Shamsi Ali Al-Kajangi*
Semua manusia di dunia ini merasa sedang menjalani kehidupannya. Dengan berbagai aktifitas dan kesenangan kemudahan (conveniences) hidup manusia terlena dengan zina nyamannya. Seolah semua terjamin dan pasti (taken for granted) dengan kehidupannya. Padahal jika kita mencoba menyelami lebih dalam lagi tentang hakikat kehidupan akan didapati betapa banyak di antara manusia yang sedang hidup dalam kepura-puraan.
Hidup kepura-puraan itu bisa dimaknai sebagai menjalani kehidupan dengan ketidak jujuran. Manusia berpura-pura kaya dengan harta dan dunianya. Tapi secara hakikat merana dengan kemiskinan. Manusia berpura-pura pintar. Tapi sejatinya sedang mengalami kebodohan yang menggelikan. Bahkan manusia berpura-pura beradab. Tapi menjalani kehidupan yang sangat biadab. Dan mereka tidak akan merasakan ketenangan hidup karena penuh dengan kebohongan (pada diri sendiri).
Hidup berpura-pura juga bisa dimaknai sebagai kehidupan yang tidak sejati. Merasa hidup tapi sejatinya mengalami kematian. Secara fisik dan material nampak hidup sehat dan kuat. Bahkan merasa dan dipandang sukses oleh banyak kalangan. Namun sejatinya mereka adalah “mayat-mayat” yang bergerak berjalan ke sana kemari di atas bumi ini.
Realita inilah yang disampaikan oleh Allah dengan sebuah penegasan dalam Al-Quran: “dan tidaklah mereka yang hidup sama dengan mereka yang mati” (Al-Quran, Fatir: 22).
Islam menyampaikan bahwa kehidupan yang sesungguhnya tidak sekedar hidup bahkan sehat dan kuat secara fisik. Tapi kehidupan yang mencakup tiga aspek dasar dari kehidupan manusia. Secara fisik kuat dan sehat. Secara akal tajam. Dan secara ruh (spiritual) sehat dan tajam. Ketika tiga aspek kehidupan ini hidup dan sehat maka itulah yang dikenal dalam Islam dengan “al-hayaah” (kehidupan). Dan manusia hanya akan menjadi manusia ketika ketiga hal ini hidup dan sehat.
Hidup hakiki seperti itulah yang diserukan Allah untuk dijaga. Sebagaimana firmanNya: “Wahai orang-orang yang beriman penuhi ajakan Allah dan RasulNya jika Dia (Allah/Rasulullah) mengajakmu kepada apa yang memberimu hidup”. (Al-Anfal: 24).
Yang menghidupkan itu Hidayah
Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apa yang dimaksud dengan “apa yang memberimu hidup” pada ayat di atas? Para Ulama menyimpulkan bahwa “limaa yuhyiikim” atau yang memberi kehidupan yang dimaksud adalah “hidayah Allah dan RasulNya”. Keduanya terincikan dalam hadits: “saya tinggalkan dua hal untuk kalian yang jika kalian ikuti tidak akan tersesat selamanya. Kitab Allah dan Sunnahku”.
Urgensi hidayah bagi manusia sepenting hidupnya. Bahwa manusia sesungguhnya akan menyikapinya sebagaimana menyikapi hidupnya sendiri. Manusia akan melakukan segala hal untuk menyelamatkan hidupnya.
Bayangkan suatu ketika jika anda divonis kanker dengan level 4. Pastinya semua kepemilikan itu tiada lagi berguna. Yang berguna hanya yang dapat menyelamatkan hidup anda. Tapi pernahkah kita merasa bahwa segala hal dari hidup dunia kita ini tiada arti tanpa hidayah?
Sedemikian pentingnya hidayah untuk kehidupan sejati, setiap Muslim dituntut untuk meminta kepada Allah minimal 17 kali dalam Sholat-Sholat lima waktu: ya Allah tunjuki kami ke jalan lurus”. Kata “ihdina” (hidayah atau petunjuk) menjadi kunci utama dari doa yang diulang-ulang sepanjang hayat itu. Karena setiap insan Mukmin sadar hidup tanpa hidayah adalah kehidupan yang berpura-pura.
Itulah yang dipahami oleh para sahabat Rasulullah dan Ulama-Ulama Islam dan para pejuang Islam dengan keikhlasan. Abu Bakar rela menghabiskan harta kekayaannya untuk perjuangan Rasulullah karena sadar makna kehidupan sejati. Bilal dan Ammar rela menderita secara fisik dan batin karena tahu apa kehidupan yang hakiki. Bukan seperti sebagian orang yang selalu mengukur kehidupan dengan nilai kesementaraan (dunia/materi) yang penuh dengan kebohongan dan tipu muslihat. Dan memburunya pula dengan berbagai tipu dan kebohongan. Percayalah orang seperti tak akan tenang dalam hidupnya. Dan lebih tragis lagi, penderitaan abadi menunggu di seberang sana.
