
Nusantara,–Ikatan Alumni Universitas Muslim Indonesia (IKA UMI) wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara sukses menggelar acara “Silaturahmi dan Temu Alumni” di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 25-26 April 2026. Mengusung tema “Berkolaborasi tanpa sekat, berkhidmat untuk negeri”, pertemuan yang berlangsung penuh keakraban ini menjadi momentum penting untuk mempererat jalinan, sekaligus memunculkan wacana strategis pembukaan kampus UMI cabang IKN.
Rangkaian acara hari pertama, Sabtu (25/4), dimulai dengan kedatangan para alumni dari berbagai kabupaten dan kota se-Kaltim dan Kaltara di rest area IKN. Meskipun acara ramah tamah malam harinya di Gedung Kemenko 1 sempat tertunda karena rombongan pimpinan UMI Makassar mengalami keterlambatan penerbangan hingga enam jam, para alumni tidak menyia-nyiakan waktu. Suasana penuh kekeluargaan justru semakin terasa dengan adanya sesi berbagi cerita, live music, dan foto bersama antar fakultas maupun daerah asal.
Puncak keakraban terjadi saat rombongan dari UMI Makassar yang dipimpin oleh Wakil Rektor III bidang Pembinaan Kemahasiswaan, Prestasi dan Hubungan Alumni, Hj. Nur Fadhilah Mappaselleng, akhirnya tiba. Mereka disambut hangat oleh Ketua IKA UMI Kaltim, Muhammad Adam, dan Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif IKN, Muhsin Palinrungi, yang juga merupakan alumni Fakultas Sastra UMI.
Dalam sambutannya, Muhsin Palinrungi melemparkan gagasan strategis tentang peluang kerjasama pendirian perguruan tinggi di IKN. “Momentum kehadiran petinggi UMI di IKN ini bisa dijadikan wadah untuk menjajaki kerjasama pembukaan perguruan tinggi. Lahan di sini masih cukup luas untuk itu,” ujarnya.
Gagasan ini langsung disambut dan ditantangkan kembali oleh Nur Fadhilah kepada para alumni. Saudara kandung artis Dian Ekawati ini secara khusus menantang IKA UMI Kalimantan Timur untuk mengupayakan realisasi pembukaan Kampus UMI cabang IKN.
Meskipun jam telah menunjukkan lewat tengah malam, keakraban terus terjalin. Nur Fadhilah yang fasih berlogat Kalimantan Timur karena pernah 15 tahun tinggal di Samarinda, dengan cekatan meluruskan berbagai isu simpang siur di media sosial terkait kronologi kejadian antara mahasiswa UMI dengan ojek online. Ia juga menghibur para alumni dengan menyanyikan lagu Makassar, obat rindu bagi mereka yang pernah menimba ilmu di Kota Daeng, julukan Makassar.
Memasuki hari kedua, Minggu (26/4), kegiatan berlanjut dengan agenda padat. Para alumni mendapat kesempatan istimewa mengunjungi halaman Istana Negara dalam sesi terbatas selama 30 menit, dengan aturan ketat hanya diperbolehkan mengambil foto. Agenda kemudian berlanjut ke Glamping IKN.
Di sini, para alumni melakukan aksi nyata dengan menanam 50 bibit pohon sebagai bentuk bhakti untuk Nusantara. Jenis pohon yang ditanam beragam, mulai dari endemik Kalimantan seperti Meranti dan Eboni, buah-buahan seperti durian dan manggis, hingga pohon penguat ekosistem seperti Mahoni. Selain itu, pengalaman menantang berjalan di atas jembatan kaca setinggi lebih dari 20 meter yang menyuguhkan pemandangan Istana Garuda dan hutan alami juga menjadi daya tarik tersendiri. Kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Taman Kusuma Bangsa, menyaksikan langsung tiang bendera merah putih setinggi 79 meter yang berdiri gagah.
Acara temu alumni ini bukan sekadar ajang reuni, melainkan penegasan komitmen para alumni UMI untuk berkolaborasi dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ibu kota baru dan negeri. (*)




