Samarinda – Program Studi Pembangunan Sosial (Pemsos) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman (FISIP-UNMUL) menjalin komitmen kerjasama dengan Kesultanan dan adat Paser di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara (KIPP-IKN).
Pada Senin (3/3), rombongan Kesultanan dan adat Paser berkunjung ke FISIP-UNMUL dan disambut langsung oleh Dekan FISIP-UNMUL, Dr. Finnah Furqoniah, M.Si, serta Ketua Program Studi Pembangunan Sosial, A. Ismail Lukman, M.A, di ruang rapat dekanat lantai 2.
Dalam sambutannya, Dr. Finnah menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut dan menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tiga tugas utama dalam Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, kami di FISIP-UNMUL ingin berkontribusi dalam pembangunan masyarakat adat di sekitar IKN,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keterbukaan Kesultanan dan masyarakat adat Paser untuk berkolaborasi dengan akademisi. “Insya Allah, melalui Prodi Pembangunan Sosial, kami siap melakukan pengabdian kepada masyarakat di wilayah adat Paser,” tambahnya.
Senada dengan itu, A. Ismail Lukman, M.A., menjelaskan bahwa Prodi Pembangunan Sosial memiliki tiga fokus utama, yaitu pemberdayaan masyarakat, kebijakan sosial, dan tata kelola CSR. “Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), kami siap mendampingi masyarakat adat Paser dalam berbagai program pembangunan sosial,” ujarnya.
Sultan Paser, Yang Mulia Aji Muhammad Jarnawi, yang bergelar Sultan Muhammad Ibrahim Alamsyah III, menyambut baik kerjasama ini. Ia menegaskan pentingnya keberadaan perguruan tinggi dalam membantu menjaga eksistensi adat di sekitar IKN. “Kami sangat terbuka untuk bekerjasama dengan berbagai pihak guna memastikan budaya dan kearifan lokal Paser tetap lestari,” kata Sultan dalam pertemuan di Hotel Grand Verona, Samarinda.
Sultan juga berharap agar warisan budaya Paser bisa diakui secara resmi oleh pemerintah dan menjadi bagian dari identitas IKN. “Kami ingin agar setiap wilayah di IKN memiliki ciri khas budaya Paser, termasuk dalam penamaan jalan, pelabuhan, dan gedung yang mengadopsi unsur bahasa dan budaya lokal,” tambahnya.
Kerabat Kesultanan Paser, Supian Nur, menekankan pentingnya penelitian sejarah Kesultanan Paser. “Kami berharap dosen-dosen Pembangunan Sosial FISIP-UNMUL dapat membantu meneliti dan membukukan sejarah Kesultanan Paser, sehingga bisa menjadi referensi bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Dosen Pembangunan Sosial, Anif Muchlasin, mengutip strategi pembangunan berbasis kolaborasi yang diterapkan oleh Kesultanan Yogyakarta, yang dikenal dengan konsep “5K: Kraton, Kantor, Kampung, Kampus, dan Korporasi”. Ia menegaskan bahwa kampus memiliki peran penting dalam pengembangan sumber daya manusia di masyarakat adat Paser.
Sementara itu, Zulkifli Abdullah, dosen lainnya dari Prodi Pembangunan Sosial, menyatakan bahwa kerjasama ini merupakan bagian dari komitmen akademik dalam pemberdayaan masyarakat dan kebijakan sosial. “Kami akan melakukan pendampingan, pengembangan kapasitas manusia, serta penelitian yang dapat menjadi rekomendasi kebijakan bagi pembangunan masyarakat adat di sekitar IKN,” katanya.
Prodi Pembangunan Sosial FISIP-UNMUL berkomitmen untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat sipil, guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Timur.
