
JAKARTA, โ Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IKAFE UNHAS) melontarkan peringatan keras terhadap kondisi perekonomian nasional. Dalam sebuah pernyataan sikap bertajuk โSeruan Bulunganโ, mereka mendiagnosis Indonesia tengah memasuki fase drifting economy, di mana stabilitas makroekonomi yang selama ini dibanggakan justru berubah menjadi โsangkarโ yang membatasi akselerasi transformasi.
โDiagnosis ekonomi kita menunjukkan ada komplikasi kronis di balik stabilitas permukaan. Inflasi memang terkendali, sistem keuangan berjalan, tapi semua itu ibarat kosmetik. Fondasi yang kuat ini tidak diikuti bangunan ekonomi produktif, sehingga hanya menghasilkan ruang kosong,โ tegas Dr. Hendra Noor Saleh, DBA, Ketua Umum IKAFE UNHAS, dalam rilis yang diterima redaksi, Minggu (10/5/2026).
Diskusi yang melahirkan seruan ini berlangsung di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, mempertemukan para alumni FEB Unhas lintas generasi: profesor, doktor, CEO, direktur perusahaan asing, pelaku UMKM, hingga ibu rumah tangga.
Paradoks Stabilitas: Aman di Atas Kertas, Rapuh di Lapangan
IKAFE UNHAS menyoroti sebuah fenomena yang mereka sebut sebagai paradoks stabilitas. Selama dua dekade, Indonesia dianggap sukses membangun benteng makroekonomi. Namun, benteng itu kini dinilai gagal mendorong produktivitas dan industrialisasi.
Seruan ini secara gamblang mengkritisi belum optimalnya tiga integrasi kunci:
- Integrasi Horizontal: Hilirisasi yang belum sepenuhnya menghubungkan sektor komoditas hulu ke sektor manufaktur bernilai tambah.
- Integrasi Vertikal: Minimnya sinkronisasi kebijakan moneter dan fiskal yang kerap berjalan sendiri-sendiri.
- Integrasi SDM: Pertumbuhan PDB yang tidak berkorelasi linear dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekerja.
โInilah ciri drifting economy, ekonomi yang tidak runtuh seketika, tapi bergerak tanpa arah transformasi yang jelas. Ini sangat berbahaya karena bisa menggerus kepercayaan publik secara perlahan, lalu berujung pada instabilitas sosial-politik seperti yang kita pelajari dari krisis 1998,โ lanjut Hendra, mewakili para alumni yang turut menyusun naskah seruan ini, termasuk Prof. Rahma Gafmi, Andi M. Sadat Ph.D, dan Ira Jusuf, MBA.
Tujuh Indikator Bahaya yang Meningkatkan Kekhawatiran
Seruan Bulungan memaparkan tujuh indikator utama yang memperkuat sinyal bahaya drifting economy saat ini:
- Kurs Rupiah Dekati Level Psikologis Baru: Tekanan pada rupiah terus berlanjut hingga menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS pada Mei 2026, melampaui titik terburuk era pandemi dan krisis 1998. Ini menandakan kerentanan fundamental terhadap sentimen.
- Harga Energi Paradoks: Di negara kaya sumber daya, harga BBM nonsubsidi membubung. Pertamax Turbo tembus Rp20.000 per liter, dan Pertamina Dex hingga Rp29.100 di beberapa wilayah, memperlihatkan inefisiensi tata kelola energi.
- Sektor Manufaktur Loyo: Purchasing Managersโ Index (PMI) Manufaktur Indonesia masuk fase kontraksi di level 49,1 pada April 2026, ekspansi melambat dan risiko PHK meningkat.
- Stagnasi Daya Beli Kelas Menengah: Masalah utama bukan inflasi, melainkan daya beli yang tergerus kombinasi biaya pinjaman tinggi dan minimnya pertumbuhan pendapatan riil.
- Pertumbuhan Semu Berbasis Fiskal: Pertumbuhan ekonomi yang diklaim mencapai 5,61% dinilai lebih banyak disokong oleh belanja pemerintah dan program konstruksi, bukan oleh geliat sektor riil yang mandiri.
- Ekspansi Program Tanpa Disiplin Fiskal: Program berskala masif seperti MBG dan Koperasi Merah Putih dikritik menyerap anggaran sangat besar tanpa sinyal penguatan disiplin fiskal yang memadai.
- Rasio Pembayaran Bunga Utang Meningkat: Meski rasio utang terkendali, tren kenaikan pembayaran bunga utang diperingatkan akan terus menggerus ruang fiskal untuk belanja produktif seperti pendidikan dan kesehatan.
Seruan Reformasi dan Tolak Budaya ABS
IKAFE UNHAS menyerukan keberanian politik dan kejujuran intelektual kepada para pemangku kepentingan. Mereka secara khusus menyoroti budaya Asal Bapak Senang (ABS) yang harus segera dihentikan karena hanya akan mendistorsi realitas dan menurunkan kepercayaan publik.
โKomunikasi publik harus berbasis data dan realitas, bukan narasi optimisme yang menyederhanakan masalah. Saatnya tata kelola negara dikembalikan pada prinsip meritokrasi, kompetensi, dan integritas,โ tegas pernyataan tersebut.
Para alumni yang tergabung dalam IKAFE UNHAS mendesak adanya kalibrasi ulang prioritas anggaran, penguatan sinergi lintas sektor, serta menghadirkan kepemimpinan yang inklusif, kompeten, dan independen. Mereka menegaskan bahwa tanpa transformasi yang progresif, stabilitas ekonomi Indonesia tak lebih dari โangka indah di atas kertas yang rapuh terhadap tekanan perubahan zaman.โ






