Ilustrasi
JAKARTA — Masyarakat Indonesia diminta tidak berfokus pada pertanyaan kapan gempa besar, termasuk gempa megathrust, akan terjadi. Para pakar kebencanaan justru mendorong masyarakat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana yang waktunya belum dapat diprediksi.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan ketidakpastian waktu kejadian gempa tidak seharusnya menjadi alasan untuk takut. Menurut dia, paradigma masyarakat perlu bergeser dari menunggu kepastian waktu gempa menjadi mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan bencana.
“Kita harus mengubah paradigma dari ‘kapan gempa akan terjadi?’ menjadi ‘apakah kita sudah siap ketika gempa terjadi?’ Gempa tidak dapat dicegah dan waktunya belum dapat diprediksi. Tapi, korban dapat dikurangi,” kata Daryono, Jumat (2/10/2026).
Menurut Daryono, langkah awal kesiapsiagaan dapat dilakukan dengan mengetahui kondisi lingkungan tempat tinggal. Masyarakat perlu memahami apakah rumahnya berada di kawasan rawan gempa atau tsunami, mengenali bangunan yang aman, serta mengetahui jalur evakuasi, tempat evakuasi dan titik kumpul.
Rencana komunikasi keluarga juga dinilai penting agar setiap anggota keluarga mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.
Potensi Tektonik di Mentawai
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian dalam pembahasan gempa megathrust adalah zona Mentawai-Siberut dan Mentawai-Pagai di Sumatra Barat.
Daryono menjelaskan wilayah tersebut berada di bagian barat Sumatra, tempat Lempeng India-Australia terus bergerak dan menunjam terhadap Lempeng Sunda. Pergerakan tersebut berlangsung beberapa sentimeter setiap tahun dan dapat menyebabkan batuan mengalami tekanan serta menyimpan energi dalam jumlah besar dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun.
Ia kemudian merujuk penelitian Ongky Anggara dan sejumlah peneliti pada 2026 mengenai deformasi lempeng di Sumatra. Penelitian tersebut menggunakan data GNSS periode 2018-2021 untuk mengamati deformasi kerak bumi di Sumatra bagian tengah, termasuk kawasan Mentawai dan sekitarnya.
Data berasal dari 35 stasiun GNSS, termasuk 11 stasiun di Kepulauan Mentawai dan 14 stasiun di sekitar Zona Sesar Sumatra. Menurut Daryono, pengukuran tersebut digunakan untuk melihat bagian kerak bumi yang mengalami tekanan, bergerak, atau relatif terkunci.
Daryono menegaskan penelitian tersebut bukan untuk menentukan kapan gempa akan terjadi. Kajian itu, kata dia, digunakan untuk memahami bagaimana energi tektonik terakumulasi di bawah kawasan Sumatra Barat dan Mentawai.
Penelitian tersebut juga menunjukkan pola deformasi di Sumatra bagian tengah didominasi pemendekan atau kompresi kerak bumi. Bagian utara Pulau Siberut disebut menunjukkan deformasi yang relatif kuat dibandingkan wilayah lain.
Ada Zona yang Masih Terkunci
Perhatian lain berada pada bidang pertemuan lempeng di sekitar Mentawai yang masih mengalami coupling atau kondisi terkunci.
Daryono menyebut penelitian menemukan zona dengan coupling kuat terutama di bagian barat Siberut. Kondisi tersebut menggambarkan bagian tertentu dari bidang kontak lempeng yang tidak dapat bergeser secara bebas meskipun lempeng terus bergerak.
Dalam penelitian yang sama, sumber megathrust Mentawai dibagi menjadi dua bagian, yakni Segmen A di utara Siberut dan Segmen B di selatan Siberut.
Dengan menggunakan skenario periode ulang 200 tahun, penelitian menghitung potensi teoritis sekitar Mw8,98 untuk Segmen A dan Mw8,79 untuk Segmen B.
Namun, Daryono menekankan angka tersebut tidak boleh dimaknai sebagai prediksi bahwa gempa dengan magnitudo tersebut akan segera terjadi.
