
Oleh : Muhammad Harun, S.S., M.Pd., C.I.
(Dosen FSIKP Universitas Muslim Indonesia (UMI) & Ketua Umum DPP. Forum Dosen Swasta Nasional (FDSN)).
Tangisan seorang ibu di Makassar beberapa waktu lalu mengoyak hati banyak orang. Seorang anak kecil bernama Bilqis, yang baru berusia empat tahun, hilang saat bermain di Taman Pakui Sayang, Makassar. Dalam sekejap, tawa riang seorang bocah berubah menjadi jerit kehilangan yang menggema di hati banyak orang. Hari demi hari berlalu dalam kecemasan dan doa. Lalu datanglah kabar yang tak kalah mengejutkan, Bilqis ditemukan di Jambi, ribuan kilometer dari rumahnya. Ia telah berpindah tangan, bahkan diperjualbelikan oleh orang-orang yang telah kehilangan akal sehat dan nurani kemanusiaan.
Kita semua bersyukur Bilqis ditemukan dalam keadaan hidup. Namun di balik rasa syukur itu, terselip duka yang mendalam, duka atas rapuhnya benteng moral, duka atas lemahnya perlindungan anak di negeri ini, dan duka karena fakta bahwa ada orang dewasa yang tega memperlakukan anak kecil sebagai komoditas.
Ketika Nurani Kita Tumpul
Apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada masyarakat kita?
Ketika seorang anak bisa dicuri dan dijual layaknya barang dagangan, berarti ada yang rusak di dalam sistem nilai kita. Bukan hanya hukum yang lemah, tetapi juga rasa kemanusiaan yang menipis.
Bagaimana mungkin seorang manusia mampu menukar tawa polos seorang anak dengan sejumlah uang? Bagaimana lingkungan sekitar, tidak menyadari adanya anak kecil yang asing di wilayahnya tanpa bertanya, tanpa curiga?
Peristiwa Bilqis menjadi cermin retak bagi bangsa ini. Ia memperlihatkan bahwa kita tidak hanya kekurangan pengawasan, tetapi juga kehilangan kepekaan. Masyarakat seakan terbiasa menutup mata terhadap hal-hal ganjil di sekelilingnya, hingga tragedi menjadi sesuatu yang “biasa terjadi”.
Kewaspadaan adalah Cinta
Dari kisah Bilqis, kita belajar bahwa menjaga anak bukan hanya tugas polisi, guru, atau dinas sosial. Itu adalah tanggung jawab moral kolektif. Setiap orang tua, tetangga, guru, bahkan pedagang di taman tempat anak bermain, semua memiliki peran penting dalam melindungi mereka.
Orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan. Dunia sekarang tidak lagi seaman dulu. Kita tidak bisa sepenuhnya menyerahkan keamanan anak kepada keadaan.
Awasi mereka dengan cinta, bukan dengan ketakutan. Ajarkan anak mengenali bahaya, ajarkan mereka siapa yang boleh didekati dan siapa yang tidak. Pastikan setiap tempat bermain memiliki pengawasan yang cukup.
Dan bagi masyarakat luas, berhentilah menjadi penonton. Ketika ada anak kecil tanpa pendamping, tegurlah dengan sopan. Ketika ada sesuatu yang terasa janggal, laporkan. Satu langkah kecil bisa menyelamatkan masa depan seorang anak.
Luka yang Tak Terlihat
Kini Bilqis telah kembali ke pelukan orang tuanya. Tapi apakah semuanya benar-benar usai?
Tidak. Karena luka batin tidak semudah itu sembuh.
Bayangkan seorang anak berusia empat tahun, hidup di tempat asing, berpindah dari satu tangan ke tangan lain, tanpa tahu mengapa ia diambil dari orang tuanya. Luka itu mungkin tak terlihat, tapi akan membekas dalam hatinya.
Maka tugas kita tidak berhenti pada tepuk tangan atas kerja keras aparat kepolisian. Tugas kita justru dimulai dari sana: menyembuhkan dan memastikan tidak ada Bilqis-Bilqis lain yang mengalami hal serupa.
Ia membutuhkan dukungan psikologis, kasih sayang, dan rasa aman untuk kembali percaya pada dunia.
Dan kita, sebagai masyarakat, wajib menciptakan dunia yang lebih ramah bagi anak-anak seperti Bilqis.
Kemanusiaan yang Perlu Dihidupkan Kembali
Kisah Bilqis mengguncang nurani karena ia bukan sekadar kasus kriminal, ia adalah teguran moral bagi kita semua.
Kita hidup di zaman ketika teknologi begitu canggih, tetapi nurani semakin sunyi. Banyak orang sibuk menatap layar ponsel, namun lupa menatap wajah-wajah kecil di sekitarnya yang membutuhkan perlindungan.
Kita bangga berbicara tentang pendidikan, kemajuan, dan prestasi, tapi sering lupa bahwa ukuran peradaban sejati bukanlah gedung tinggi atau data statistik, melainkan seberapa aman anak-anak tumbuh di negeri ini.
Mari kita berhenti sejenak. Mari menengok hati kita sendiri.
Apakah kita masih peka terhadap tangisan anak di pinggir jalan? Apakah kita masih mau menoleh ketika melihat anak kecil sendirian di tempat umum? Apakah kita masih peduli ketika intuisi berkata “ada yang tidak wajar”?
Karena jika kita berhenti peduli, maka dunia ini akan kehilangan cahaya kemanusiaannya.
Penutup : Untuk Semua Orang Tua dan Hati yang Masih Hidup
Bilqis telah pulang. Namun kisahnya seharusnya tidak kita biarkan berlalu begitu saja seperti berita yang cepat tenggelam di arus media.
Kisah ini harus menjadi peringatan lembut namun keras bagi setiap hati yang masih hidup, bahwa kejahatan terhadap anak bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja.
Setiap orang tua perlu sadar bahwa dunia tidak lagi sama.
Ruang bermain, taman kota, bahkan lingkungan sekitar rumah sekalipun bisa menjadi tempat bersembunyi bagi niat jahat.
Namun bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan, justru kita harus menyalakan pelita kewaspadaan dan kepedulian bersama.
Cinta kepada anak bukan hanya tentang memberi mereka makan, pakaian, dan pendidikan; cinta juga berarti siaga terhadap bahaya, peka terhadap perubahan perilaku mereka, dan hadir di setiap ruang kehidupan mereka.
Bagi masyarakat luas, kisah Bilqis adalah pengingat bahwa anak bukan hanya milik keluarga, tetapi juga milik bangsa.
Ketika satu anak hilang, sejatinya sebagian kemanusiaan kita ikut hilang.
Dan ketika satu anak diselamatkan, seharusnya seluruh bangsa ikut berjanji, tidak akan ada lagi anak yang diculik, dijual, atau dilukai atas nama uang, keserakahan, atau kelalaian.
Mari kita jaga anak-anak kita dengan mata yang awas dan hati yang hangat.
Mari kita hidupkan kembali empati di tengah hiruk pikuk dunia yang kian individualistik.
Sebab menjaga anak-anak berarti menjaga masa depan bangsa.
Dan menjaga kemanusiaan berarti menjaga cahaya Tuhan yang dititipkan di dada setiap manusia.
Makassar, 11 November 2025
(Penulis adalah Dosen Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) serta Ketua Umum DPP. Forum Dosen Swasta Nasional (FDSN)
