Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Begitulah prinsip Prof Dr Ahmad Alim Bachri, SE, M.Si dalam menjalani kehidupan. Di mana pun dia berada, dia senantiasa menghormati dan menjunjung tinggi norma-norma daerah yang dikunjunginya.
“Saya kira kita harus bersikap baik dan menghormati adat-istiadat masyarakat setempat. Sebagai pendatang, kita harus pandai membawa diri dalam pergaulan,” kata dia.
Prinsip inilah yang membuatnya bisa diterima di kalangan masyarakat Banjarmasin selama puluhan tahun.
Selama berkiprah di Kalimantan Selatan, dia tak pernah mendapatkan perlakuan penolakan dari masyarakat setempat. Bahkan sebaliknya, dia berhasil merebut hati Kesultanan Banjar.
Pihak istana bahkan menganugerahinya gelar nama kesultanan, Datu Warga Nata Laksana. Tak sembarang orang yang bisa mendapatkan gelar nama dari kesultanan. Orang yang diberi gelar itu biasanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pihak istana atau diberikan kepada tokoh daerah yang dianggap memiliki prestasi dan sumbangsih terhadap masyarakat Banjarmasin.
Sementara Prof Ahmad hanyalah seorang pendatang. Dia tak memiliki hubungan darah kekerabatan dengan Kesultanan Banjar. Juga bukan putra daerah.
Gelar itu diberikan sebagai bentuk penghargaan atas kiprah Prof Ahmad dalam berpartisipasi menjaga hubungan baik dan persahabatan di tengah-tengah masyarakat Banjarmasin.
“Saya kurang tahu ya tokoh-tokoh lain yang juga mendapat gelar serupa. Tetapi berdasarkan sertifikat yang kami terima, ini memang diberikan kepada warga yang dianggap memiliki peran positif di masyarakat,” katanya.
Penerimaan masyarakat atas kiprah Prof Ahmad juga terbukti pada proses suksesi pimpinan Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Dia saat ini diberi amanah sebagai rektor di ULM. Kampus ini merupakan perguruan tinggi tertua di Pulau Kalimantan, yang berdiri pada 21 September 1958.
Dia dilantik langsung oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makariem BA MBA pada Selasa, 4 Oktober 2022 di Kantor Kemendikbudristek RI Jakarta. Sebulan sebelumnya, yakni Kamis, 1 September 2022, Prof Ahmad meraih suara terbanyak pada pemilihan calon Rektor ULM yang digelar di Ruang Sidang Gedung Rektorat Lantai 3 ULM Banjarmasin. Dia menyisihkan dua calon lainnya dengan meraih 68 suara mayoritas senat dan utusan kementerian.
Prof Ahmad unggul dari Dr Achmad Syamsu Hidayat yang meraih 25 suara dan Prof Aminuddin Prahatama Putra dengan 10 suara. Dia pun terpilih sebagai Rektor ULM periode 2022-2026 menggantikan Prof Sutarto Hadi.
Menjadi profesor memang cita-citanya sejak kecil. Cita-cita ini digapainya dengan penuh perjuangan. Dia sudah terbiasa bekerja keras sejak kecil. Saat dia SD dan SMP, dia harus berjalan kaki belasan kilometer setiap hari. Tak ada angkutan umum. Juga tak bisa bersepeda karena berada di daerah pegunungan.
Setamat SMP pun dia terpaksa harus merantau. Di kampungnya tak ada SMA. Sementara minatnya pada pendidikan sangat kuat. Dia pun memilih untuk meninggalkan kampung halamannya dan menuju Kota Makassar.
Dia lalu mendaftar di SMA 6 dan berhasil lolos sebagai salah satu siswa di sekolah negeri itu. Di sini tantangan baru pun ditemuinya. Sekolah jauh dari kampung halaman membutuhkan biaya yang tak sedikit. Biaya untuk membeli buku serta kebutuhan lainnya. Sementara, kondisi ekonomi keluarganya terbatas. Ayahnya adalah seorang petani dengan 13 orang anak.
Menghadapi kondisi itu, mau tak mau dia harus berusaha sendiri untuk mendapatkan sumber pendapatan. Pekerjaan yang tercepat yang bisa diandalkan saat itu yakni menjadi bekerja menjadi pengantar koran atau loper. Dia bekerja sebagai loper koran hingga kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.
“Saya ini anak seorang petani dari Kampung Pangbuluran, Enrekang. Kampung yang berada di lereng pegunungan Latimojong. Saya anak kelima dari tiga belas bersaudara,” katanya.
Loper koran dijalani setiap hari. Aktivitas dimulai saat dini hari, sebelum salat subuh. Tak jarang salat subuh dilakukan di jalan, ketika azan sudah dikumandangkan.
“Harian Fajar kan terbit dini hari. Kita ramai-ramai sudah ke sana untuk mengambil koran. Sebelum salat subuh. Kalau sudah waktunya salat subuh, terpaksa kita gelar tikar di jalan untuk salat,” ujarnya.
Meski harus bekerja untuk membiayai sendiri sekolahnya, namun dia mengaku pekerjaannya itu tak mengganggu prestasinya. Bahkan dia merasa, dengan menjadi loper koran saat itu, dirinya bisa memiliki wawasan yang lebih luas.
“Saya kira malah wawasan saya bertambah, karena kita dapat mengakses informasi saat menjadi loper. Kita juga membaca koran sebelum disebar ke pelanggan. Kita dapat membaca berita-berita terbaru dan terhangat,” ujarnya.
Setelah aktif menjadi mahasiswa, pekerjaan sebagai loper tak dilanjutkannya. Dia mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Beasiswa inilah yang menjadi jembatannya hingga mampu menyelesaikan kuliahnya baik di jenjang S1, S2, hingga S3.
Selama kuliah, dia juga terlibat aktif berorganisasi mulai di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) Unhas hingga Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu (HPMM).
Setamat kuliah pada 1991, dia tidak langsung melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2. Dia melamar dan diterima bekerja di perusahaan Rahmat Group di Kota Makassar. Dia ditempatkan di PT Belawa Istana Satwa selama dua bulan, lalu dimutasi ke Balikpapan, Kalimantan Timur yakni di PT Rahmat Purnama Sari.
Di perusahaan ini dia berhasil memperlihatkan prestasinya. Dia pun diangkat menjadi Marketing Area Manager wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pada 1993 dia pindah ke Kota Banjarmasin.
Namun berkarier di perusahaan swasta hanya berlangsung selama tujuh tahun. Cita-citanya untuk menjadi profesor mengusiknya. Dia pun melamar menjadi dosen di ULM pada 1995 dan diterima mengajar di Fakultas Ekonomi. Namun SK pengangkatannya menjadi dosen Pegawai Negeri Sipil diterima pada 1996. Pada 1997 dia pun mundur dari perusahaannya dan mengikuti prajabatan. (*)
Biodata
Nama : Prof Dr Ahmad Alim Bachri, SE, MSi
Tempat/Tanggal Lahir : Enrekang, 31 Desember 1967
Pekerjaan : Rektor Universitas Lambung Mangkurat
Riwayat Pendidikan
– SDN 07 Gandeng Desa Salukanan Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang, Sulsel (1979)
– SMPN Malua Kabupaten Enrekang, Sulsel (1982)
– SMAN 06 Makassar, Sulsel (1985)
– S1 Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Hasanuddin Makassar, Sulsel (1991)
– S2 Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin Makassar (1999)
– S3 program Doktor ilmu Ekonomi Konsentrasi Bidang Manajemen Universitas Hasanuddin
Makassar
Sumber : Buku Tokoh Sulsel 2022-2024

