Oleh : Rahmat Hidayat (Pegiat Ekonomi Islam)

Perang Iran dengan Zionis Israel dan Amerika menjadi tekanan berat di kawasan saat ini. Hal ini tentunya dipicu serangan rudal pembuka yang dilakukan oleh zionis Israel dengan Amerika pada tanggal 28 Februari 2026 yang kemudian menewaskan pimpinan tertinggi Iran yakni Sayyid Ayatoullah Ali Khameini. Kematian pemimpin tertinggi Iran ini menjadi pukulan berat bagi kubu Iran yang tidak menduga bahwa dalam serangan tersebut menyasar pemimpin kharismatik Iran.
Namun, pemerintah Iran tidak tinggal diam sejak hari pertama meletusnya perang Iran dengan zionis Israel dan Amerika, Iran telah meluncurkan ratusan rudal balistik yang menghantam kawasan Tel Aviv. Selain itu rudal Iran juga menargetkan tujuh negara di Kawasan. Serangan Iran terhadap tujuh negara Arab tersebut menargetkan pangkalanpangkalan militer AS di sana. Ketujuh target itu adalah pusat dukungan Armada Kelima di Bahrain, pangkalan di Kurdistan Irak, Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), Pangkalan
Udara Muwaffaq Al Salti di Yordania, dan Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi.
Serangan iran ini tentu memperparah intensitas peperangan di daerah kawasan. Iran juga telah menutup Selat Hormus pada hari Sabtu 28/02/2026 sebagai bentuk respon atas serangan Amerika.
Pelanggaran piagam PBB dan penjahat perang
Pada perang Iran dengan zionis Israel dan Amerika kali ini tentu terdapat dalang dan pelaku utama terhadap intensitas di kawasan. Presiden Amerika Serikat adalah salah satu dalang dari pecahnya perang di kawasan ini, selain itu Perdana Menteri zionis Israel Benyamin Netanyahu Laknatullah adalah sosok di balik penyerangan awal oleh tentara Israel.
Tindakan yang dilakukan oleh kedua orang ini adalah bentuk nyata dari pembangkangan terhadap piagamperdamaian PBB yang dimana bertujuan memelihara perdamaian dan keamanan internasionaldengan melarang penggunaan kekerasan antarnegara, mendorong penyelesaian sengketa secaradamai, serta menghormati hak asasi manusia. Beberapa negara pun mengecam dan mengutu serangan zionis Israel dan Amerika tersebut, Iran melontarkan pernyataan pada rapat darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa zionis Israel dan Amerika merupakan penjahat perang.
Trump dengan Obsesi dan ketakutannya
Sejak menjabat sebagai presiden Amerika, Trump telah berkontribusi banyak terhadap beberapa perang yang terjadi. Mulai dari perang Rusia dengan Ukraina, Afganistan, Israel dengan Palestina, sampai pada akhirnya Iran dengan Israel dan Amerika sendiri. Bukan hanya itu, Amerika (Trump) juga beberapa kali memprakarsai perang dagang antar negara dengan
penetapan tarifnya.
Melakukan ancaman terhadap Denmark yang ingin merebut Greenland, penculikan presiden Venezuela (Mauduro), melontarkan ancaman kepada negara Kuba, Meksiko, bahkan negara Kolombia. Semua ini dilakukan Trump dengan dalih membebaskan warga negara tersebut dan menginginkan perdamaian. Namun, dalih tersebut di selimuti dengan kekacauan di beberapa negara dan menjadikan geopolitik terasa di ambang peperangan.
Trump memiliki obsesi yang sangat tinggi menjadi pemimpin dunia, seolah-oleh kedaulatan suatu negara ada di tangan Trump selama negara tersebut tidak mengikuti arahan dan kemauan Trump. Namun, dibalik obsesi tersebut terdapat ketakutan yang menggerogoti jiwa Trump sehingga negara-negara yang membangkan atas perintahnya akan di hancurkan dan di fitnah habis-habisan oleh Trump. Sehingga narasi bahwa Trump adalah seorang yang memiliki ketakutan sangat pantas untuk disematkan pada dirinya. Setidaknya ada 3 alasan mengapa saya mengatakan bahwa Trum memiliki obsesi dan ketakutan dalam dirinya:
- Mengandalkan negara lain sebagai basis peperangan
Setiap peperangan atau eskalasi yang terjadi, Amerika (Trump) tidak pernah melibatkan
negaranya secara geografis dalam peperangan. Walaupun sebenarnya secara historis
hampir semua presiden AS modern—baik dari Partai Republik maupun Demokrat—
menggunakan pola yang sama. Sejak Perang Dunia II, strategi militer AS memang
berbasis proyeksi kekuatan global (forward military presence), bukan pertahanan
berbasis perang domestik. Sebagai contoh, perang Ukraina dengan Rusia, walaupun
hanya dua negara yang berperang, namun bantuan persenjataan dan militer Amerika
Serikat sangat masif dalam mendukung Ukraina pada perang tersebut. Perang Israel
dan Palestina, hal ini jelas mengundang kritik tajam beberapa negarawan bahwa
Amerika sebenarnya berperan penting dalam eskalasi tersebut sejak lama. Perang Iran
dan Israel yang diprakarsai oleh dua sosok propagandis. Siap perang artinya negara siap
berkontribusi atas kehancuran, bukan mengadu dua negara tanpa ingin negara hancur,
narasi inilah yang sebenarnya ditakuti oleh Trump. Presiden Amerika ini hanya ingin
mengadu dua negara tanpa ingin negaranya hancur akibat dampak peperangan. - Melakukan Fitnah kepada negara lain
Dalam dinamika politik global, Donald Trump kerap melontarkan pernyataan keras
terhadap negara-negara besar seperti Rusia dan China, yang selama ini dipandang
sebagai rival strategis Amerika Serikat. Salah satu isu yang sempat menjadi perhatian
internasional adalah keinginan Trump untuk “membeli” atau menguasai Greenland,
wilayah otonom milik Denmark yang memiliki posisi strategis di kawasan Arktik.
