Jakarta – Prestasi membanggakan diraih oleh Sri Fatmawati, Ph.D., dosen Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang berhasil memenangkan penghargaan bergengsi Female Science Talents 2024 di Jerman. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa talenta Indonesia mampu bersaing di panggung internasional, khususnya di bidang riset kimia bahan alam.
Hal itu diungkap Ketua Dewan Ekonomi Nasional Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan saat menerima Sri Fatmawati di ruang kerjanya, Rabu (18/12/2024). Di samping luhut juga hadir Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Stella Christie.

Sri Fatmawati, perempuan asal Madura, telah mengabdikan 22 tahun hidupnya untuk meneliti kekayaan alam Indonesia, khususnya jamu.
Dalam akun instagram @luhut.pandjaitan, dia mengatakan, sebagai warisan budaya yang menjadi identitas bangsa, jamu memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan yang kompetitif di pasar global.
Namun, di balik prestasi ini, Sri menyoroti tantangan yang dihadapi peneliti di Indonesia, terutama keterbatasan infrastruktur riset.
“Infrastruktur penelitian kita masih perlu banyak peningkatan untuk bisa bersaing dalam inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Sri Fatmawati kepada Luhut.
Dalam sebuah pertemuan resmi, pemerintah menyampaikan dukungan terhadap riset dan pengembangan ilmu pengetahuan, sesuai dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan pendidikan dan riset sebagai prioritas utama. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga turut hadir untuk mendengarkan aspirasi langsung dari para peneliti.
Indonesia, yang memiliki biodiversitas terbesar di dunia, dianggap memiliki modal luar biasa untuk mengembangkan riset berkelanjutan. Pasar global untuk obat-obatan berbahan alami telah mencapai nilai USD 200,95 miliar pada 2023, atau setara Rp 3.154 triliun. Hal ini menunjukkan peluang besar yang bisa dimanfaatkan Indonesia.
Sebagai langkah konkret, pemerintah telah mengembangkan Taman Sains dan Tanaman Herbal di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
Proyek strategis ini bertujuan untuk meneliti dan mengembangkan lebih dari 400 tanaman herbal yang telah dikumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki, didukung riset dan inovasi, Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam industri herbal dunia,” tegas Sri Fatmawati.
Penghargaan yang diraih Sri Fatmawati tidak hanya mengharumkan nama bangsa, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya investasi pada riset dan pendidikan sebagai pilar utama kemajuan Indonesia. (*)
