Dari lapangan latihan PB Djarum hingga ke panggung kompetisi internasional, Leo Rolly Carnando, seorang pemain muda yang berkembang menjadi salah satu andalan ganda putra Indonesia.
Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 29 Juli 2001, Leo dikenal sebagai pemain dengan karakter permainan yang mengandalkan kecepatan, kemampuan membaca permainan, serta keberanian mengambil keputusan di depan net.
Peran tersebut menjadi semakin menonjol ketika ia berpasangan dengan Daniel Marthin. Keduanya kemudian dikenal dengan julukan “The Babies”, pasangan muda yang mampu menghadirkan kombinasi permainan depan-belakang yang agresif.
Berawal dari PB Djarum
Leo mulai bermain bulu tangkis sejak usia dua tahun. Dalam profil resminya, PBSI mencatat Leo berasal dari Klaten, menggunakan tangan kanan, dan masuk pelatnas pada 2017. Ia mengawali karier klubnya di PMS Solo sebelum kemudian bergabung dengan PB Djarum pada 2015.
Di level junior, Leo sudah menunjukkan kemampuan bersaing di lebih dari satu sektor.
Pada BWF World Junior Championships 2018 di Kanada, Leo bersama Indah Cahya Sari Jamil meraih gelar juara ganda campuran setelah mengalahkan sesama pasangan Indonesia Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti.
Setahun kemudian, Leo kembali mencatat prestasi besar. Bersama Daniel Marthin, ia menjadi juara dunia junior ganda putra 2019 setelah mengalahkan pasangan China Di Zi Jian/Wang Chang dalam dua gim, 21-19 dan 21-18.
Pada kejuaraan yang sama, Leo juga menjadi bagian dari tim Indonesia yang untuk pertama kalinya membawa pulang Piala Suhandinata.
Prestasi tersebut membuat Leo memasuki jenjang senior dengan modal pengalaman yang cukup lengkap. PBSI bahkan mencatatnya sebagai salah satu pemain junior dengan koleksi gelar yang menonjol di nomor ganda putra, ganda campuran, dan beregu.
Duet dengan Daniel Marthin
Memasuki level senior, Leo dan Daniel kembali menjadi pasangan. Mereka mulai mengikuti turnamen BWF World Tour pada 2020, sebelum perkembangan karier mereka sempat terganggu pandemi.
Gelar World Tour pertama pasangan ini datang di Singapore Open 2022. Dalam final All Indonesian Final, Leo/Daniel mengalahkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dengan skor 9-21, 21-14, 21-16. Gelar tersebut menjadi titel BWF World Tour pertama bagi keduanya.
Setelah itu, Leo/Daniel mulai mengumpulkan gelar penting. Mereka menjuarai Indonesia Masters 2023 setelah mengalahkan He Ji Ting/Zhou Hao Dong dari China 21-17, 21-16.
Setahun kemudian, mereka mempertahankan gelar Indonesia Masters. Di final edisi 2024, Leo/Daniel mengalahkan Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen 21-12, 20-22, 21-11.
Rentetan prestasi tersebut memperkuat reputasi Leo sebagai bagian penting dari regenerasi ganda putra Indonesia.
Sempat Berpasangan dengan Bagas Maulana
Perjalanan Leo kemudian memasuki fase berbeda ketika ia dipasangkan dengan Bagas Maulana.
Duet Leo/Bagas mampu mencapai final All England Open 2025. Dalam partai puncak di Birmingham, mereka harus mengakui keunggulan Kim Won Ho/Seo Seung Jae dari Korea Selatan dengan skor 19-21, 19-21.
Perjalanan bersama Bagas berlanjut hingga 2026. Salah satu pencapaian terpenting mereka adalah gelar Thailand Masters 2026.
Leo/Bagas menjadi juara BWF World Tour Super 300 tersebut setelah mengalahkan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dalam final dengan skor 21-10, 21-17. ANTARA mencatat gelar tersebut sebagai Super 300 pertama bagi Leo/Bagas, setelah sebelumnya mereka menjuarai Korea Open 2024 yang berlevel Super 500.
Namun, perjalanan Leo tidak berhenti di sana.
Reuni dengan Daniel dan Gelar yang Langsung Berdatangan
Pada 2026, Leo kembali berpasangan dengan Daniel Marthin. Reuni tersebut langsung menghasilkan sejumlah pencapaian penting.
Pada Thailand Open 2026, Leo/Daniel keluar sebagai juara BWF World Tour Super 500 setelah mengalahkan unggulan pertama asal India, Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty, dengan skor 21-12, 25-23.
Permainan Leo di depan net menjadi salah satu bagian penting dari pola serangan pasangan tersebut. PBSI mencatat Leo dan Daniel mampu bermain lebih berani serta menjaga komunikasi sepanjang pertandingan final.
