Sosok Danlantamal VI Makassar, Jenderal Santri Dari Sulsel

*M. Rusydi Arif                 

Direktur Damai Bangsa Institute (Alumni Ponpes As’adiyah, Alumni Al Azhar Mesir)    

Dipenghujung menjelang berakhirnya tahun 2024, Sulsel kembali menorehkan tinta emas. Seorang putra terbaik Sulsel dengan usia yang masih muda, 47 tahun, berhasil meraih pangkat perwira tinggi “Bintang Satu” dari matra Angkatan Laut dari Korps Marinir, yaitu Brigadir Jenderal (Mar.) Dr. Wahyudi Latief, S.E., M.M., M.Han., Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VI yang berkedudukan di Makassar dengan area dan wilayah operasi meliputi Sulsel, Sulbar, Sulteng, Sultra.

Sejak dulu, Sulsel dikenal sebagai daerah yang banyak memproduksi Jenderal TNI – Polri yang memiliki karir cemerlang saat menjabat. Sebutlah misalnya, Jenderal TNI (purn.) M Jusuf, Mayjend TNI (alm.) A. Mattalatta, Brigjen TNI (alm.) Andi Sose, Letjend TNI (purn.) Sjafrie Syamsuddin, Jenderal Polisi (purn.) Idham Azis, Komjen Polisi (purn.) M Yusuf Manggabarani,  Letjend TNI (purn.) Syarifuddin Tippe, dan puluhan Jenderal lainnya yang berasal dari tanah Bugis-Makassar.

Tapi, yang menarik kali ini, lain dari yang lain, seorang Jenderal baru lahir dari Sulsel dengan latar belakang pendidikan murni jebolan Pesantren. Ia menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertamanya di Pesantren Pondok Madinah (1991) dan Pendidikan Menengah Atasnya di Pesantren DDI Mangkoso (1995).

Dalam sejarah perjalanan militer Indonesia, terutama pasca reformasi, memang kadang ada Jenderal muncul dipermukaan dan disematkan dalam dirinya “Jenderal Santri”, karena kepeduliannya pada dunia Pesantren, kedekatannya dengan para Kyai, Ulama, Tokoh Agama dan Ormas Islam. Tapi Jenderal satu ini berbeda dengan Jenderal lainnya yang disebut Jenderal Santri. Ini benar-benar Jenderal Santri. Ia lahir dari rahim Pondok Pesantren, dan tumbuh-besar sejak dini dari sebuah tradisi yang sama sekali jauh dari dunia militer. Jenjang pendidikannya Menengah Pertama dan Menengah Atas diselesaikan di Pesantren. Ia tinggal di asrama dengan fasilitas yang serba terbatas. Ia menyatu dan membaur dengan ala kehidupan seorang santri, apa adanya, bersama santri lainnya hingga ia menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun untuk menghafal al-Qur’an- hadits, membaca dan menelaah kitab kuning sebagai kitab wajib bagi seorang santri.

*Perwira Karakter Humanis*

Hari ini, 20/11/2024, ia menginjakkan kakinya di kampung halamannya, Makassar, setelah kurang lebih 28 tahun ia tinggalkan kota kelahirannya.

Sepanjang karir militernya, sosok perwira tinggi ini sebagian besar penugasan dan karir militernya ia habiskan di lapangan. Berbagai jabatan yang diembannya sebagai komandan satuan, dan semuanya sebagian besar di pasukan tempur. Karena itu ia tipikal perwira tempur. Perwira Komando.

Selama masa pengabdiannya di luar Sulsel, khususnya ketika berdinas di Jakarta, penulis berkesempatan berjumpa dan berinteraksi cukup lama dengan beliau.

Perjumpaan penulis dengannya terjadi sejak tahun 2004.

