Site icon macassar.id

Harga Cabai Rawit Merah di Makassar Tembus Rp100 Ribu per Kg

Cabai Merah

Harga Cabai Merah naik capai Rp100.000/kg di Pasar Maricaya, Sabtu (26/9/2026). --ilustrasi--

MAKASSAR — Harga cabai rawit merah di Kota Makassar menembus Rp100.000 per kilogram. Berdasarkan data Harga Pangan Makassar, harga tersebut tercatat di Pasar Maricaya dalam pemantauan 24 September 2026.

Berdasarkan pemanatauan wartawan di aplikasi lontara, harga komoditas Cabai Rawit Merah mencapai Rp100.000 oer kilogram.  Selain cabai merah, jeruk nipis juga mengalami kenaikan menjadi Rp15 ribu per kilogram.  

Sementara itu pemantauan harga di Pasar Terong, harga cabai merah bervariasi mulai dari Rp70.000 hingga Rp100.000 per kilogram.

Kenaikan harga cabai juga menjadi perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Selatan.  Sebelumnya, tim tersebut melakukan pemantauan harga, pasokan, dan distribusi cabai di Pasar Terong dan Pasar Pa’baeng-baeng, Makassar, pada Rabu (23/9/2026).

Meski dalam pemantauan itu, harga cabai rawit disebut masih di kisaran Rp50.000 menjadi sekitar Rp70.000 hingga Rp85.000 per kilogram. Perbedaan angka dengan data Pasar Maricaya menunjukkan harga cabai dapat bervariasi antar pasar dan waktu pemantauan.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel Muhammad Ilyas mengatakan kenaikan harga tersebut mendorong TPID melakukan pemantauan sekaligus menyiapkan langkah stabilisasi.

“Bahwa ada informasi cabai harganya cukup tinggi, cabai rawit terutama, sehingga beliau menugaskan kita TPID untuk segera melakukan pemantauan di pasar dan terus melakukan juga kegiatan aksi Gerakan Pangan Murah untuk segera menstabilkan harga terutama untuk cabai rawit ini,” kata Muhammad Ilyas.

Pasokan dari Petani Berkurang

Menurut Muhammad Ilyas, kenaikan harga tidak hanya terjadi di tingkat pedagang. Harga cabai di tingkat petani juga berada pada kisaran Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram.

Ia menyebut kondisi cuaca kering yang berlangsung cukup lama turut memengaruhi produksi cabai sehingga pasokan yang masuk ke pasar berkurang.

“Banyak cabai juga yang mengalami masalah di sumbernya. Jadi tentu produksi cabai ini yang suplainya ke pasaran juga yang berkurang,” ujarnya.

TPID selanjutnya akan memantau arus distribusi cabai dari Sulsel ke daerah lain. Langkah itu dilakukan untuk memetakan produksi dari 24 kabupaten/kota serta kebutuhan pasokan di dalam wilayah Sulsel.

Muhammad Ilyas mengatakan pemerintah juga akan melihat volume cabai yang keluar dari Sulsel sebelum menentukan langkah intervensi berikutnya.

Menurut dia, produksi dari daerah-daerah di Sulsel masih perlu diinventarisasi untuk mengetahui apakah pasokan yang tersedia cukup memenuhi kebutuhan pasar di dalam provinsi.

Pemerintah Siapkan Gerakan Pangan Murah

Selain pemantauan distribusi, pemerintah menyiapkan Gerakan Pangan Murah dengan mempertemukan produsen dan penjual agar pasokan dapat lebih dekat dengan konsumen.

TPID juga membahas kemungkinan dukungan terhadap biaya distribusi bagi pengecer. Salah satu opsi yang disebut adalah intervensi biaya transportasi untuk membantu mengurangi beban distribusi.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Firman Hidayat mengatakan BI siap bersinergi dengan pemerintah daerah dalam menjaga stabilisasi pasokan dan harga, termasuk melalui Gerakan Pangan Murah serta kerja sama antardaerah.

“Stoknya masih ada. Tinggal kita ketemukan antara produsen dan pembeli di sini,” kata Firman.
Sementara itu, Kepala BPS Sulsel Aryanto mengatakan komoditas hortikultura, termasuk cabai, mengalami perubahan harga yang dipengaruhi kondisi produksi dan pasokan.

“Cabai memang di mana-mana naik. Cabai itu sangat volatile, bisa naik tinggi dan bisa turun tinggi,” ujarnya.
Di tengah kenaikan harga cabai, sejumlah komoditas pangan yang berada dalam pengendalian pemerintah, seperti beras dan minyak, disebut relatif stabil.

TPID Sulsel bersama instansi terkait akan melanjutkan pemantauan harga, pasokan, dan distribusi cabai serta menyiapkan langkah stabilisasi melalui Gerakan Pangan Murah, kerja sama antardaerah, dan opsi dukungan biaya transportasi. (*)

Exit mobile version