infografis
MAKASSAR — Musim hujan 2026/2027 di Sulsel diprediksi tidak berlangsung secara serentak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan di sejumlah wilayah mengalami kemunduran hingga Maret 2027.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, mengatakan secara normal musim hujan di Sulsel berlangsung pada November hingga Desember.
Namun, pada 2026 terjadi pergeseran awal musim hujan sekitar dua hingga tiga dasarian di sejumlah wilayah.
“Memang ada dari unsur peningkatan El Nino, ya. Tapi bukan berarti tidak ada hujan. Musim hujan kita secara normal terjadi ya di periode-periode November, Desember. Tapi ada kemunduran dari 2 sampai 3 dasarian,” kata Nasrol kepada wartawan di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (29/9/2026).
Menurut Nasrol, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, bukan hanya dalam menghadapi potensi bencana, tetapi juga untuk perencanaan pembangunan di berbagai sektor.
Kesiapsiagaan, kata dia, perlu dilakukan pada bidang infrastruktur, pertanian, kehutanan, kesehatan hingga pengelolaan sumber daya air.
“Informasi ini kita siapkan bukan hanya untuk kesiapsiagaan kita terhadap bencana, tetapi juga kepada pembangunan-pembangunan bidang-bidang lainnya,” ujarnya.
Awal Musim Hujan Terbagi Tiga Periode
Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Ayi Sudrajat, menjelaskan BMKG memprediksi awal musim hujan Sulsel 2026/2027 terbagi dalam tiga periode, yakni November 2026, Desember 2026, dan Maret 2027.
Prediksi tersebut disusun berdasarkan zona musim (ZOM) yang mempertimbangkan karakteristik iklim masing-masing wilayah.
“Yang pertama, prediksi awal musim hujan. Kapan mulainya? Di sini digambarkan, yang mulai bulan November hanya 25 persen,” kata Ayi dalam pemaparan Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Ruang Rapim Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (29/9/2026).
Wilayah yang diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November 2026 antara lain Luwu Utara, Toraja Utara, Tana Toraja, Palopo, dan Enrekang.
Sebagian besar wilayah Pinrang, Luwu, Luwu Timur, serta sebagian kecil Sidrap juga diperkirakan memasuki musim hujan pada periode tersebut.
Sementara sekitar 58 persen wilayah Sulsel diprediksi baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Wilayah tersebut meliputi Selayar, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Makassar, Maros, Gowa, Pangkep, Barru, Soppeng, dan Parepare.
Sejumlah wilayah lain, termasuk sebagian Sinjai, Bone, Wajo, Sidrap, Pinrang, dan Luwu Timur, juga diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember.
Maros Diprediksi Mundur dari November ke Desember
Ayi menyebut Maros menjadi salah satu daerah yang mengalami pergeseran awal musim hujan. Jika biasanya wilayah tersebut mulai memasuki musim hujan pada November, tahun ini BMKG memprediksinya baru terjadi pada Desember.
“Yang biasanya Maros masuknya di November sudah masuk hujan. Ini karena ada pengaruh El Nino kuat tadi, maka dia bergeser,” ujarnya.
Adapun sebagian wilayah Sulsel diprediksi baru memasuki musim hujan pada Maret 2027. Wilayah tersebut terutama berada di kawasan Pantai Timur Sulsel.
Daerah yang masuk dalam prediksi tersebut antara lain sebagian besar Sidrap dan Wajo, serta sebagian kecil Bone, Sinjai, dan Luwu.
“Yang belum tepat hanya sedikit di temuan di Pantai Timur, yaitu sebagian besar Sidrap, Wajo, sebagian kecil Bone, Sinjai, dan Luwu. Itu yang musim hujannya delay di bulan Maret,” kata Ayi.
Curah Hujan Sulsel Beragam
Nasrol mengatakan kondisi curah hujan di Sulsel tidak seragam. Sejumlah wilayah telah memasuki periode dengan curah hujan kategori menengah hingga tinggi, sementara wilayah lain masih berada di bawah 100 milimeter.
Makassar, Maros, Gowa, dan Takalar disebut memiliki curah hujan dengan kategori tinggi. Kondisi serupa juga terdapat di Toraja, Luwu, dan Luwu Timur.
Sementara Bone dan Wajo masih berada di bawah 100 milimeter dalam proyeksi yang disampaikan BMKG.
Nasrol juga menyebut sekitar 64 persen wilayah Sulsel memiliki volume hujan yang relatif sama dengan tahun sebelumnya, sedangkan wilayah lainnya mengalami penurunan.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti kekeringan akan berlangsung hingga tahun berikutnya. Berdasarkan proyeksi BMKG, curah hujan pada Januari 2027 diperkirakan kembali berada di atas 100 milimeter di sebagian besar wilayah.
“Kalau kita lihat dari proyeksi, di Januari saja kita sudah mendapatkan di atas 100 mm curah hujan. Semuanya hampir rata-rata di atas 100 mm,” kata Nasrol.
Ayi menjelaskan perbedaan waktu masuknya musim hujan merupakan bagian dari karakteristik iklim Sulsel yang beragam.
Menurut dia, wilayah Pantai Barat dan Pantai Timur Sulsel dapat mengalami pola musim yang berbeda, sementara kawasan utara Sulsel memiliki karakter hujan sepanjang tahun.
“Saya kira Sulawesi Selatan mempunyai karakteristik iklim yang sangat unik, bahkan Sulawesi Selatan merupakan miniatur iklim di Indonesia,” ujarnya. (*)






