BI Pastikan Ketahanan Perbankan Nasional Kuat, NPL Terjaga Rendah

Jakarta,–Bank Indonesia (BI) merilis data terbaru yang menunjukkan ketahanan dan kesehatan sektor perbankan nasional tetap kuat dalam menghadapi ketidakpastian global. Kekuatan ini ditopang oleh likuiditas yang memadai dan tingkat kredit bermasalah yang rendah.

Berdasarkan rilis resmi BI pada Kamis (20/8/2025), rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) perbankan tercatat tinggi sebesar 27,08% pada Juli 2025. Angka ini mengindikasikan bahwa bank-bank di Indonesia memiliki buffer likuiditas yang cukup untuk menyerap berbagai risiko potensial.

Di sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) juga terjaga pada level rendah. Secara bruto, NPL berada di angka 2,22% dan secara neto sebesar 0,84% pada Juni 2025.

“Hasil stress test Bank Indonesia juga menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat, ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga,” jelas Junanto Herdiawan, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI.

Ke depan, BI berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi kebijakan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna memitigasi berbagai risiko ekonomi global dan domestik yang dapat membayangi stabilitas sistem keuangan.

Sementara itu di sisi kredit perbankan, pada Juli 2025 tumbuh sebesar 7,03% (yoy), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan pada Juni 2025 sebesar 7,77% (yoy).

Dari sisi penawaran, di tengah penurunan suku bunga moneter, pelonggaran likuiditas, dan insentif kebijakan makroprudensial yang ditempuh Bank Indonesia, perilaku perbankan cenderung berhati-hati dalam menyalurkan kredit, antara lain tecermin pada standar penyaluran kredit (lending standard) yang meningkat.

Perbankan lebih memilih menempatkan kelebihan likuiditas pada surat-surat berharga. Longgarnya likuiditas perbankan tersebut juga ditopang oleh pertumbuhan DPK pada Juli 2025 yang meningkat menjadi 7,00% (yoy) seiring ekspansi keuangan Pemerintah. Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit lebih banyak ditopang oleh sektor-sektor yang berorientasi ekspor, khususnya pertambangan dan perkebunan, serta sektor transportasi, industri, dan jasa sosial. Secara keseluruhan, perlambatan kredit mencerminkan permintaan dari pelaku usaha yang belum kuat dan cenderung menggunakan pembiayaan internal bagi usahanya.

Berdasarkan penggunaan, pertumbuhan kredit konsumsi dan kredit modal kerja belum kuat yang masing-masing tumbuh sebesar 8,11% (yoy) dan 3,08% (yoy) sedangkan kredit investasi tumbuh tinggi sebesar 12,42% (yoy) sejalan dengan tingginya pertumbuhan investasi.

Sementara itu, pembiayaan syariah tumbuh sebesar 8,31% (yoy), sedangkan pertumbuhan kredit UMKM masih rendah sebesar 1,82% (yoy). Ke depan, Bank Indonesia akan terus mendorong penyaluran kredit/pembiayaan perbankan, termasuk melalui kebijakan makroprudensial yang longgar dan mempererat koordinasi dengan KSSK. Secara keseluruhan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2025 berada dalam kisaran 8-11%.  (*)

Tinggalkan komentar