
Tamsil Linrung tak pernah menyangka dirinya akan masuk dalam dunia politik. Apalagi bercita-cita
menjadi seorang legislator. Di benaknya hanya ingin menjadi seorang guru seperti ayahnya yang
mengabdi mendidik anak bangsa.
Orang tuanya pun memiliki harapan yang besar agar Tamsil Linrung kelak menjadi seorang guru. Bagi dirinya dan orang tuanya, guru adalah sosok yang sangat istimewa. Dihormati dan disegani oleh masyarakat. Peran guru sangat penting dalam membangun generasi.
Karena begitu kagumnya dengan sosok guru, Ayah Tamsil tak akan segan-segan menikahkan puterinya kepada seorang lelaki yang berprofesi guru.
Begitu pun halnya dengan Tamsil. Dia yang didik di lingkungan keluarga guru, sangat mengagumi karakter seorang guru. Dia pun ingin menjadi seorang guru. Seperti ayahnya.
Itulah sebabnya dalam perjalanan pendidikan Tamsil, dia sempat mencoba mendaftar di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Bungoro, Pangkep. Namun Tamsil tak lulus karena postur tinggi badannya yang tak memenuhi syarat.
Padahal Tamsil adalah sosok yang tergolong cerdas. Itu bisa dibuktikan ketika di bangku Sekolah Dasar (SD). Dia tak pernah duduk di kelas 1, 2, dan 3. Masuk SD dia langsung duduk di kelas 4 SDN Tamarupa Segeri, Pangkep.
Walau alasan utama dia loncat kelas itu sebenarnya karena faktor tempat tinggalnya yang cukup
terisolir. Tak bisa dilalui kendaraan. Hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Sepeda pun tak bisa
digunakan untuk menuju ke rumahnya.
Maka selama beberapa tahun, Tamsil bersekolah di bawah rumahnya. Sekolah informal. Bekal itulah yang ternyata mampu membuat Tamsil bisa beradaptasi dengan anak-anak yang lebih dulu duduk di bangku sekolah.
Setamat SD, Tamsil melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Segeri, Pangkep. Saat bersekolah di situ, Tamsil juga mengambil kelas Pendidikan Guru Agama (PGA) secara bersamaan.
Setamat dari SMEP, dia lalu lanjut ke SMA Parepare. Niatnya untuk melanjutkan pendidikan guru di SPG tidak bisa terwujud. Saat SMA pun, Tamsil juga menjadi santri di Madrasah Darud Da’wah wal Irsyad (DDI).
Tak lulus masuk di SPG tak membuat semangatnya untuk menjadi guru pupus. Setamat dari SMA dia langsung mendaftar untuk melanjutkan kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujung Pandang yang kini berubah nama menjadi Universitas Negeri Makassar.
Saat kuliah, Tamsil aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Dia bahkan sempat menduduki jabatan sebagai Ketua Senat Mahasiswa FPIPS-IKIP Ujung Pandang.
Selain itu dia juga aktif dalam penerbitan pers mahasiswa. Terdapat dua majalah yang dibidaninya. Yaitu Majalah Analisis dan Majalah Program.
Di organisasi eksternal pun tak kalah. Dia sangat aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dia menduduki jabatan sebagai Sekretaris Umum HMI Cabang Makassar.
Soal demonstrasi jangan ditanyakan. Sebagai seorang aktivis di tahun 1980-an, aksi-aksi demonstrasi sudah menjadi kegiatan harian. Utamanya terkait kritik tata kelola pemerintahan.
Saat aktif di HMI, terjadi perpecahan di tubuh organisasi ini. Terdapat sebahagian pengurus HMI yang tidak setuju dipertahankannya asas tunggal Pancasila dan kelompok HMI yang tetap ingin mempertahankan asas tunggal Pancasila.
Tamsil masuk menjadi salah satu penolak diberlakukannya asas tunggal. HMI pecah. Terbentuk Majelis Penyelamatan Organisasi (MPO) yang belakangan disematkan di belakang nama HMI bagi kelompok yang menolak asas tunggal. Sedangkan kelompok yang tetap mempertahankan asas tunggal disebut sebagai HMI Dipo, sesuai nama jalan tempat Sekretariat HMI berada, yakni Jl Diponegoro.
Nama Tamsil mencuat sebagai Ketua Umum HMI MPO. Dia memang salah seorang pendiri yang mendeklarasikan organisasi ini bersama Eggi Sudjana dan kawan-kawan.
Gerakan mahasiswa yang menolak asas tunggal ini tentu tak terlepas dari pengawasan aparat. Bahkan tindakan-tindakan represif terkadang dirasakan oleh para aktivis ketika menyuarakan hal itu. Hal yang sama juga dirasakan Tamsil. Bahkan dirinya sempat mendapat skorsing dari pihak IKIP. Dia dianggap sebagai provokator aktivis anti-Pancasila.
Masa skorsing itu malah dimanfaatkan oleh Tamsil untuk lebih aktif berorganisasi di Jakarta. Di situ dia bertemu banyak tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa nasional. Saat diskorsing itu pula dia sempat menjadi utusan HMI ke beberapa negara dalam rangka pertemuan mahasiswa.
Kiprahnya sebagai aktivis mahasiswa tak hanya berhenti di tingkat nasional. Setelah mengikuti pertemuan mahasiswa di luar negeri, dia ditunjuk menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara.
Di sinilah dia meluaskan jaringannya. Dia bertemu banyak tokoh-tokoh Asia Tenggara, seperti Anwar Ibrahim dan lainnya.