“Namun angka ini harus dipahami secara hati-hati. Mw 8,98 dan Mw 8,79 bukan prediksi bahwa gempa sebesar itu akan segera terjadi. Angka tersebut merupakan estimasi potensi berdasarkan model akumulasi slip, coupling, dan asumsi periode ulang yang digunakan dalam penelitian,” ujarnya.
Sumatra Barat Hadapi Dua Sumber Gempa
Selain potensi gempa dari zona subduksi di laut, Sumatra Barat juga memiliki sumber gempa di daratan.
Daryono menyebut kawasan tersebut memiliki Zona Sesar Sumatra, termasuk Segmen Sianok. Berdasarkan penelitian yang dirujuknya, estimasi laju geser Segmen Sianok sekitar 16,5 ± 4 milimeter per tahun dengan kedalaman penguncian sekitar 15 ± 3 kilometer.
Sumber gempa darat tersebut berbeda dengan megathrust Mentawai. Gempa yang berasal dari sesar aktif di daratan umumnya tidak sebesar gempa megathrust, tetapi sumber yang dangkal dan kedekatannya dengan kawasan berpenduduk dapat membuat guncangan tetap berpotensi merusak.
“Dengan demikian, Sumatra Barat menghadapi dua persoalan sekaligus, sumber gempa besar di zona subduksi sebelah barat dan sumber gempa dangkal dari sesar aktif di daratan,” kata Daryono.
Jangan Abaikan Ancaman Tsunami
Kesiapsiagaan menjadi semakin penting bagi masyarakat pesisir karena gempa megathrust di laut dapat memicu tsunami.
Daryono meminta masyarakat Kepulauan Mentawai dan pesisir Sumatra Barat mengetahui apakah rumah, sekolah, tempat kerja, hotel, maupun fasilitas umum berada di kawasan rawan tsunami.
Pengetahuan mengenai jalur dan tempat evakuasi, titik kumpul, serta akses menuju lokasi yang lebih tinggi perlu dipahami sebelum bencana terjadi.
Dalam skenario tsunami lokal, masyarakat yang berada di kawasan pantai juga perlu memahami guncangan kuat atau berlangsung lama sebagai peringatan alam untuk segera melakukan evakuasi sesuai prosedur setempat, tanpa menunggu informasi tambahan.
Selain kesiapan masyarakat, mitigasi juga perlu menyentuh aspek bangunan. Rumah, sekolah, rumah sakit, kantor pemerintahan, hotel dan infrastruktur penting di wilayah Sumatra Barat dan Mentawai perlu dibangun atau diperkuat berdasarkan standar ketahanan gempa yang sesuai.
Komunikasi Risiko Harus Cegah Kepanikan
Pakar Manajemen dan Mitigasi Bencana Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Hijrah Saputra, menilai kesiapsiagaan juga membutuhkan komunikasi risiko yang efektif.
Menurut Hijrah, Indonesia berada di kawasan pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yakni Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Kondisi tersebut membuat aktivitas seismik menjadi bagian dari risiko kebencanaan yang harus diantisipasi.
Ia menilai sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) harus berjalan secara menyeluruh. Empat komponen yang perlu diperkuat meliputi pengetahuan mengenai risiko, pemantauan dan peringatan, penyebaran informasi kepada masyarakat, serta kemampuan masyarakat merespons peringatan.
Hijrah juga menekankan pentingnya pemetaan risiko dan latihan evakuasi secara berkala. Menurut dia, karakteristik risiko di setiap wilayah berbeda sehingga langkah mitigasi tidak dapat disamaratakan.
Komunikasi kebencanaan, lanjutnya, juga perlu menggunakan bahasa yang sederhana, konsisten dan berorientasi pada solusi. Pelibatan tokoh lokal, termasuk tokoh agama dan adat, serta media lokal dinilai dapat membantu penyampaian informasi kepada masyarakat.
Pada akhirnya, pesan yang ditekankan para pakar bukan bahwa gempa besar Mentawai akan segera terjadi. Yang menjadi perhatian adalah proses tektonik yang masih berlangsung dan adanya potensi gempa besar pada masa mendatang.
“Gempa tidak dapat dicegah dan waktunya blm dapat diprediksi, tetapi risiko dan jumlah korban dapat dikurangi,” kata Daryono. (*)



