Membaca Demonstrasi Anarkis Dengan Kacamata Ilmu Hipnosis
Oleh : Muhammad Harun
Ketua DPD. Perkumpulan Hipnoterapis Profesional Indonesia (PERHISA) Kota Makassar.
Demonstrasi yang terjadi di Makassar pada tanggal 28–30 Agustus 2025 mencatat eskalasi serius. Gedung DPRD Kota Makassar dan DPRD Sulawesi Selatan dibakar, hampir 100 kendaraan rusak dibakar, dan korban jiwa jatuh. Fakta ini menunjukkan bahwa demonstrasi yang awalnya dimaksudkan sebagai saluran aspirasi publik berubah menjadi anarkisme yang merugikan banyak pihak.
Pada saat demonstrasi anarkisme tersebut terjadi, penulis dalam perjalanan menuju ke Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Tepat pada sore harinya, saat akan meninggalkan Kota Makassar, saya melintas di Jalan Urip Sumohardjo – AP. Pettarani, dan memang melihat konsentrasi massa sudah mulai berkumpul dan bergerak ke titik aksi, lalu kemudian memblokade jalan.
Sebagai mantan aktivis mahasiswa dan aktivis ormas, yang juga pernah memimpin aksi demonstrasi pada masanya, tentu pemandangan seperti ini adalah hal yang lazim bagi saya, tetapi tak pernah terbesit dan terbayangkan sedikitpun akan terjadi demonstrasi yang destruktif anarkis di hari itu.
Setibanya di Kabupaten Bantaeng, setelah mendengar kabar huru hara ini, barulah saya berkomunikasi dengan para sahabat aktivis termasuk sahabat dan kerabat yang juga merupakan anggota dewan di Makassar, tentu untuk mendengar kronologis kejadian yang mengangetkan itu.
Sebagai seorang yang berkecimpung dalam dunia hipnosis-hipnoterapi, saya akan menanggapi kejadian demonstrasi ini dalam perspektif keilmuan hipnosis serta dari sisi psikologi massa. Tentu tulisan ini akan lebih holistik serta komprehensif bila ada tulisan lainnya yang meneropong fenomena ini dalam perspektif politik, intelejen, komunikasi atau sejenisnya.
Demonstrasi anarkis yang terjadi adalah akumulasi dari kemarahan dan kekecewaan. Namun, di balik kemarahan yang tampak di permukaan, ada lapisan psikologis yang jauh lebih dalam. Massa yang turun ke jalan tidak hanya digerakkan oleh pikiran sadar yang menuntut keadilan, tetapi juga oleh pikiran bawah sadar yang menyimpan luka batin yang cukup lama.
Luka itu lahir dari pengalaman kolektif yaitu: merasa diabaikan, diperlakukan tidak adil, serta menyaksikan jurang kesenjangan sosial yang semakin menganga. Saat mereka berjuang bertahan dengan segala keterbatasan, ada oknum pejabat yang mereka pilih, hidup dengan fasilitas, privilese, dan kuasa yang terasa begitu jauh dari keseharian rakyat kecil.
Tetapi tentu tidak semua pejabat atau anggota DPR kita berperilaku seperti itu, karena banyak juga diantara mereka yang berperilaku sederhana dan pro pada nasib penderitaan rakyat, saya bisa berkata begini karena memiliki circle persahabatan dengan para anggota dewan ini. Tetapi hal kedua diatas tertutupi oleh generalisasi.
Dalam kajian ilmu Neuro Linguistic Programming (NLP) yang saya pelajari selama ini dan juga merupakan ilmu pemberdayaan diri, ada satu konsep yang disebut dengan generalization. Generalization terjadi ketika pikiran mengambil satu pengalaman atau pola tertentu lalu menganggapnya berlaku untuk semua situasi, karena pola kerja pikiran manusia adalah menyederhanakan pengalaman dan fenomena inilah yang banyak terjadi.
Hipnotis Massa: Mengapa Kerumunan Mudah Terbakar?
Dalam literatur hipnosis, terdapat kondisi yang disebut collective trance atau yang sering juga disebut hipnotis massal. Kondisi ini muncul ketika individu larut dalam arus massa, kehilangan kontrol pribadi, dan digerakkan oleh emosi kolektif. Secara neurologis, hal ini sejalan dengan dominasi sistem limbik (emosi) yang menghambat kerja prefrontal cortex (rasionalitas).
Sebagai praktisi hipnoterapis, saya melihat fenomena ini mirip dengan trance kolektif. Dalam kondisi trance, pikiran bawah sadar mengambil alih dan mendorong perilaku yang kadang tidak sejalan dengan pikiran sadar. Saat massa bergerak bersama, ritme teriakan, simbol kemarahan, dan energi kelompok menciptakan kondisi yang menyerupai hipnotis massa.
Individu yang mungkin sehari-hari tenang bisa larut dalam arus emosional dan bertindak di luar kebiasaannya. Itulah yang membuat aksi bisa berubah menjadi anarkis karena mereka tak lagi bertindak sebagai individu rasional, melainkan sebagai bagian dari kesadaran kolektif yang terluka.
Dalam kerangka hipnosis, individu yang berada dalam massa cenderung lebih mudah menerima sugesti baik berupa teriakan, simbol, atau ajakan provokatif. Pola ini dapat diamati dari ritme seruan, penggunaan simbol visual (bendera, poster), serta adanya “pemimpin informal” di dalam kerumunan. Mirip dengan sesi hipnosis-hipnoterapi, sugesti yang diulang dalam ritme tertentu akan masuk lebih kuat ke pikiran bawah sadar seseorang. Bedanya, dalam konteks demonstrasi yang terjadi di Makassar beberapa hari lalu sugestinya bersifat destruktif.
