Makassar,– Kejahatan hipnotis kembali menghantui masyarakat Sulawesi Selatan. Dalam beberapa bulan terakhir, warga di Makassar, Gowa, Takalar, Wajo, dan sekitarnya digegerkan oleh sejumlah kasus penipuan yang dilakukan dengan modus hipnotis. Tak tanggung-tanggung, korban bahkan kehilangan uang dalam jumlah fantastis.

Kasus terbaru terjadi di Makassar pada pekan lalu, saat seorang lanjut usia (lansia) menjadi korban. Dalam kejadian tersebut, pelaku berhasil menggasak dana sebesar Rp180 juta dari tangan korban. Beruntung, pihak kepolisian berhasil mengungkap kasus ini dan menangkap pelaku beserta sindikatnya.
Menanggapi maraknya kasus ini, Muhammad Harun, Ketua Hipnoterapi Profesional Indonesia (PERHISA) Kota Makassar sekaligus praktisi hipnoterapi selama lebih dari 9 tahun, memberikan penjelasan dan klarifikasi penting. Ia menegaskan bahwa kejahatan seperti ini tidak bisa disamakan dengan hipnotis ilmiah.
“Saya tidak sepakat kalau hal ini dikatakan pure hipnotis, karena sejatinya hipnotis yang berbasis sains justru bertujuan memberdayakan diri, mental, dan pikiran secara positif,” tegas Harun.
“Sayangnya, stigma negatif terhadap hipnotis sudah terlanjur melekat di masyarakat.”
Menurutnya, istilah yang lebih tepat untuk fenomena ini adalah Penipuan Berbasis Sugesti, bukan hipnotis dalam konteks ilmiah seperti yang digunakan dalam hipnoterapi klinis atau psikologi.
Modus Kejahatan Hipnotis: Sugesti dan Manipulasi Psikologis
Muhammad Harun yang juga menjabat sebagai dosen di Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi Dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjelaskan secara rinci bagaimana pelaku menjalankan aksinya:
- Menciptakan Keadaan Bingung atau Lengah
Pelaku kerap menggunakan confusion technique — mengajukan pertanyaan cepat dan aneh, menyentuh korban, atau memberi instruksi membingungkan. - Menggunakan Sugesti Verbal
Ucapan halus namun manipulatif seperti “Tenang saja, serahkan dompetmu,” atau “Kamu percaya saya, kan?” disampaikan untuk melemahkan pertahanan mental korban. - Memanfaatkan Kondisi Psikologis Korban
Korban yang sedang lelah, cemas, mengantuk, atau tidak fokus lebih mudah dimanipulasi. - Aksi Singkat dan Cepat
Dalam hitungan menit, pelaku sudah berhasil mengambil barang atau uang korban tanpa disadari.
“Ini bukan hipnotis seperti di panggung yang kita tonton di televisi. Ini adalah manipulasi persepsi dan reaksi korban melalui komunikasi dan kondisi psikologis yang dimanfaatkan secara licik,” jelas Harun.
Tips Mencegah Kejahatan Hipnotis
Untuk mencegah menjadi korban, Harun mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan tidak terlalu mudah terlibat komunikasi dengan orang asing. Ia juga membagikan sejumlah tips praktis:
- Selalu jaga kesadaran penuh saat berada di tempat umum, apalagi jika sendirian.
- Hindari kontak mata terlalu lama dengan orang asing.
- Bila merasa bingung akibat ucapan aneh atau cepat dari seseorang, segera mundur dan pergi.
- Jangan mudah percaya pada orang yang tiba-tiba datang dengan alasan mencurigakan.
- Waspadai orang asing yang terlalu ramah, dominan, atau bersikap sok kenal.