
Makassar,-–Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kota Makassar bukan sekadar upacara rutin. Di bawah langit Lapangan Karebosi, Sabtu pagi ini, Wali Kota Munafri Arifuddin dan Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham mempersembahkan serangkaian kebijakan progresif sebagai “kado istimewa” bagi dunia pendidikan. Mulai dari penambahan insentif bagi guru di wilayah kepulauan, pembenahan infrastruktur sekolah, hingga gerakan massif mengembalikan anak tidak sekolah ke ruang kelas.
Mengusung semangat “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar menegaskan bahwa pendidikan inklusif dan berkeadilan adalah fondasi utama pembangunan kota. Wali Kota Munafri Arifuddin, yang akrab disapa Appi, menekankan bahwa Hardiknas adalah momentum refleksi dan peneguhan komitmen.
“Hardiknas adalah momentum penting untuk refleksi, meneguhkan komitmen, dan menghidupkan kembali spirit pendidikan nasional. Ini kesempatan bagi kita semua untuk meningkatkan dedikasi dalam membangun karakter dan kualitas SDM, guna mewujudkan pendidikan bermutu yang inklusif bagi seluruh warga Kota Makassar,” tegas Appi di hadapan ribuan peserta upacara.
Insentif Guru Pulau: Keberpihakan di Tengah Tantangan Geografis
Salah satu terobosan yang paling mendapat sorotan adalah kebijakan afirmatif bagi tenaga pendidik. Pemkot Makassar secara resmi memberikan tambahan insentif khusus bagi guru-guru yang bertugas di wilayah kepulauan. Langkah ini diambil sebagai jawaban atas tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas yang selama ini menjadi “pekerjaan rumah” klasik.
“Guru-guru di pulau kita berikan insentif lebih sebagai bentuk perhatian. Ke depan, kita harapkan nilainya terus meningkat agar mereka mampu memberikan pengabdian terbaik,” janji Appi. Kebijakan ini diharapkan menjadi stimulus pemerataan kualitas pendidikan sekaligus apresiasi atas dedikasi para pendidik di garda terdepan.
Bukan hanya guru, perhatian pada infrastruktur fisik juga menjadi prioritas. Munafri secara gamblang menyampaikan visi besarnya: menjadikan Makassar sebagai kota rujukan pendidikan nasional. “Saya ingin suatu saat ketika orang bertanya di mana pendidikan terbaik di Indonesia, jawabannya adalah Kota Makassar,” ujarnya penuh optimisme, seraya menekankan bahwa cita-cita itu wajib dibarengi pembenahan fisik sekolah dan kesejahteraan guru yang terukur.
Bedah Anggaran dan Gerakan Kembalikan Anak Sekolah
Tak tanggung-tanggung, Pemkot akan membedah struktur anggaran untuk memastikan alokasi pendidikan lebih besar dan tepat sasaran. “Anggaran akan kita arahkan untuk mendukung sektor pendidikan agar lebih besar dan lebih tepat sasaran. Kita harus pastikan setiap rupiah berdampak langsung bagi masyarakat,” terangnya.
Komitmen inklusivitas juga diwujudkan melalui pengukuhan relawan Tim Aksi Pengembalian Anak Tidak Sekolah (ATS). Gerakan ini menjadi penanda keseriusan Pemkot menekan angka putus sekolah. “Saya berharap tahun depan, pada momentum yang sama, angka anak tidak sekolah ini sudah turun secara signifikan. Ini penting agar kerja-kerja kita bisa terukur dengan baik,” harap Appi.
SPMB Transparan dan Penguatan Karakter di Era Digital
Bersamaan dengan Hardiknas, diluncurkan pula Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk jenjang SD dan SMP. Sistem ini diklaim lebih transparan dan berkeadilan, menjawab keresahan warga akan praktik penerimaan siswa yang kerap menjadi polemik tahunan.
Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham menambahkan dimensi lain dari pendidikan bermutu: penguatan karakter. Menurutnya, di tengah derasnya arus digital, kurikulum harus kembali diperkuat dengan muatan moral, etika, dan pelestarian budaya lokal. Ia juga mengingatkan para orang tua untuk bijak mengawasi penggunaan gawai pada anak.
“Penggunaan gadget harus diawasi dan dibatasi secara bijak. Anak-anak perlu tetap tumbuh dengan interaksi sosial yang sehat, aktif dalam kegiatan belajar, serta dekat dengan lingkungan dan budaya mereka. Kita tidak ingin generasi muda kehilangan jati dirinya karena tenggelam dalam layar,” jelas Aliyah.
Menutup rangkaian Hardiknas yang sarat makna ini, Munafri mengajak seluruh elemen bergerak bersama. “Pendidikan hebat hanya bisa terwujud dengan kolaborasi semua pihak. Kita harus bekerja dengan hati, bersinergi dengan data, dan bergerak dengan inovasi,” pungkasnya. (*)