Karena begitu asiknya berorganisasi di Jakarta, Tamsil lupa jika masa skorsingnya sudah berakhir. Saat dia kembali ke Makassar, ternyata skorsingnya diperpanjang lagi dengan alasan yang bersangkutan tak disiplin untuk melapor jika dirinya sudah selesai menjalani skorsing.
Hal ini membuat Tamsil serasa semakin mendapat tantangan. Dia pun melaporkan hal ini kepada OC Kaligis yang akhirnya menjadi pengacara Tamsil Linrung untuk menggugat Rektor IKIP Ujungpandang atas skorsing yang diterimanya.
Gugatan itu tak pernah berlanjut hingga ke ruang sidang. Pasalnya pihak rektorat membujuk Tamsil Linrung untuk mencabut gugatan puluhan halaman itu.
Selain aktif di organisasi kemahasiswaan, Tamsil juga aktiva di berbagai lembaga dakwah dan entrepreneurship.
Dialah yang menjadi penggerak organisasi Pengembangan Usaha Sektor Informal (PUSI). Sejumlah usaha dibangun mulai dari klinik hingga toko buku. Salah satu pemodal yang cukup aktif membantu PUSI yakni Prof Dr Halide yang senantiasa menyisihkan honor mengajarnya untuk PUSI.
Bakat entrepreneurship dalam diri Tamsil memang bukan hal yang baru. Dia sudah mulai belajar berdagang sejak duduk di bangku SMEP. Saat itu dia berjualan buku di rumahnya. Buku yang dibeli dari distributor lalu dijual kepada teman-temannya dengan harga yang lebih murah dibanding toko buku lainnya.
Aktivitasnya di organisasi kemahasiswaan, lembaga dakwah dan ekonomi itu membawanya untuk terlibat langsung di dunia politik. Dia sempat menduduki posisi Bendahara Umum di Partai Amanat Nasional (PAN).
Ketika menjabat posisi itulah dia sempat merasakan dinginnya ruang tahanan di Philippina bersama Agus Dwikarna dan Jamal Balfas karena tuduhan membawa barang peledak. Tuduhan itu tak terbukti dan membuatnya lepas jeratan bersama Jamal. Berbeda dengan Agus Dwikarna harus tetap menjalani hukuman.
Setelah bebas, tak lama Tamsil Linrung bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai inilah yang memboyongnya hingga bisa duduk selama tiga periode di DPR RI. Karena alasan kaderisasi, setelah tiga periode menjadi legislator, Tamsil lalu memilih jalur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.
Saat menjabat anggota DPR RI, Tamsil banyak memperjuangkan kebijakan yang pro kepada kesejahteraan rakyat. Utamanya kesejahteraan guru.
Saat ini, selain aktif sebagai anggota DPD RI, tamsil juga memiliki banyak aktivitas usaha dan filantrofi. Salah satunya adalah sekolah Insan Cendekia Madani. Dalam sebuah sesi wawancara Podcast bersama @RijalDjamal dia menyebut sekolah modern itu memadukan Kurikulum Nasional, Cambridge dan Islam.
Biodata:
Drs. H. Tamsil Linrung
Tempat / Tanggal Lahir : Pangkep, 17 September 1961
Profesi : Politisi, Pengusaha dan Filantrofi
Riwayat Pendidikan:
SDN 19 Tauladan Pertiwi (1971 – 1973)
SMEP Negeri Segeri (1973 – 1976)
PGA Negeri Segeri (1973 – 1976)
SMA Negeri 1 Parepare (1976 – 1979)
Jurusan Ekonomi Perusahaan FPIPS – IKIP Ujung Pandang (1980 – 1984)
Riwayat Pekerjaan :
Dirut PT AMANAH PUTRA NUSANTARA 1990 – 1995
Dirut PT HARAPAN PUTRA NUSA 1992 – 1997
Dirut PT AMANAH NUSA GROUP 1993 – 1998
Komisaris PT KAMPALA PETERNAKAN UNGGUL 1997 – 2000
Dirut PT SAINA PETERNAKAN UNGGUL 1997 – 2000
Dirut PT SINAR HUDAYA 1997 – 2002
Dirut PT AQUMAS HUDAYA SITUHIYANG 1999 – 2004
Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi PKS 2004-2009
Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi PKS 2009-2014
Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi PKS 2014-2019
Anggota DPD/MPR RI dari Sulawesi Selatan 2019-2024
Riwayat Organisasi
1982 s.d 1984: Ketua Umum Senat Mahasiswa FPIPS-IKIP Ujung Pandang
1982 s.d 1983: Pemimpin Redaksi warta kampus IKIP Analisis
1982 s.d 1984: Pemimpin Umum tabloid PROGRAM
1983 s.d 1984: Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Makassar
1984 s.d 1985: Ketua Umum LDMI Cabang Makassar
1988 s.d 1990: Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam MPO
1988 s.d 1990: Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT)
1988 s.d 1990: Ketua Presidium Forum Komunikasi Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Islam (FKPPMI)
1995 s.d 2000: Sekretaris Umum ICMI Orwil Daerah Khusus Ibukota Jakarta
1995 s.d 2000: Sekretaris Yayasan Abdi Bangsa
1997 s.d 2002: Bendahara Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
1998: Penasehat PADERI (Pergerakan Demokrasi Ekonomi Rakyat Indonesia)
1999: Sekretaris Umum Yayasan Pusat Pendidikan Islam Internasional Indonesia
1999 s.d 2003: Bendahara Umum DPP Partai Amanat Nasional
2004 s.d sekarang: Anggota PKS







mantap pak tamsil. tokoh panutan