Maros,–Delegasi wisatawan dari Brunei Darussalam, Malaysia, dan Filipina berkunjung ke Kampung Karst Rammang-rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (23/8/2025).
Kunjungan 30 delasi ini menjadi bagian dari program kerja sama BIMP-EAGA (Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area) yang berfokus pada pengembangan pariwisata berbasis alam di kawasan timur Indonesia.
- Indonesia Berutang Budi kepada Pak JK
- Wali Kota Munafri Siapkan Bantuan KUR untuk PKL yang Tertib
- Tingkatkan Literasi Keuangan, LPS Kunjungi Harian Fajar dan Bahas Ancaman “Passobis”
- Sinergi Eksekutif-Legislatif Diperkuat, Munafri Jadikan Hasil Reses Dasar Kebijakan
- May Day 2026, Pemkot Makassar Fasilitasi Buruh Duduk Bersama di Lapangan Karebosi
Asisten Deputi Antar Lembaga Internasional Kementerian Pariwisata RI, Zulkifli Harahap, menyebut pemilihan Rammang-rammang bukan tanpa alasan. Menurutnya, kawasan karst ini memiliki daya tarik wisata kelas dunia yang berpotensi menjadi ikon pariwisata Sulawesi.
“Sesuai semangat BIMP-EAGA, kami ingin mendorong wilayah timur Indonesia. Sulawesi punya potensi besar, salah satunya Rammang-rammang,” ujarnya.
Zulkifli menjelaskan, Indonesia bersama tiga negara mitra terus membahas pola perjalanan wisata agar destinasi antarnegara bisa saling terhubung. Kehadiran delegasi di Rammang-rammang diharapkan memberi gambaran nyata tentang bagaimana pariwisata dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, turut menyambut kedatangan delegasi. Ia menilai kunjungan ini menegaskan Rammang-rammang semakin dikenal dunia.
“Ini bukti Rammang-rammang sudah mendunia. Tinggal bagaimana kita menjaga dan mengelolanya,” katanya.
Muetazim juga menyinggung revalidasi UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep pada 2026. Ia menegaskan pemerintah daerah siap menindaklanjuti setiap rekomendasi UNESCO untuk menjaga status geopark tersebut.
Delegasi asing pun memberikan kesan positif. Regional Director Filipina, Nelia, bahkan menyebut Rammang-rammang mengingatkannya pada kampung halaman.
Pertemuan ini turut dimanfaatkan sebagai forum diskusi antara pelaku pariwisata lintas negara dan pengelola lokal, dengan harapan memperkuat jejaring promosi dan investasi sektor pariwisata Sulawesi.(alf)



