Makkah,— Pelaksanaan puncak ibadah haji 1446 H/2025 M yang ditandai dengan wukuf di Arafah akan jatuh pada Rabu, 5 Juni 2025. Sebagai bentuk kesiapan menghadapi momentum paling krusial dalam rangkaian ibadah haji ini, jemaah asal Indonesia telah mulai dipersiapkan sejak H-1 Armuzna, yaitu pada Selasa, 4 Juni 2025.

Armuzna merupakan akronim dari tiga lokasi utama dalam puncak ibadah haji, yakni Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Dalam tiga hari pelaksanaan (8–10 Dzulhijjah), jemaah akan menjalani sejumlah ritual yang memerlukan ketahanan fisik, mental, dan kesiapan logistik.
Guru Besar UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. M. Ishom El-Saha, dalam kolom yang dimuat Kemenag.go.id menggarisbawahi pentingnya kesiapan menyeluruh, baik dari sisi ibadah maupun manajemen diri.
Tujuh Persiapan Utama Menjelang Armuzna
Mandi Sunnah untuk Ihram Dilakukan pada pagi hari 8 Dzulhijjah, mandi sunnah ini dianjurkan sebelum mengenakan kain ihram. Pada tahap ini, jemaah masih boleh menggunakan wewangian.
Berpakaian Ihram Sesuai Ketentuan Jemaah pria mengenakan dua lembar kain tanpa jahitan, sementara jemaah perempuan menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Karena suhu tinggi, jemaah dianjurkan membawa payung untuk menghindari dehidrasi.
Mempersiapkan Perlengkapan Pribadi Barang-barang seperti pakaian ganti, obat-obatan, sabun, dan minyak oles sebaiknya dibawa dalam tas kecil selama berada di Armuzna.
Membawa Buku Panduan dan Aplikasi Ibadah Mushaf Al-Quran kecil, buku doa, serta aplikasi digital berbasis Android untuk bimbingan ibadah haji sangat disarankan untuk dibawa dan digunakan selama pelaksanaan manasik.
Menjaga Kekompakan Regu dan Rombongan Koordinasi dengan kelompok sangat penting, terutama dalam mobilisasi dari pemondokan ke Arafah, hingga proses lontar jumrah dan tahallul.
Menyimpan Barang Berharga di Koper Besar Barang penting sebaiknya tidak dibawa ke Armuzna. Jemaah kloter awal diingatkan bahwa koper besar biasanya dikirim lebih dulu ke bandara untuk kepulangan.
Tetap di Area Kemah Pada 8 Dzulhijjah, walaupun belum melaksanakan wukuf, jemaah disarankan untuk tetap berada di sekitar maktabnya guna menghindari tersesat atau terpisah dari rombongan.
Mewujudkan Ekosistem Haji yang Aman dan Nyaman
“Persiapan yang matang menjadi kunci sukses pelaksanaan haji. Setiap jemaah memegang peran dalam menciptakan ekosistem haji yang aman, tertib, dan nyaman,” ujar Prof. Ishom. Ia juga mengajak seluruh jemaah untuk menjadikan Armuzna sebagai momentum khusyuk dan optimal dalam beribadah.
Dengan koordinasi yang baik antara petugas dan jemaah, serta kedisiplinan tinggi dalam mengikuti panduan dan jadwal yang telah ditetapkan, pelaksanaan puncak haji tahun ini diharapkan berjalan lancar, aman, dan penuh keberkahan. (*)
