
Prof. Dr. Nurliah Nurdin S.Sos, M.A, adalah sosok perempuan cemerlang. Dia adalah seorang srikandi tangguh yang kini memimpin Politeknik STIA LAN untuk periode kedua yakni 2022-2026.
Sebelumnya dia memimpin kampus ini pada periode 2019-2022. Saat itu kampus ini masih berstatus sebagai STIA LAN. Sekolah tinggi yang dikhususkan untuk Aparat Sipil Negara (ASN).
Di tangan Nurliah inilah, peralihan status dari STIA LAN menjadi Politeknik STIA LAN diwujudkan. Perubahan ini mengubah sistem penyelanggaraan pendidikan di sekolah tinggi ini.
Perubahan itu meliputi program pendidikan yang menekankan pada sistem berbasis vokasi. Dimana praktikum persentasenya lebih besar dibandingkan dengan teoritis.
Begitu pun dengan peserta didiknya, yang tadinya dikhususkan hanya bagi para ASN saja, setelah berubah status menjadi politeknik, maka menjadi terbuka bagi umum.
Tantangan itu tentunya bukan persoalan ringan, karena harus melakukan penyesuaian-penyesuaian di internal STIA LAN.
Tapi semuanya bisa jalankan dengan mulus. Bahkan setelah berubah status Politeknik STIA LAN memperoleh penghargaan Penyelenggara Pelayanan Publik dengan Kategori “Sangat Baik” dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) pada 2021.
Nurliah memulai kariernya sebagai seorang dosen di Institute ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta setelah tamat di Unhas. IIP ini kemudian berubah menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) setelah digabung dengan 20 APDN.
Awalnya, di IIP ini dia diminta untuk mengajarkan mata kuliah Bahasa Inggris. Dia dia nggap fasih dan menguasainya. Padahal latar belakang pendidikannya adalah Hubungan Internasional (HI).
Meski demikian dia tetap saja menekuni mengajarkan mata kuliah itu hingga mendapatkan kesempatan untuk belajar di luar negeri.
Saat itu terdapat dua pilihan beasiswa yang dapat diambilnya, yakni beasiswa pendidikan S2 di Jepang selama dua tahun dan Beasiswa S2 di Amerika serikat tapi hanya untuk setahun saja.
Pilihan Nurliah jatuh pada kuliah di Amerika Serikat, tepatnya di Northern Illinois University. Di sini dia mengambil political science.
Saat kuliah di Amerika inilah dia mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Masa-masa kuliahnya itu berlangsung ketika peristiwa runtuhnya Menara kembar World Trade Centre (WTC) New York akibat tabrakan pesawat komersil. Peristiwa itu dikenal dengan tragedi 9/11 karena terjadi pada 11 September 2001.
Kejadian itu membuat kaum muslim di Amerika Serikat menjadi sorotan. Hal yang sama juga dirasakan oleh Nurliah, namun demikian beruntungnya dia tak pernah menjadi korban kekrasan akibat sentiment itu.
Saat itu dirinya diminta oleh pihak kampus dan para seniornya untuk tidak berkeliaran jauh dari kampus karena khawatir imbas peristiwa 9/11 itu. Bahkan ada yang menyarankannya untuk membuka jilbab agar terhindar dari sentimen itu.
Namun Nurliah tetap teguh pada pendiriannya. Dia enggan melepas hijabnya hingga dia menyelesiakan kuliah magisternya di kampus itu.
Karena peristiwa itu dia sempat diminta menjadi pembicara pada forum perbandingan agama. Dia diundang mewakili wanita muslim di kampusnya. Dia dipanel bersama delapan pembicara lainnya. Mereka mewakili agama masing-masing.
Masing-masing diminta untuk mempresentasikan bagaiaman kedudukan wanita di dalam agama mereka. Nurliah dengan mudah menguasai forum itu dan menjelaskan bagaimana sebenarnya wanita dalam Islam.
Saat di Amerika ini pun dia sempat berfikir untuk bekerja sebagai sopir bus kampus. Kenapa? Saat itu beasiswa yang diterimanya hanya setahun. Sementara untuk selanjutnya dia harus mengupayakannya sendiri.
Menurutnya, pilihan menjadi sopir bus kampus itu karena take home pay-nya tinggi. Lebih tinggi disbanding menjadi petugas perpustakaan.
Namun untungnya hal itu tak terwujud. Salah seorang professornya membantunya mendapatkan beasiswa dengan menjadi Assistantship di IRAD (Illinois Regional Archives Depository), Springfield, Illinois USA.
Sepulang dari Amerika dia lalu kembali mengabdi di IPDN. Lalu mengambil S3 di Universitas Indonesia.
Nurliah dikenal sebagai seorang pengamat politik dan pemerintahan. Dua hal itu memang menjadi lahan penelitiannya. Dia seringkali diundang di berbagai forum untuk berbicara mengenai dua hal itu.
Nurliah sebenarnya tak pernah becita-cita menjadi seorang guru besar di bidang Ilmu Politik dan Pemerintahan.
Saat SMA dulu, dia malah bercita-cita untuk menjadi seorang dokter atau insinyur. Dia tak pernah membayangkan akan kuliah di rumpun ilmu sosial.
Namun takdir berkata lain, apa yang dicita-citakan itu tak dapat di raih. Dia tak lulus test masuk di perguruan tinggi. Pilihan pertamanya adalah kedokteran dan kedua teknik. Kedua-duanya tak lulus.
Momentum itu membuatnya enggan mengikuti test ujian masuk perguruan tinggi pada tahun kedua. Saat wawancara dengan Channel @Maraja TV, momentum itu disebutnya sebagai sedang ‘patah hati’.
Setelah tahun ketiga, dia baru bisa ‘move on’ untuk kembali mendaftar. Kali ini dia lulus di Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unhas. Bukan hanya itu, di jurusan ini dia mampu menyelesaikan studinya dalam kurun waktu tiga tahun tiga bulan.
Biodata:
Prof. Dr. Nurliah Nurdin, S.Sos., MA.
Profesi : Guru Besar
Riwayat Pendidikan :
1. S1 – Universitas Hasanuddin
2. S2 – Northern Illinois University
3. S3 – Universitas Indonesia
Riwayat Pekerjaan :
1. Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta, 2019-Skrg
2. Sekretaris Prodi Pascasarjana IPDN
3. Asisten Direktur Dewan Akademi Program Profesi Kepamongprajaan IPDN
4. Tim Ahli pada Jaringan Inisiatif Pemerintah Lokal