Dalam keilmuan hipnoterapi yang saya dalami, ada konsep yang disebut Inner Child. Nah, fenomena diatas tersebut masih berhubungan dengan konsep Inner Child dalam hipnoterapi. Banyak individu dalam masyarakat yang menyimpan pengalaman kolektif. Mereka merasa tidak didengar atau diperlakukan tidak adil oleh “otoritas” (pemerintah, lembaga negara atau pejabat). Di alam bawah sadar seseorang, pejabat diposisikan sebagai figur “orang tua” yang otoriter, sementara rakyat memandang dirinya sebagai “anak” yang diabaikan. Ketika kekecewaan terakumulasi, ekspresi kemarahan kolektif pun meledak dalam bentuk destruktif anarkisme.
Muncul satu pertanyaan penting, mengapa massa merusak fasilitas publik yang sejatinya adalah milik mereka sendiri? Jawabannya dapat dilihat dari teori psikologi kepemilikan. Ketika masyarakat tidak lagi merasakan bahwa fasilitas tersebut benar-benar mewakili dan melayani kepentingan mereka, rasa memiliki ini hilang. Gedung DPRD, dalam persepsi sebagian massa, lebih dipandang sebagai simbol eksklusif kekuasaan, bukan sebagai rumah aspirasi rakyat.
Dalam kondisi seperti inilah maka massa aksi yang dalam kondisi trance ini akan mudah tersulut emosi dan terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan mungkin saja memiliki agenda tertentu.
Luka Batin Sosial dan Penyembuhannya
Ketika kita menyaksikan demonstrasi yang berakhir rusuh atau anarkis, sering kali kita hanya melihat asap, api, dan kaca yang pecah. Namun, kalau mau jujur, semua itu hanyalah gejala dari luka yang lebih dalam: luka batin sosial. Luka ini tidak bisa sembuh hanya dengan gas air mata, tembakan peringatan, atau proses hukum yang dingin. Luka batin sosial adalah jeritan yang lahir dari perasaan diabaikan terlalu lama.
Sebagai hipnoterapis, saya percaya bahwa perilaku massa sering kali digerakkan bukan oleh logika sadar, tetapi oleh bawah sadar kolektif yang menyimpan rasa sakit bertahun-tahun. Dalam bahasa sederhana, masyarakat yang marah sebenarnya sedang membawa luka lama yang belum sembuh. Pertanyaannya, bagaimana cara kita menyembuhkan luka ini?
Pertama, pemimpin harus benar-benar mau mendengarkan. Mendengar bukan sekadar hadir dalam forum resmi, tersenyum, dan membaca naskah pidato. Mendengar berarti membuka hati, memberi ruang pada keluh kesah rakyat, dan mengubahnya menjadi kebijakan nyata. Luka batin sosial tidak bisa disembuhkan dengan janji, tetapi dengan keadilan yang dirasakan langsung.
Kedua, kita butuh ruang komunikasi yang sehat. Demokrasi akan lumpuh kalau aspirasi rakyat hanya bisa didengar lewat batu yang dilempar atau ban yang dibakar. Itu artinya saluran formal sudah buntu. Kita perlu membangun dialog yang tulus, transparansi yang nyata, dan partisipasi publik yang sungguh-sungguh. Ketika rakyat merasa punya saluran yang didengar, mereka tak lagi perlu berteriak di jalan dengan risiko nyawa.
Ketiga, bangsa ini perlu belajar healing bersama. Luka batin sosial tidak bisa dipaksa sembuh dengan kekerasan. Ia hanya pulih lewat rekonsiliasi, kasih sayang, dan keberanian pemimpin untuk merangkul rakyat kembali. Healing sosial berarti duduk bersama, mengakui kesalahan, dan membangun kembali kepercayaan yang retak.
Kita harus ingat, setiap kaca yang pecah, setiap kursi yang dibakar, dan setiap nyawa yang melayang adalah cermin dari satu hal: ada sesuatu yang gagal kita rawat sebagai bangsa. Api bisa dipadamkan dengan air, tapi api di dalam hati rakyat hanya bisa padam dengan keadilan. Dan itu hanya lahir dari keberanian pemimpin untuk lebih manusiawi terhadap rakyatnya.
Dalam praktik hipnoterapi, penyembuhan luka bawah sadar menuntut penerimaan dan rekonstruksi makna. Begitu pula dalam konteks sosial politik, penyembuhan kolektif membutuhkan sikap tulus, transparansi, dan kesediaan pemerintah untuk benar-benar mendengar.
Kesimpulannya, demonstrasi anarkisme di Makassar bukan sekadar peristiwa politik, melainkan gejala psikologis bangsa yang lebih dalam. Hal ini ditandai adanya akumulasi kekecewaan, komunikasi yang terputus, dan mulai hilangnya rasa kepemilikan rakyat terhadap institusi negara.
Tanpa penyembuhan luka batin sosial ini, kejadian demontrasi seperti ini berpotensi terulang kembali. Sebaliknya, apabila luka tersebut direspon dengan pendekatan empatik dan keadilan substantif, maka bangsa ini dapat bergerak menuju transformasi sosial yang lebih sehat. Akhirnya, mari jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga bagi semua pihak karena jika kita tidak belajar dari peristiwa ini, jangan kaget bila suatu saat sejarah kembali berulang. Wassalam.
Penulis juga adalah Dosen Fakultas Sastra UMI Makassar dan Ketua Umum DPP. Forum Dosen Swasta Nasional (FDSN).