Trump menyampaikan kekhawatiran bahwa Rusia dan China berpotensi memperluas
pengaruh geopolitiknya di kawasan tersebut. Dalam narasi kritik terhadapnya,
pernyataan ini dipandang sebagai bentuk tuduhan atau propaganda yang dibesarbesarkan
tanpa ancaman militer langsung yang konkret terhadap Amerika Serikat saat
itu. Rusia dan China memang meningkatkan aktivitas ekonomi dan investasi di
kawasan Arktik, tetapi tidak terdapat deklarasi resmi yang menunjukkan ancaman
langsung terhadap kedaulatan AS.
Kritik yang berkembang menyebut bahwa langkah Trump lebih dilandasi oleh
ketakutan terhadap ekspansi pengaruh ekonomi dan geopolitik kedua negara tersebut,
khususnya dalam sektor sumber daya alam, jalur pelayaran Arktik, dan potensi militer
jangka panjang. Dengan kata lain, ketegangan tersebut lebih bersifat persaingan
strategis daripada ancaman perang terbuka. Sikap ini dapat ditafsirkan sebagai respons
defensif yang berlebihan terhadap potensi rivalitas global. Namun dari perspektif
geopolitik realis, tindakan tersebut justru bisa dilihat sebagai bentuk pencegahan dini
(preemptive strategic containment) terhadap kebangkitan kekuatan pesaing di wilayah
yang memiliki nilai ekonomi dan militer tinggi. - Menjadi sosok pahlawan perdamaian di tengah kekacauan yang diciptakan
Dalam sejumlah dinamika politik internasional, Donald Trump kerap memposisikan
dirinya sebagai figur pembawa perdamaian setelah sebelumnya mengambil langkahlangkah
yang memicu ketegangan. Pola ini terlihat dalam beberapa peristiwa ketika
retorika keras, ancaman militer, atau kebijakan konfrontatif terlebih dahulu dilontarkan,
lalu diikuti dengan pendekatan diplomasi yang kemudian dipresentasikan sebagai
keberhasilan pribadi dalam menciptakan stabilitas.
Sebagai contoh, eskalasi ketegangan dengan Iran pada 2020 setelah serangan terhadap
Qasem Soleimani sempat memicu kekhawatiran akan perang terbuka. Namun setelah
Iran melakukan serangan balasan terbatas, Trump memilih untuk tidak melanjutkan
eskalasi militer besar-besaran dan menyampaikan bahwa Amerika tidak ingin perang.
Dalam narasi pendukungnya, langkah tersebut dipandang sebagai keberanian menahan
diri demi mencegah konflik global.
Namun dalam perspektif kritik, muncul pandangan bahwa situasi krisis tersebut pada
awalnya dipicu oleh keputusan sepihak yang agresif, kemudian penyelesaiannya
diposisikan sebagai keberhasilan diplomatik. Dengan kata lain, ia dinilai menciptakan
ketegangan terlebih dahulu, lalu tampil sebagai figur yang meredakan ketegangan
tersebut.
Hal serupa juga terlihat dalam hubungan dengan Korea Utara. Retorika awal yang
sangat keras—bahkan sempat saling melontarkan ancaman—kemudian berubah
menjadi pertemuan diplomatik langsung dengan Kim Jong-un. Bagi sebagian pihak,
transformasi drastis dari konfrontasi ke dialog tersebut menunjukkan inkonsistensi
strategi. Kritik menyebut bahwa pendekatan ini lebih berorientasi pada citra politik dan
pencitraan kepemimpinan global, daripada penyelesaian struktural jangka panjang atas
isu nuklir.
Sudut pandang analisis politik, pola “create tension – offer resolution” dapat dibaca
sebagai strategi negosiasi berbasis tekanan (pressure diplomacy). Akan tetapi, dalam
sudut pandang yang lebih skeptis, hal ini dianggap sebagai upaya membangun narasi
kepahlawanan perdamaian di tengah kondisi yang sebagian disebabkan oleh kebijakan
dan retorika yang ia bangun sendiri.
Narasi bahwa Trump adalah sosok yang diliputi ketakutan bukanlah tuduhan tanpa dasar,
melainkan interpretasi atas pola kebijakan yang tampak konsisten. Pertama, ketergantungannya
pada wilayah negara lain sebagai basis eskalasi konflik menunjukkan keengganan menghadapi
konsekuensi langsung peperangan. Kedua, tudingan dan propaganda terhadap rival global
seperti Rusia dan China memperlihatkan kekhawatiran berlebihan terhadap ekspansi pengaruh
yang sejatinya masih berada dalam koridor persaingan geopolitik wajar. Ketiga,
kecenderungannya membangun ketegangan terlebih dahulu lalu memosisikan diri sebagai figur
penyelamat perdamaian menggambarkan adanya kebutuhan kuat untuk mengontrol narasi dan
citra kepemimpinan.
Obsesi terhadap dominasi global dan ketakutan akan hilangnya supremasi Amerika tampak
berjalan beriringan dalam berbagai kebijakan tersebut. Dalam perspektif ini, keberanian yang
ditampilkan di ruang publik justru bisa dibaca sebagai mekanisme kompensasi atas kecemasan
strategis yang mendasarinya. (*)






