Makassar,–Blokade jalan nasional oleh massa pendukung pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya dan Luwu Tengah telah memicu krisis logistik dan energi di wilayah Luwu Raya. Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, memperingatkan, aksi penutupan jalan justru membebani masyarakat setempat dengan kelangkaan BBM dan melambungnya harga kebutuhan pokok.

“Melakukan aksi dengan menutup jalan, secara tidak langsung, menyusahkan saudara-saudara kita sendiri di Luwu. Saat distribusi terhambat, pasokan BBM dan sembako macet, yang akhirnya menjadi korban adalah rakyat,” tegas Jufri Rahman di Makassar, Senin (26/1/2026) siang.
Dampak Nyata: Harga BBM Tembus Rp40 Ribu per Liter
Dampak blokade di ruas Jalan Trans Sulawesi, khususnya di Jembatan Baliase (Luwu Utara) dan perbatasan Walenrang Utara, sudah dirasakan langsung oleh warga. Distribusi BBM tersendat total karena puluhan mobil tangki Pertamina tidak bisa melintas.
Akibatnya, di Kabupaten Luwu Timur, sejumlah SPBU dilaporkan tutup akibat kehabisan stok. Warga di Kecamatan Mangkutana terpaksa membeli BBM dengan harga mencapai Rp 40.000 per liter, sementara di Malili, harga Pertalite dan Pertamax dilaporkan menyentuh Rp30.000 per liter.
“Jika BBM langka, harga pasti naik. Dan yang paling dirugikan adalah rakyat biasa,” jelas Jufri.
12 Mobil Tangki Tertahan, Pemerintah Daerah Berupaya Cari Solusi
Kepala Dinas Perdagangan Luwu Timur, Senfry Oktavianus, mengonfirmasi bahwa setidaknya 12 mobil tangki BBM milik Pertamina masih tertahan di jalan akibat lima titik blokade. Pihaknya bersama Pertamina sedang berupaya mencari celah agar pasokan energi vital ini bisa segera ditembuskan ke daerah yang kekurangan.
“Kami berupaya agar ada pengecualian bagi kendaraan pengangkut logistik dan BBM. Kami juga mengimbau agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi ini untuk meraup keuntungan dari kenaikan harga,” pungkas Senfry.
Meski demikian, Senfry menyatakan bahwa hingga saat ini belum terlihat antrean panjang di SPBU, karena masyarakat dinilai memahami situasi yang tengah berlangsung.
Jalan Masamba Mulai Dibuka, Sekda Berharap Normalisasi Berlanjut
Sekda Jufri Rahman menyampaikan secercah kabar baik, bahwa akses jalan menuju Masamba, Luwu Utara, mulai dibuka pasca imbauan dari Datuk Luwu yang disebarluaskan melalui media sosial.
“Kita berharap ini menjadi langkah awal pemulihan dan tidak ada lagi penutupan akses jalan. Aspirasi pemekaran harus disampaikan melalui jalur dialog dan mekanisme pemerintahan yang tepat, bukan dengan cara yang justru menyengsarakan masyarakat,” tutup Jufri.
Peringatan keras dari pemerintah provinsi ini menekankan bahwa eskalasi aksi justru berpotensi memutus rantai pasokan dan memperparah kondisi ekonomi masyarakat lokal, yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama dari pembangunan daerah. (*)






