saya posisi begini,” ujarnya.
Sejumlah ulama besar di nusantara menjadi guru langsung Puang Makka. Mulai dari Maulana Habib
Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Pekalongan, Habib Husein al-Habsy di Probolinggo, Krakasan,
Habib Husen Assegaf di Gresik, dan KH Mujni di Purwokerto, KH Mufid Mas’ud di Pandanaran, KH
Lutfi Hakim di Meranggen Demak, KH Latifi Bedawi di Kodong Legi Malang, KH Abd Karim di
Purwodadi, dan KH Abd Majid di Probolinggo.
Selain itu, Puang Makka juga pernah mondok dan menjadi santri di Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya
Selatan Kebun Jeruk, yang diasuh KH Noer Muhammad Iskandar SQ. Sambil menjadi siswa di
pesantren itu, dia juga aktif mengikuti pengajian tasawuf pada Prof Dr Buya Hamka dan Dr KH Idham
Khalid di Jakarta. Disebutkan juga dia sempat menimba ilmu selama enam bulan di Pesantren
Tebuireng, Jombang.
Meski demikian, Puang Makka juga mengikuti pendidikan umum melalui jalur formal SD, SMP, SMA
dan kuliah di kampus. Puang Makka bahkan tercatat sebagai alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
(Sospol) Unhas.
Dalam menjalani kehidupan, Puang Makka mengaku melakoninya sebagaimana arah yang ditunjukkan
Tuhan-nya. Tanpa mengedepankan nafsu. Dia mengatakan sebagai ‘orang tarekat’, memang ada satu
kekurangannya, yaitu tidak memiliki konsep hidup.
“Di dalam Al-Qur’an dikatakan, kalaupun engkau melempar, maka yakinlah bukan engkau yang
melempar melainkan Allah yang melempar,” ujarnya.
Dia mengatakan, inilah sedikit jeleknya menggeluti tasawuf. Tak ada konsep hidup akan bagaimana
atau mau jadi apa nanti. Melainkan berjalan dengan apa yang diarahkan Tuhan-nya tanpa menonjolkan
nafsu. Bagaimana perpaduan antara logika dan hati.
“Kalau saya ikuti logika, maka ada perencanaan. Tahun ini mau begini, tahun depan mau begini. Selalu
terencana. Itu logika. Tapi dengan ikutnya Fuad saya, maka Zabal Fuadu Maraah. Fuad-mu itu tidak
pernah salah. Nah ini kadang bertabrakan, logika satu sisi dan fuadun di satu sisi. Orang tarekat selalu
mengedepankan Fuad,” ujarnya.
Menurutnya, ‘orang tarekat’ selalu mengedepankan Fuad atau hati karena logika memiliki keterbatasan
dalam dunia spiritual. Dia mencontohkan, keputusan menyekolahkan anaknya di pesantren di Mandar.
Sekolah yang cukup jauh di kabupaten provinsi tetangga.
“Kenapa menyekolahkan di pesantren yang jauh di sana. Apa sih kok di sekolahkan di Pesantren
Syech Hasan Yaman di Campalagian. Logika kita mengatakan, di Makassar ada yang lebih baik. Dan
apa susahnya bagi saya untuk menyekolahkan anak saya di pesantren mana saja di Indonesia. Tapi
kenapa saya pilih di sana. Kalau saya ditanya, saya bilang saya tidak tahu,” ujarnya.
Nanti belakangan dia mengetahui, jika terdapat keterkaitan silsilah guru antara Syech Hasan Yamani
yang membangun pesantren itu adalah guru Puang Makka secara spiritual. Enam bulan lamanya baru
hal itu diketahui. Setelah dia membuka-buka silsilah keilmuannya.
Menurutnya, jalan hidup tarekat ini sebenarnya sangat dibutuhkan di zaman modern yang hedonis dan
materialistis saat ini. Di mana tarekat menjadi solusi bagi hati yang kering.
“Saya kira di zaman ini, tarekat sangat dibutuhkan untuk mengisi kekeringan hati,” ujarnya.
Biodata:
Nama : Abdul Rahim Assegaf Puang Makka
Tempat / Tanggal Lahir : Makassar, 14 september 1960
Profesi : Muballigh, Pemimpin Tarekat.
Sumber : Buku Tokoh Sulsel 2022-2024