Lalu apakah hidayah itu? (Bersambung)!
NYC Subway, 20 Agustus 2024
Presiden Nusantara Foundation [8/26, 00:12] Shamsi Ali: Mengenal Hidayah dan tingkatannya- 03 Shamsi Ali Al-Kajangi
Pada bagian lalu disampaikan bahwa kategori hidayah yang pertama adalah hidayah dalam penciptaan (Hidayah fil-khalq). Sebagaimana Allah sebutkan: “Dialah yang mencipta dan membentuk. Dan Dia yang menentukan dan memberikan hidayah” (Al-a’laa: 2-3).
Secara naluri/alami sesungguhnya manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang manfaat dan mana yang mudhorat, bahkan mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupan ini. Sehingga di saat seseorang konsisten dengan “tabiatnya yang alami” yang disebut fitrah maka dia dapat terselamatkan dari ancaman hukuman (azan). Apalagi jika orang tersebut memang belum tersentuh sama sekali oleh da’wah Islam.
Hidayah melalui wahyu samawi
Akan tetapi karena kasih sayangNya kepada semua hambaNya Allah menguatkan (affirming) hidayah penciptaanNya dengan mengutus Rasul-Rasul untuk membawa tuntunan Allah (wahyu) sepanjang masa. Selain para Rasul Allah juga memilih sebagian hamba-hambaNya menjadi nabi dengan tanggung jawab terbatas untuk keluarganya. Adam sebagai manusia pertama adalah satu dari nabi-nabi yang Allah pilih.
Dalam ajaran Islam disampaikan bahwa Allah telah mengutus Rasul-Rasul ke seluruh kelompok manusia (umat). Allah menyampaikan itu: “Sungguh Kami telah mengutus kepada semua semua bangsa/umat seorang Rasul” (An-NAHL: 36). Hanya saja sebagian diinformasikan kisahnya. Sebagian yang lain tidak disampaikan kisahnya kepada kita (lihat: surah Ghaafir: 78).
Al-Qur’an menyampaikan 25 nama nabi dan Rasul. Al-Qur’an juga menyebutkan nama-nama Kitab Suci yang diturunkan sebagai tuntunan bagi manusia sepanjang masa. Selain Al-Quran yang memuat ajaran Ilahi yang sempurna, disebutkan Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS, Kitab Zabur kepada Nabi Daud AS, Kita Injil kepada nabi Isa AS, dan juga lembaran-lembaran wahyu (suhuf) yang diturunkan kepada nabi Ibrahim AS.
Poinnya adalah bahwa tingakatan hidayah kedua yang Allah karuniakan kepada manusia adalah hidayah dalam bentuk wahyu melalui pada nabi dan Rasul. Pada tingkatan hidayah inilah ada keterlibatan manusia. Dari para nabi dan Rasul, Ulama dan adaatidz, dan semua pelaku da’wah (umat secara keseluruhan) mengambil bagian.
Tanggung jawab hidayah para nabi dan Rasul dan para Ulama dan du’aat ini dikenal dengan istilah “hidayat al-irsyaad”. Sebagaimana Allah sampaikan kepada RasulNya: “dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus” (As-Syuura: 52).
Bahkan pada tataran inilah para nabi dan Rasul, para Ulama dan da’i diwajibkan untuk menyampaikan. Perintah-perintah seperti: “ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah” atau “sampaikan apa yang diturunkan padamu” semuanya merujuk pada bentuk hidayah al-irsyaad ini.
Di luar dari hidayah al-Irsyad dalam arti mengajak, mengajarkan, menyampaikan, mengingatkan, dan yang semakna, manusia termasuk para nabi dan Rasul tidak memilki wewenang dan tanggung jawab. Bahkan dengan tegas Allah mengingatkan: “kewajibanmu hanya menyampaikan”. Di ayat lain Allah menegaskan: “kamu tidak memiliki otoritas atas mereka (untuk memaksa)”. Dan banyak ayat-ayat lain yang semakna dalam al-Quran.
Bahkan dengan tegas Allah menyampaikan: “tiada paksaan dalam (menerima) agama” (Al-Baqarah: 256).
Pada ayat lain Allah bahkan secara khusus mengingatkan RasulNya: “sesungguhnya engkau tidak akan mampu memberikan petunjuk kepada siapa yang engkau cintai. Tapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki” (Al-Qashas: 56).
Lalu jika hidayah al-irsyad itu hanya bersifat “informasi”, penyampaian (tablig) atau ajakan (Dakwah), Kapan seseorang menemukan hidayahnya? (Bersambung..)
Jamaica City, 25 Agustus 2024
*Presiden Nusantara Foundation