Sosok perwira tinggi yang murah senyum, tegap dan angker ini, meskipun tampak demikian, kesan angkernya serta merta akan luntur jika sudah kenal dekat dengannya. Bahkan kesan menonjol dari sosoknya adalah sisi humanismenya, sangat jauh dari kesan seorang militer murni

Bagi orang yang mengenal dan pernah dekat, bergaul dengannya pasti terasa nyaman. Tidak ada rasa canggung. Ia tipikal teman dan lawan diskusi yang mengasyikkan. Kita bisa berdiskusi panjang lebar dengan beragam tema dan topik diskusi, bahkan tema diskusi yang sangat beratpun beliau begitu menikmatinya. Kekuatan daya ingat dan intelektualitasnya terlihat sangat dominan. Ia mampu menjelaskan dengan sangat baik, sama baiknya pengusaannya tentang dunia Pertahanan RI, sangat detil. Ia mampu menguraikan satu objek diskusi dengan bahasa sederhana dan dengan pendekatan epistimologi yang mudah dicerna dan dipahami. Ringkasnya sangat runtut dan sistematis.

*Leadership yang Kuat*

Perjumpaan dan interaksi penulis dengan sang Jenderal yang terjalin sejak 20 tahun yang lalu membawa penulis punya kesan tersendiri, sehingga banyak cerita yang bisa terceritakan.

Melalui artikel ini, penulis dan sang Jenderal permah mengalami pengalaman lucu dan menggemaskan, tapi dari kejadian tersebut sesungguhnya tersirat pesan moral bagaimana sikap sesungguhnya seorang perwira TNI harus ikut prosedur dan unduk dengan peraturan yang berlaku di lapangan.  

Seingat penulis, kira-kira akhir tahun 2005, sekitar pukul 12.00 malam,  kami berdua sedang dalam perjalan pulang dari suatu tempat di Jakarta Utara, saat itu persis di pertigaan lampu merah, di depan Mall Cempaka Emas, Jakarta Pusat terjadi razia besar-besaran dari Kepolisian Jakarta Pusat. Mobil yang kami tumpangi yang dikemudikan sendiri oleh beliau, tiba-tiba dicegat, disuruh berhenti dan menepi. Seperti lazimnya sebuah operasi (razia)  kelengkapan mobil (STNK) dan izin mengemudi (SIM) diperiksa. Semua yang  terkait hal itu lengkap. Dugaan penulis karena tidak ada pelanggaran, kami bisa melanjutkan perjalanan, ternyata dugaan penulis keliru, razia tidak hanya berhenti di soal pemeriksaan alat kelengkapan kendaraan dan surat izin mengemudi saja, tapi merambah ke hal yang lain. Mungkin Petugas curiga. Petugas razia dengan jumlah sekitar 5 orang mengerubungi mobil kami dengan suara agak keras meminta kami keluar dari mobil, lalu mulailah dilakukan pemeriksaan, satu mobil digeledah, khususnya bagian dalamnya, sela dan celah jok mobil dan lainnya tak luput diperiksanya. Penulis sempat berharap agar tidak terlalu lama diperiksa, tidak ada salahnya ia memperkenalkan diri agar penggeledahan cepat selesai, tapi ia tidak melakukannya. Ia tunduk dan mengikuti prosedur baku sebagaimana lazimnya pelaksanaan operasi/razia.  Setelah dianggap tidak ada yang mencurigakan, sang Perwira ini pamit untuk kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang.

Dari cerita di atas, mungkin bagi sebagian orang bukan sesuatu yang teramat penting untuk diceritakan,  tapi bagi penulis di sinilah ukuran mentalitas dan karakter seorang perwira yang sudah matang. Uji kapasitas dan kapabilitas dalam mengatur ritme psikologis sebagai seorang komandan dalam kondisi tidak normal tidak membuatnya harus merasa kehilangan wibawa. Sumpah Saptamarga ia junjung setinggi-tingginya. 

Di sinilah sisi kepemimpinannya sudah nampak terlihat, dan pada akhirmya takdir menentukan, ia harus menjadi Komandan di negeri para petarung, Sulsel. 

Sukses selalu Ustad Jenderal.

Tinggalkan komentar