NU & Muhammadiyah : Dua Cahaya di Rumah Besar Indonesia

Oleh : Muhammad Harun, S.S., M.Pd., C.I

(Penulis adalah Ketua Umum DPP. Forum Dosen Swasta Nasional (FDSN) dan Ketua GP Ansor NU Makassar, Periode 2017–2022)

Setiap kali Milad Muhammadiyah tiba, ada satu getaran batin yang sulit dijelaskan, sebuah rasa hangat yang tumbuh dari ingatan, sejarah keluarga, dan persentuhan panjang dua tradisi besar: *Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU)*. Dua organisasi yang sering digambarkan berbeda, padahal dalam banyak keluarga, termasuk keluarga saya, keduanya bukan sekadar “dua organisasi besar”, melainkan *dua napas dalam satu rumah*.

Saya lahir dan dibesarkan sebagai kader NU. Jalur pengabdian saya pun banyak ditempa dalam tradisi NU, baik melalui kultur amaliah maupun perjalanan organisasi, termasuk saat dipercaya sebagai Ketua GP Ansor NU Makassar periode 2017–2022. Namun di sisi lain, sejak kecil saya juga hidup bersama orang-orang yang mencintai Muhammadiyah dengan sangat kuat.

Dalam keluarga kami, dua garis perjuangan ini tumbuh bersama tanpa pernah dipertentangkan. Kakek kami, *Anregurutta KH. Ramli*, (Ayahanda Dari Prof. Dr. Mansyur Ramly, M.Si) adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan. Beliau dikenang bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai sosok yang akrab, hangat, dan penuh hormat kepada para tokoh Muhammadiyah. Bahkan dalam keluarga besar kami, ada pula kakek kami yang justru menjadi Ketua Muhammadiyah di daerah lain.

Kami tumbuh dengan contoh bahwa perbedaan manhaj tidak pernah menjadi alasan untuk saling menjauh.

Karena itulah ketika saya berbaur, berdiskusi, atau berkolaborasi dengan para tokoh Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, saya tidak pernah merasa “bertemu yang lain”. Saya justru merasa pulang, pulang pada tradisi keilmuan, kesederhanaan, dan militansi yang sudah saya kenal sejak kecil. Sebagai akademisi, saya juga sering bersinergi dengan banyak dosen, aktivis, dan akademisi Muhammadiyah yang selalu memberi inspirasi melalui keteladanan intelektual mereka.

Dua Jalan, Satu Tujuan

NU dan Muhammadiyah adalah dua anugerah Allah untuk Indonesia.

NU menjaga akar tradisi dan kearifan lokal.

Muhammadiyah menyinari perubahan dengan semangat pencerahan.

Keduanya ibarat dua sayap burung yang memungkinkan Indonesia terbang seimbang.

Sebagai kader NU yang selama ini banyak berkolaborasi dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, saya merasakan sendiri bagaimana hubungan ini tidak pernah berada di ruang kompetisi, tetapi ruang sinergi. Mereka bukan hanya mitra, mereka adalah saudara seperjuangan.

Saya melihat sendiri bagaimana keteladanan Muhammadiyah hadir dalam kedisiplinan dan kemajuan pendidikan, serta saya melihat pula bagaimana keluarga NU menambah kehangatan dengan tradisi, keteduhan, dan kedalaman rasa.

Kolaborasi yang Berasal dari Hati

Bukan rahasia bahwa saya sering terlibat dalam forum akademik, kegiatan sosial, dan diskusi intelektual bersama para tokoh Muhammadiyah. Setiap perjumpaan itu selalu membawa rasa nyaman, seperti bertemu keluarga yang memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan cinta, tetapi hatinya sama.

Kolaborasi kami bahkan sejalan dengan sejarah keluarga saya sendiri :

NU di satu sisi, Muhammadiyah di sisi lain, tetapi keduanya saling menopang.

Inilah keindahan Islam Indonesia.

Inilah yang diajarkan oleh para pendiri, bahwa perbedaan organisasi bukan alasan menjauh, tetapi alasan memperkaya diri.

Milad Muhammadiyah: Saatnya Menundukkan Hati dan Mengucapkan Terima Kasih

Di momen Milad Muhammadiyah ini, sebagai kader NU, saya ingin menyampaikan sesuatu yang sederhana namun tulus:

Terima kasih, Muhammadiyah.

Terima kasih atas sekolah, universitas, dan rumah sakit yang menjadi tulang punggung umat.

Terima kasih atas para pemikir dan mubalignya yang selalu menyerukan pencerahan.

Terima kasih karena selalu membuka ruang kolaborasi dan persaudaraan.

Terima kasih karena sejak zaman kakek buyut kami, baik yang di NU maupun yang di Muhammadiyah, persaudaraan ini terpelihara tanpa keretakan. (*)

Tinggalkan komentar