
Jakarta,–Satkaara Communications kembali menghadirkan program kepedulian sosial tahunan Satkaara Berbagi 2026 dengan mengusung tema “Berbagi Tanpa Batas”, yang tahun ini secara khusus menyoroti pentingnya inklusi bagi teman-teman disabilitas. Kegiatan diselenggarakan di Wisma Tuna Ganda Palsigunung, Cimanggis, Depok, sebagai wujud komitmen berkelanjutan dalam menciptakan ruang yang lebih inklusif dan penuh empati.
Mengangkat semangat bahwa kebaikan tidak mengenal batas, kegiatan ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang bermakna, tidak hanya bagi penerima manfaat, tetapi juga bagi seluruh pihak yang terlibat. Salah satu momen utama dalam kegiatan ini adalah sesi hand stamp painting, di mana teman-teman disabilitas bersama relawan menciptakan karya kolektif melalui cap tangan berwarna-warni sebagai simbol kebersamaan, keberanian, dan harapan.
Satkaara Berbagi merupakan program sosial yang diinisiasi oleh Satkaara Communications dengan fokus pada isu pendidikan, kesehatan ,termasuk kesehatan mental serta sosial. Dalam implementasinya, program ini mengedepankan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai mitra strategis sebagai bagian dari upaya menghadirkan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Satkaara Berbagi melibatkan berbagai pihak, mulai dari rekan media, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Satkaara Academy Community (SAC), mitra komunitas lain hingga mitra korporasi seperti PT IDX Solusi Teknologi Informasi (IDXSTI) dan Teppanku dari PT Patriosa Boga Grup.
Kolaborasi ini memperkuat upaya membangun ekosistem kepedulian sosial yang inklusif sekaligus mendorong kesadaran bahwa keberagaman adalah kekuatan yang perlu dirangkul bersama.
Melalui tema Berbagi Tanpa Batas, kami ingin menegaskan bahwa setiap individu, tanpa terkecuali, memiliki ruang untuk berekspresi, dihargai, dan dirayakan. Kegiatan ini bukan hanya tentang berbagi, tetapi tentang membangun koneksi yang setara dan bermakna,” ujar inisiator program Satkaara Berbagi, Ruth Andriani.
Menghadirkan Harapan Melalui Hand Stamp Painting Bersama Teman Disabilitas
Kegiatan di Wisma Tuna Ganda Palsigunung menjadi wujud konsistensi Satkaara Berbagi dalam merangkul penyandang disabilitas ganda.
Dalam kegiatan ini, para mitra tidak hanya menyalurkan bantuan berupa sembako, peralatan elektronik, kebutuhan harian, serta dukungan uang tunai, tetapi juga hadir langsung untuk berbagi waktu dan menghibur para penghuni panti.
Namun, lebih dari sekadar bantuan material, kegiatan ini menekankan nilai kebersamaan sebagai inti utama. Hal ini tercermin dalam sesi hand stamp painting, di mana teman-teman disabilitas dan relawan bersama-sama meninggalkan jejak tangan sebagai simbol kehadiran, kesetaraan, dan harapan.
Kepala Wisma Tuna Ganda Palsigunung, Kristanti, mengapresiasi kehadiran Satkaara Berbagi bersama para mitra. Menurutnya, dukungan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan, tetapi juga perhatian dan kebersamaan yang sangat berarti.
Ia menjelaskan, sekitar 25 anak di wisma merupakan penyandang disabilitas ganda,sebagian telah berusia dewasa namun dengan perkembangan mental seperti anak-anak, dan banyak yang tidak lagi memiliki keluarga. Menurutnya, mereka tidak hanya membutuhkan perawatan, tetapi juga penerimaan dan kasih sayang, sehingga kegiatan seperti ini memberikan semangat baru, baik bagi anak-anak maupun para pendamping.
Direktur PT IDX Solusi Teknologi Informasi (IDXSTI), Asep Permata Suryana, turut menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin. “Terima kasih kepada para pengurus Wisma Tuna Ganda Palsigunung atas dedikasi luar biasa dalam merawat dan mendampingi saudara-saudara kita. Terima kasih juga kepada Satkaara yang telah menghadirkan momen ini. Kami diingatkan bahwa berbagi bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menghadirkan harapan,” ujar Asep.
Melalui cap tangan berwarna-warni di atas kanvas, setiap individu diajak untuk meninggalkan “jejak” yang merepresentasikan keberadaan, keberanian, dan keunikan mereka. Tidak hanya menjadi aktivitas kreatif, kegiatan ini juga menciptakan ruang aman bagi teman-teman disabilitas untuk mengekspresikan diri secara bebas dan bermakna.
“Setiap cap tangan yang tertinggal bukan hanya sekadar warna, tetapi juga cerita, semangat, dan harapan. Kami ingin menghadirkan pengalaman yang sederhana, namun dapat dikenang dan dirasakan dampaknya dalam jangka panjang,” ujar Inisiator Program Satkaara Berbagi, Ruth Andriani.
“Saya sangat bersyukur bisa terlibat langsung dalam Satkaara Berbagi tahun ini. Kami tidak hanya berbagi, tetapi juga belajar tentang empati dan kepedulian. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi teman-teman di wisma,” ujar Ari, peserta dari media Infobank yang turut serta dalam kegiatan Berbagi Tanpa Batas.
Dukungan Nyata di Bidang Kesehatan dan Kemanusiaan
Satkaara Berbagi secara konsisten menjalankan program kesehatan dan bantuan sosial melalui kolaborasi lintas sektor. Bersama Siloam International Hospitals melalui program SELANGKAH, Satkaara Berbagi telah menyediakan skrining kanker payudara gratis bagi sekitar 327 penerima manfaat. Selain itu, Satkaara Berbagi juga merespons cepat bencana dengan menyalurkan bantuan bagi korban banjir di Aceh dan Sumatera Utara, menjangkau sejumlah wilayah terdampak.
Selama lebih dari 13 tahun, Satkaara Berbagi berkembang sebagai platform kolaboratif yang menghadirkan dampak berkelanjutan di bidang pendidikan, kesehatan, disabilitas, anak, dan perempuan.
–Selesai–
Tentang Satkaara Berbagi
Satkaara Berbagi merupakan inisiatif kepedulian sosial dari PT Cetta Satkaara (Satkaara Communications), sebuah agensi public relations, yang berfokus pada isu pendidikan, kesehatan –termasuk kesehatan mental, dan sosial. Selama lebih dari 13 tahun, program ini menjadi wadah kolaborasi antara Satkaara dengan mitra, mulai dari klien, media, komunitas, hingga tenaga pendidik, untuk menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan melalui pendekatan berbasis empati.
Salah satu inisiatif utama program Satkaara Berbagi adalah Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) yang didirikan pada 18 Desember 2021. Komunitas ini mewadahi ribuan guru dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi di Indonesia dan Timor Leste, sebagai ruang berbagi praktik baik dan penguatan kapasitas. Melalui berbagai kegiatan seperti webinar, pelatihan trauma healing, basic counseling skills, hingga public speaking, Satkaara Berbagi mendorong peran guru yang lebih berdaya dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.
Satkaara Berbagi dikembangkan sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan untuk bergerak bersama menjawab isu sosial secara berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis komunikasi dan empati, program ini menempatkan kolaborasi sebagai kunci untuk menciptakan dampak yang lebih luas dan relevan. (*)