Beberapa bulan kemudian, Leo/Daniel kembali naik podium di Taipei Open 2026. Mereka mengalahkan pasangan Malaysia Aaron Chia/Aaron Tai dengan skor 23-21, 21-19 pada partai final.
Dalam perjalanan menuju gelar tersebut, Leo memperlihatkan kemampuan membaca kebiasaan lawan dan menyesuaikan pola permainan. Setelah sempat tertinggal pada semifinal, ia dan Daniel mampu membalikkan situasi dengan memanfaatkan pola permainan lawan.
Playmaker di Depan Net
Jika melihat pola permainan Leo, perannya tidak sekadar menjadi pemain depan yang menunggu bola tanggung.
Ia kerap menjadi penghubung serangan. Ketika Daniel berada di belakang untuk melepaskan smes, Leo bertugas menjaga area depan, memotong bola, menekan lawan dengan permainan cepat, sekaligus membuka ruang untuk serangan berikutnya.
Kemampuan tersebut membuat Leo memiliki karakter yang berbeda dari pemain ganda putra yang hanya mengandalkan kekuatan pukulan.
Keputusan sepersekian detik di depan net bisa menentukan apakah sebuah reli berakhir dengan poin atau justru memberikan kesempatan kepada lawan untuk menyerang.
Dalam pertandingan Thailand Open 2026, pola tersebut terlihat ketika Leo memainkan bola-bola awal dengan agresif sementara Daniel menyelesaikan serangan dari belakang. Pola serupa kembali terlihat ketika keduanya meraih gelar Taipei Open 2026.
Ketenangan Menjadi Modal Penting
Leo juga menunjukkan kemampuan beradaptasi ketika menghadapi situasi sulit.
Pada final Taipei Open, misalnya, Leo/Daniel sempat tertinggal 8-11 pada interval gim kedua. Mereka kemudian mengubah pendekatan dengan bermain lebih sabar hingga akhirnya membalikkan keadaan dan menang 21-19.
Kemampuan untuk mengubah pola permainan tersebut menjadi salah satu karakter penting dalam perjalanan Leo. Ia tidak selalu harus memenangkan reli dengan pukulan keras. Dalam situasi tertentu, menahan tempo, membaca lawan, dan menunggu kesempatan justru menjadi bagian dari strategi.
Puncak di Asian Games 2026
Puncak perjalanan Leo bersama Daniel pada 2026 hadir di Asian Games Aichi-Nagoya.
Sebelum merebut emas nomor perorangan, Leo/Daniel terlebih dahulu menjadi bagian dari tim putra Indonesia yang meraih medali emas nomor beregu.
Pada final ganda putra, mereka kembali berhadapan dengan pasangan China Liang Weikeng/Wang Chang. Setelah kehilangan gim pertama 19-21, Leo/Daniel bangkit dan merebut dua gim berikutnya 21-13, 21-18.
Kemenangan itu sekaligus memberikan Indonesia emas ketiga di Asian Games 2026.
Leo menyebut kepercayaan diri menjadi salah satu kunci kemenangan di final. Ia juga memberikan apresiasi kepada Daniel yang tampil sangat baik.
Bagi Leo, medali tersebut memiliki makna personal. Ia mempersembahkannya untuk mendiang ibunya, keluarga, dan istrinya, Indah Cahya Sari Jamil.
Sementara Daniel menyebut keberhasilan tersebut menjadi momentum bagi mereka untuk terus menambah koleksi gelar dan menjaga konsistensi.
Leo dan Evolusi Ganda Putra Indonesia
Perjalanan Leo Rolly Carnando menunjukkan bahwa keberhasilan seorang pemain ganda tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik atau kerasnya pukulan.
Dari pengalaman di ganda campuran ketika junior, keberhasilan bersama Daniel, masa berpasangan dengan Bagas Maulana, hingga kembali membangun duet bersama Daniel, Leo memperlihatkan kemampuan beradaptasi dengan karakter pasangan dan kebutuhan permainan.
Di depan net, ia bisa menjadi pembuka serangan. Dalam reli panjang, ia dituntut membaca arah permainan. Ketika tekanan meningkat, ia harus mengambil keputusan dengan cepat.
Kombinasi itulah yang membuat perjalanan Leo menarik untuk diikuti.
Pada usia 25 tahun, Leo masih berada dalam fase penting kariernya. Setelah kembali menemukan kombinasi permainan bersama Daniel dan meraih sejumlah gelar pada 2026, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi di tengah persaingan ganda putra dunia yang semakin ketat.
Dari seorang pemain junior asal Klaten, Leo kini telah menjelma menjadi salah satu wajah penting ganda putra Indonesia—dengan permainan depan net yang menjadi ciri khas dan keberanian mengambil peluang sebagai salah satu kekuatannya. (berbagai sumber)

