
Jakarta,–Produsen mobil listrik (EV) asal China semakin agresif di pasar global. Mobil China cukup diterima pasar sebab menawarkan kombinasi teknologi tinggi, desain modis, dan harga terjangkau.
Terakhir, berita terbaru menyebutkan, Kanada sepakat menurunkan tarif impor bagi EV asal China. Hal ini memicu kekhawatiran besar bagi para pesaingnya di Amerika Serikat.
Dikutip AP, Sabtu (17/1/2026), Ilaria Mazzocco dari Center for Strategic and International Studies menjelaskan bahwa tren ini menunjukkan kekuatan produsen China yang sesungguhnya.
“Ini memberi tahu kita bahwa produsen otomotif China terus menjadi sangat populer, dan berkinerja semakin baik,” ujar Mazzocco.
- Kantor Baru DWP Diresmikan, Wali Kota Munafri Tekankan Peran Pemberdayaan Keluarga
- DJP Sulselbartra Apresiasi Pemkot Makassar, Munafri Jadi Panutan Lapor SPT Lebih Awal
- Mendag Pantau Pasar Terong hingga Ritel Modern, Harga Pangan Makassar Relatif Terkendali
- Munafri Minta Warga Jaga Ketertiban, Hindari Konvoi Tembak-Tembakan
- Buka Puasa Bersama KKLR, Aliyah Mustika Ilham Sampaikan Komitmen Kebersamaan
Menurutnya, produk mereka bukan lagi sekadar barang yang dijual di pasar pinggiran yang tidak dianggap penting oleh produsen AS. Daya tarik utama mobil listrik China terletak pada kualitas dan efisiensinya.
“Sangat jelas bahwa kendaraan buatan merek China hadir dengan biaya yang sangat kompetitif, tetapi juga secara teknologi sangat diinginkan, ” Tambahnya.
Konsumen menyukai fitur perangkat lunak yang canggih di dalamnya, namun tetap dengan harga yang jauh di bawah rata-rata harga mobil baru di Amerika Serikat yang mendekati 50.000 dolar AS. Salah satu alasan keberhasilan China adalah keberanian mereka mengambil celah pasar yang ditinggalkan produsen Barat.
Sam Fiorani, Wakil Presiden AutoForecast Solutions, menyoroti hal ini dengan tajam.
“Mereka telah menemukan cara untuk membuat mobil ukuran kecil dan menengah, mobil yang diinginkan orang—dengan harga yang wajar,” kata Fiorani.
Ia menekankan bahwa ini adalah segmen pasar yang telah ditinggalkan oleh raksasa seperti GM dan Ford demi mengejar margin keuntungan yang lebih tinggi dari kendaraan besar. Namun, ekspansi ini membawa kekhawatiran mendalam bagi stabilitas ekonomi dan keamanan.
Fiorani memperingatkan bahwa kecepatan pertumbuhan China sangatlah masif. “China telah menjadi mesin luar biasa yang membuat kendaraan murah. Kekhawatirannya adalah jika Anda memberi mereka satu inci, mereka akan mengambil satu mil,” tegasnya.
Selain persaingan harga, ia juga menyoroti risiko privasi, mengingat kendaraan modern kini berfungsi layaknya “pusat data berjalan” yang bisa melacak pergerakan pengemudinya. Sentimen negatif juga datang dari pejabat tinggi Amerika Serikat.
Sekretaris Transportasi AS, Sean Duffy, secara terang-terangan menuduh adanya campur tangan pemerintah China dalam mengontrol industri ini demi merebut lapangan kerja global. Terkait kesepakatan dagang Kanada, Duffy memberikan peringatan keras: “Mereka akan menyesali hari di mana mereka bermitra dengan China dan memasukkan kendaraan-kendaraan tersebut.”
Di sisi lain, para ahli melihat bahwa kemajuan China adalah sesuatu yang sulit dihentikan sepenuhnya. Mark Wakefield dari AlixPartners memprediksi bahwa merek China akan menguasai 30% pasar global pada tahun 2030. Ia memperingatkan produsen Amerika agar tidak terjebak dalam teknologi lama yang tidak laku di pasar internasional.
“Mereka sudah mulai di Eropa, Amerika Selatan, sekarang Meksiko dan Kanada,” tutur Wakefield, mengingatkan agar industri AS tidak berakhir seperti negara-negara yang dulunya raksasa otomotif namun kini tak lagi relevan.
Pada akhirnya, meskipun berbagai negara memasang “pagar pembatas” melalui tarif tinggi dan regulasi ketat, kehadiran China di pasar Barat tampaknya hanya tinggal menunggu waktu. Seperti yang disimpulkan oleh Fiorani, “Kemajuan produsen China tidak terelakkan. Itu pada akhirnya akan terjadi.”
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mereka akan datang, melainkan seberapa besar pangsa pasar yang akan tersisa bagi produsen otomotif tradisional. (*)





