Site icon macassar.id

OJK Sulselbar Gandeng PWI Sulsel Perkuat Literasi Keuangan melalui Kapasitas Wartawan

PWI

Audiensi pengurus PWI Sulsel dengan OJK Sulselbar pada Selasa (6/10/2026).

MAKASSAR — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) memperkuat sinergi dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat.

Kolaborasi tersebut dibahas dalam audiensi pengurus PWI Sulsel dengan OJK Sulselbar pada Selasa (6/10/2026). Salah satu fokus yang mengemuka adalah penguatan kapasitas wartawan dalam mengolah dan menyampaikan informasi ekonomi serta keuangan kepada masyarakat.

Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Perizinan LJK OJK Sulselbar, Arif Machfoed, mengatakan edukasi literasi keuangan membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk media massa.

Menurutnya, jurnalis memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi mengenai sektor jasa keuangan kepada masyarakat secara luas.

“Program edukasi literasi keuangan mustahil digarap secara soliter oleh OJK semata. Oleh sebab itu, seluruh stakeholder termasuk jurnalis perlu kita rangkul bersama agar ke depannya tingkat pemahaman finansial publik terus merangkak naik,” ujar Arif saat menerima audiensi PWI Sulsel.

Arif mengatakan, peningkatan akses masyarakat terhadap layanan keuangan perlu diikuti pemahaman yang memadai mengenai produk yang digunakan. Masyarakat yang memiliki rekening bank, fasilitas kredit, investasi, asuransi hingga layanan dompet digital tetap membutuhkan pengetahuan mengenai manfaat, risiko, biaya, serta hak dan kewajibannya.

Ia menilai masih adanya kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian.

“Isu utamanya bukan sekadar peningkatan angka literasi atau inklusi semata, melainkan kenyataan bahwa saat ini masih membentang jurang pemisah (gap) yang cukup lebar di antara keduanya,” kata Arif.

Menurut dia, kesenjangan tersebut juga berkaitan dengan risiko masyarakat menjadi korban penyalahgunaan produk dan layanan keuangan. Risiko itu antara lain penipuan, investasi ilegal, pinjaman online ilegal, serta berbagai bentuk kejahatan keuangan digital.

Karena itu, edukasi keuangan dinilai tidak cukup hanya mengenalkan produk kepada masyarakat. Informasi yang diberikan juga perlu menjelaskan karakteristik produk, biaya, risiko, manfaat, serta hak dan kewajiban konsumen.

Dalam konteks tersebut, media massa dinilai memiliki peran penting karena dapat menyebarluaskan informasi secara berkelanjutan kepada masyarakat dengan jangkauan yang luas.

Arif berharap kerja sama dengan PWI Sulsel dapat berkembang menjadi kolaborasi berkelanjutan, tidak sebatas kegiatan seremonial.

“Akselerasi tingkat literasi keuangan akan membuahkan dampak yang jauh lebih dahsyat apabila digarap secara gotong royong. OJK memegang kendali pada fungsi regulasi, pengawasan, dan materi edukasi, sedangkan pers memegang kekuatan besar dalam mendiseminasikan informasi secara masif kepada publik,” ujarnya.

PWI Sulsel Siapkan Penguatan Kapasitas Wartawan

Ketua PWI Sulsel Ir. H. Suwardi Thahir, M.I.Kom, mengatakan pers memiliki peran sebagai jembatan antara informasi ekonomi dan keuangan dengan masyarakat.

Karena itu, PWI Sulsel menyatakan siap berkolaborasi dengan OJK Sulselbar melalui sejumlah program, termasuk peningkatan kapasitas wartawan.

“PWI Sulsel siap bahu-membahu bersama OJK Sulselbar dalam memperkuat literasi keuangan publik. Agenda ini mencakup penyelenggaraan pelatihan khusus bagi jurnalis agar makin piawai membaca data ekonomi serta menyajikannya menjadi berita yang menarik,” kata Suwardi.

Menurut Suwardi, pemberitaan ekonomi memiliki tantangan tersendiri karena wartawan harus memahami istilah, indikator, serta data yang bersifat teknis sebelum menyampaikannya kepada pembaca.

“Menerjemahkan bahasa istilah ekonomi agar mudah dipahami masyarakat awam itu tidak sederhana. Membaca indikator ekonomi butuh kejelian tersendiri,” ujarnya.

Ia menilai peningkatan kompetensi wartawan di bidang ekonomi dan keuangan diperlukan agar informasi yang disampaikan tidak hanya menyajikan angka, tetapi juga memberikan konteks mengenai makna dan dampaknya bagi masyarakat.

Dengan peningkatan kapasitas tersebut, Suwardi berharap wartawan dapat menghasilkan pemberitaan mengenai produk dan layanan keuangan secara lebih presisi, lugas, serta mudah dipahami.

“Kemitraan PWI dan OJK ini kami harapkan tidak hanya melejitkan mutu jurnalistik ekonomi, tetapi juga turut memantik kesadaran masyarakat agar makin familier dengan dunia keuangan. Dengan demikian, muatan informasi yang disajikan media dapat membantu pembaca dalam mengambil keputusan finansial secara lebih cermat dan bijaksana,” pungkasnya. (*)

Exit mobile version