Jika jam biologis kebanyakan orang beristirahat di tengah malam, lain halnya dengan tradisi kuliner di Makassar inj. Di saat kota mulai sepi dan lampu-lampu berkedip, hidangan khas yang satu ini justru menemukan puncak kelezatannya. Ia adalah Songkolo Begadang—lebih dari sekadar makanan, simbol silaturahmi, dan pengikat obrolan di keheningan malam.
Bukan Sekadar Ketan Biasa
Songkolo pada dasarnya adalah nasi ketan khas Makassar yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah seperti serai, daun salam, dan lengkuas.
Mirip dengan nasi liwet. Namun yang membedakannya dari nasi liwet adalah penggunaan beras ketan atau campuran beras ketan dan beras biasa, yang memberikan tekstur pulen dan lengket khas. Namun, kata “Begadang” dalam namanya menambahkan dimensi waktu dan makna sosial yang unik.
- Kepala Bapenda Makassar Minta Maaf, Proses Transisi Server Pengaruhi Pelayanan
- Wali Kota Makassar Resmikan AMP PT Tujuh Wali Wali, Dorong Peran Swasta Dukung Pembangunan Infrastruktur Kota
- Masuk Tahap Pengadaan, Pemkot Makassar Mulai Bangun Edufam Barombong dan Sudiang
- Truk Kontainer Parkir di Lorong, Ganggu Aktivitas Warga Jl. Urip Sumoharjo V
- Di Tengah Badai Global, APBN 2025 Buktikan Ketangguhan: Defisit Terkendali 2,92%, Stimulus Capai Rp110 Triliun
“Songkolo ini kan biasanya dinikmati pada malam hari, bahkan larut malam, sambil begadang bersama keluarga atau sahabat. Makanya dia disebut Songkolo Begadang,” jelas Hasnah, salah seorang penjual Songkolo di sudut kota Makassar.
Proses memasaknya pun bukan hal sembarangan. Beras harus dicuci bersih, lalu dimasak dengan santan dan bumbu hingga meresap. Yang tradisional, songkolo bahkan dikukus dalam anyaman daun kelapa muda (janur) yang disebut sarung songkolo, menambah aroma natural yang khas.
Pelengkap yang Menciptakan Simfoni Rasa
Songkolo Begadang jarang disantap sendirian. Keistimewaannya justru terletak pada pendampingnya yang beragam, menciptakan ledakan rasa di mulut. Hidangan ini biasanya disajikan dengan:
· Ikan Teri Goreng: Memberikan rasa asin dan gurih yang renyah.
· Sambal kelapa: Untuk menambah dimensi pedas, manis, dan segar.
Setiap suapan Songkolo yang pulen, dipadukan dengan gurihnya ikan teri, dan pedasnya sambal, dan adalah sebuah perjalanan rasa yang menggedor memori.
Penganan Pemersatu di Kala Sunyi
Fenomena Songkolo Begadang bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang ruang dan waktu. Warung-warung songkolo biasanya ramai setelah pukul 21.00 WITA. Mereka menjadi tempat tujuan setelah pertemuan acara keluarga, selepas bekerja, atau sekadar menjadi titik kumpul untuk melepas penat.
“Di sini obrolannya bisa dari urusan politik sampai urusan tetangga,” ucap Andi, seorang mahasiswa yang sedang menyantap songkolo bersama teman-temannya. “Rasanya kurang lengkap pulang kampung ke Makassar kalau tidak begadang makan songkolo. Ini seperti ritual wajib.”
Songkolo Begadang adalah ruang demokratis. Di warung tenda sederhana di pinggir jalan, semua kalangan duduk berdampingan; dari pejabat, artis, sampai sopir angkot, semua menikmati hidangan yang sama, berbagi cerita di bawah langit malam Makassar.

Melestarikan Warisan Rasa di Tengah Zaman
Meski kini sudah ada beberapa kedai yang menjual Songkolo di siang hari, esensi “begadang”-nya tetaplah menjadi jiwa dari hidangan ini. Para penjualnya, sering kali adalah ibu-ibu yang mewarisi resep turun-temurun, bertahan dengan dedikasi tinggi untuk melestarikan tradisi ini.
Mereka bangun sore, mempersiapkan bahan, dan memasak dengan penuh kesabaran. Keberadaan mereka adalah benteng terakhir dari sebuah tradisi kuliner yang intim dan penuh makna.
Songkolo Begadang bukan sekadar penganan. Ia adalah sebuah esai tentang kebersamaan, sebuah puisi yang ditulis dengan rempah, dan sebuah lagu lama yang selalu dirindukan. Ia mengajarkan bahwa kenikmatan terbaik seringkali hadir dalam kesederhanaan, dinikmati pada waktu yang sunyi, dan dibagikan kepada orang-orang yang paling berarti. Jadi, jika Anda berkunjung ke Makassar, jangan tidur terlalu cepat. Berbagilah suapan songkolo di malam hari, dan rasakan sendiri denyut nadi kota ini yang berdetak paling keras justru di saat yang paling sunyi. (*)
