
Makassar, – Mendung di langit Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, tak lagi semata menebar cemas. Berbekal sistem, peralatan, dan mental yang ditempa sejak akhir 2025, warga yang dulu terbiasa bertahan di tengah banjir setinggi pinggang orang dewasa kini menjelma menjadi komunitas yang siaga dan terorganisir. Transformasi ini adalah buah dari program Katimbang Siaga Bencana yang digagas PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi.
Bagi Ruslan, Ketua Kelompok Katimbang Siaga Bencana (KSB), kenangan pahit sebelum program ini hadir masih melekat kuat. Setiap kali hujan deras mengguyur dan air naik, warga dihadapkan pada dilema pelik: mengungsi ke tempat yang minim fasilitas MCK dan tidak nyaman, atau bertahan di rumah dengan risiko kerusakan harta benda dan bahaya listrik.
“Dulu, mengungsi itu perjuangan batin. Fasilitas minim, peralatan terbatas. Banyak yang pilih bertahan meski risikonya besar. Sekarang? Warga bergerak lebih cepat dan tenang. Mereka tahu apa yang harus dilakukan,” tutur Ruslan, Rabu (29/4/2026).
Perahu Karet, SOP, dan 400 Pohon: Resep Perubahan Sistemik
Titik balik itu mulai terasa sejak PT PLN UIP Sulawesi masuk dengan pendekatan yang tidak sekadar seremonial. Program ini menyasar perubahan sistemik: penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) tanggap darurat, pembentukan dan penguatan KSB, hingga penyediaan peralatan evakuasi seperti perahu karet dan Alat Pelindung Diri (APD).
Tak berhenti di respons darurat, program ini juga merambah mitigasi lingkungan. Pembersihan drainase berkala dan penanaman 400 pohon di sepanjang ±350 meter area rawan genangan dilakukan untuk meningkatkan daya serap air. Untuk memastikan keamanan warga, PLN juga menggencarkan edukasi keselamatan ketenagalistrikan saat banjir.
General Manager PLN UIP Sulawesi menegaskan, tujuan program ini bukan hanya membangun infrastruktur fisik, melainkan membangun ketangguhan mental dan pengetahuan. “Kami ingin Katimbang menjadi model komunitas mandiri yang tidak hanya siap secara fisik saat bencana datang, tapi juga memiliki kemampuan mengelola risiko secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Ujian Nyata di Awal 2026
Efektivitas program ini diuji langsung oleh alam. Saat banjir menerjang pada Januari dan Februari 2026, Katimbang menunjukkan wajah baru. Tidak ada lagi kepanikan massal. Tim KSB bergerak memantau ketinggian air, mengevakuasi warga prioritas menggunakan perahu karet, dan mendistribusikan bantuan sesuai SOP yang telah disusun.
“Perubahan terbesarnya ada di perilaku. Kalau dulu kami menunggu air masuk rumah baru bergerak, sekarang begitu ada peringatan dini, tim sudah siaga di titik-titik rawan,” jelas Ruslan.
Program ini juga menyentuh sisi psikososial lewat pelatihan trauma healing bagi warga rentan, serta edukasi ke sekolah-sekolah melalui program Go to School guna membangun kesadaran sejak dini.
Keseriusan kolaborasi antara korporasi, pemerintah, dan masyarakat ini pun mendapat apresiasi langsung dari Pemerintah Kota Makassar dengan penghargaan yang diberikan pada April 2026 atas kontribusi nyata memperkuat kesiapsiagaan bencana.
Meski telah berubah, Ruslan menekankan bahwa perjalanan ini belum usai. Untuk memperkuat kemandirian ke depan, KSB membutuhkan dukungan infrastruktur penunjang seperti gudang penyimpanan logistik dan sekretariat tetap. “Peralatan harus dirawat, koordinasi harus punya markas. Kami ingin terus bergerak, tidak hanya saat banjir, tapi juga untuk pencegahan,” pungkasnya.
Kini, langit mendung di Katimbang lebih dimaknai sebagai sinyal untuk bersiap, bukan lagi untuk takut. (*)





