
Makassar — Kongres Pemuda Sulawesi Selatan 2024 resmi ditutup hari ini di Baruga Anging Mammiri, Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Makassar. Acara yang berlangsung selama dua hari ini menghasilkan Rekomendasi Aksi Bersama sebagai puncak dari pertukaran gagasan intensif antara peserta, yang difokuskan pada berbagai isu sosial mendesak.
Acara ini diselenggarakan oleh BASAsulsel Wiki – Rumah Budaya Rumata’ dan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, dengan dukungan berbagai lembaga, termasuk Kementerian Pendidikan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Yayasan Kalla, Tanoto Foundation, dan Think Policy Indonesia.
Sebanyak 194 peserta, yang terdiri dari siswa SMA/SMK, mahasiswa, organisasi pemuda, dan komunitas masyarakat sipil, mengikuti pelatihan penulisan persuasif dan berpikir kritis. Mereka kemudian dibagi ke dalam 10 kelompok diskusi untuk membahas lima topik utama:
1. Pendidikan – Mengembalikan anak yang tidak bersekolah ke bangku pendidikan.
2. Kesehatan – Meningkatkan akses dan layanan kesehatan yang merata dan berkualitas.
3. Lapangan Kerja – Menangani kesenjangan keterampilan (skill gap) pemuda dalam mengakses pekerjaan.
4. Ekosistem Transformasi Digital – Memperkuat praktik demokrasi di ruang digital.
5. Keberlanjutan Lingkungan – Adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta bencana.
Melalui diskusi dan presentasi antar kelompok, tiga topik prioritas disepakati: Pendidikan, Kesehatan, dan Lapangan Kerja. Rekomendasi yang dihasilkan mencakup rencana implementasi konkret, seperti pengembangan kebijakan pendidikan inklusif, peningkatan fasilitas dan tenaga pengajar, serta pemanfaatan platform digital untuk komunikasi lintas sektor.
Rekomendasi ini akan diajukan kepada pemangku kebijakan terkait untuk ditindaklanjuti. Selain itu, peserta diharapkan menerapkan cara berpikir kritis dan kolaboratif dalam kehidupan sehari-hari, termasuk berpartisipasi dalam Wikithon Partisipasi Publik pada tahun 2025.
Apresiasi untuk Suara Pemuda
Florida Andriana, Co-Founder & Chief Growth Officer Think Policy Indonesia, mengapresiasi acara ini. Ia menekankan pentingnya kebijakan publik berbasis bukti yang melibatkan suara pemuda sebagai elemen kritis.
“Suara pemuda itu tidak hanya penting tapi genting. Dengan ruang seperti ini, pemuda hadir tidak hanya sebagai tamu, tetapi sebagai mitra setara,” katanya.
Peserta lain, Andi Arfan, seorang teman tuli, mengungkapkan manfaat besar yang ia dapatkan dari kongres ini.
“Saya merasa forum ini sangat menyenangkan dan bermanfaat. Saya juga senang bisa berteman dengan orang-orang baru dan berbagi pengetahuan,” ujar pria 38 tahun tersebut, menegaskan pentingnya ruang inklusif. (*)



