by : Muhammad Akbar
Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al Maidah 54)
Kematian Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas pada 31 Juli 2024 di Tehran, Iran menjadi kabar duka bagi kemanusiaan dan utamanya bagi umat Muslim di seluruh dunia. Terlebih bagi masyarakat Gaza, Palestina. Semua bersedih.
Tak ada yang menduga tokoh utama atau di beberapa media disebut sebagai “Bos” Hamas yang menjadi ujung tombak perundingan damai, menjadi korban pembunuhan.
Pembunuhan keji yang dilakukan terhadap sosok yang selama ini dikenal sebagai tokoh yang mengedepankan dialog untuk mencapai perdamaian.
Lembut
Hamid Awaluddin, seorang kolumnis dan mantan diplomat RI yang sempat berinteraksi dengan Ismail Haniyeh dua pekan sebelum terbunuh, menyebut Haniyeh sebagai sosok yang jauh dari kesan ekstrimis.
Dia menyebutnya sebagai sosok yang sangat jauh dari kesan orang yang keras. Bahkan dia menyebut intonasi suaranya saja lembut. Begitu juga dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya sangat teduh.
“Jangan bayangkan Haniyeh itu orangnya keras, berapi-api. Revolusioner agitatif. Tidak. Sangat tidak. Lembut, meninggikan suara saja tidak. Dia merupakan tipe pemimpin politik yang menyenangkan diajak berdiskusi, ” ujar Hamid dalam wawancara dengan TvOneNews, pada Sabtu, 3 Agustus 2024.
Kelembutan hati dan perangai Haniyeh bukan hanya bisa dilihat dari interaksinya dengan orang-orang disekelilingnya tapi juga tercermin dari latar belakang akademik yang dimilikinya.
Haniyeh merupakan alumni dari Universitas Islam Gaza. Haniyeh mengantongi gelar Bidang Sastra Arab di Universitas Islam Gaza. Sebelumnya dia menyelesaikan studinya di Institute Al-Azhar, Gaza. Sementara jenjang pendidikan dasar hingga menengah di jalani di sekolah yang dikelola Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yakni United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA).
Masa-masa kuliahnya merupakan momen awal perjuangan politiknya dalam membebaskan Palestina. Dia aktif bergabung dengan kelompok mahasiswa Islam yang kemudian bertransformasi menjadi Harakat al-Muqawama al-Islamiyya (Hamas).
Pada tahun 1987, bertepatan dengan tahun kelulusannya, Haniyeh turut bergabung dengan gerakan perlawanan massal pertama melawan Israel yang disebut Intifadah pertama. Karena keterlibatannya pada aksi itu dia ditangkap dan dideportasi ke Lebanon Selatan selama setahun.
Fleksibel
Media-media pun banyak menyebutnya sebagai tokoh Hamas yang tergolong fleksibel dan pragmatis dalam melihat persoalan. BBC News menuliskan, Haniyeh dianggap seorang pragmatis di jajaran gerakan yang lebih terbuka untuk berdialog dengan Israel. Meski demikian, dia bersikeras bahwa Israel harus mengakui hak-hak Palestina sebelum perundingan dapat dimulai.
Tegas Namun Moderat
Meski flexibel, namun Haniyeh tegas mempertahankan apa yang diperjuangkannya. “Pemerintah kami tidak akan menyia-nyiakan upaya untuk mencapai perdamaian yang adil di wilayah tersebut, mengakhiri pendudukan, dan memulihkan hak-hak kami,” katanya sebagaimana dikutip dari BBC (2006).
Seorang guru besar ilmu politik di Universitas Al-Azhar di Gaza menyebut bahwa Haniyeh adalah penerus alami Mashaal dan mewakili “kelanjutan garis moderat di Hamas.” (2017)
Haniyeh bahkan tak takut melawan ancaman negara barat ketika menyampaikan program pemerintahannya. Dia bahkan meminta agar AS dan Uni Eropa untuk tidak merealisasikan ancaman memangkas pendanaan kepada Palestina kecuali mengakui Israel dan Hamas meninggalkan cara-cara kekerasan.
Dicintai Rakyat
Ismail Haniyeh adalah sosok pemimpin yang dicintai rakyatnya. Bukan hanya rakyat Gaza. Tetapi juga mayoritas penduduk Palestina. Kecintaan rakyatnya itu terbukti pada dukungan elektoral yang diperoleh pada 2006 lalu. Ismail Haniyeh meraih suara terbanyak untuk menjadi perdana menteri Palestina.
Dia meraih suara terbanyak pada pemilihan legislatif. Pencapaian itu baru pertama kalinya ditorehkan Hamas, melampaui Fatah yang telah memimpin selamat satu dekade.
Hamas yang dipimpin Haniyeh berhasil meraup 44,45% suara dan memperoleh 74 kursi legislatif. Sementara Fatah hanya meraih 41,43% suara dengan raihan kursi sebesar 45 kursi. Haniyeh memimpin Kabinet Daftar Perubahan dan Reformasi.
Saat menyusun Kabinet inilah Haniyeh mengalami tantangan untuk menyatukan faksi-faksi yang ada. Selama berminggu-minggu negosiasi untuk membangun koalisi antara Fatah dan faksi-faksi lain selalu gagal. Hingga akhirnya kabinet terpaksa diisi oleh sebagian besar dari Hamas.
Haniyeh hanya sebentar saja di tampuk pimpinan Palestina. Negara-negara barat yang pro terhadap Israel menolaknya. Akhirnya, pada 2007 kabinet yang dipimpinnya dibubarkan. Diambil alih oleh pemerintahan sementara yang dipegang langsung Presiden Palestina, Mahmoud Abbas.
Penutup
Kiprah perjuangan Ismail Haniyeh yang memiliki nama lengkap Ismail Abdul Salam Ahmad Haniyyah mengingatkan kami dengan sosok pasukan atau kaum yang diceritakan Allah SWT dalam Al Quran Surah Al Maidah, yaitu kaum yang lemah lembut terhadap sesama muslim namun keras terhadap musuh.