
MAKASSAR — Kebakaran di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti Kota Makassar. Berdasarkan pemantauan kualitas udara di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada 9 Oktober 2026, masuk kategori tidak sehat.
Kepala Bidang Meteorologi BBMKG Wilayah IV Makassar, Rezky Yudha, mengatakan sumber asap diduga berasal dari wilayah Sulawesi Selatan maupun luar provinsi. Sebaran titik panas di Sulsel juga dilaporkan masih banyak.
Informasi yang disampaikan Rezky merujuk pada laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD mengenai kebakaran di sejumlah wilayah, termasuk kejadian di Kabupaten Pinrang dengan luas area terdampak sekitar 15 hektare.
Namun, angka 15 hektare tersebut merujuk pada luas kebakaran yang dilaporkan di Pinrang, bukan jumlah titik kebakaran di Sulawesi Selatan.
“Jika sumber asapnya tidak berkurang, maka masih berpotensi untuk bertahan kondisi tersebut,” kata Rezky, mengingatkan bahwa kualitas udara dapat tetap terdampak apabila sumber asap belum berkurang.
Konsentrasi PM2.5 Capai 85,3 µg/m³
Data pemantauan Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan pada 9 Oktober 2026 menunjukkan konsentrasi PM2.5 sebesar 85,3 µg/m³. Angka tersebut dikategorikan tidak sehat berdasarkan keterangan BBMKG.
Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Kondisi ini menjadi alasan masyarakat perlu mengurangi paparan asap, terutama ketika kualitas udara memburuk.
BBMKG juga menyebut sumber asap tidak hanya berasal dari dalam Sulawesi Selatan, tetapi juga dari luar provinsi. Meski demikian, wilayah asal dan kontribusi masing-masing sumber asap belum dirinci dalam keterangan yang tersedia.
Warga Diminta Waspadai Kabut Asap
BPBD Kota Makassar mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kabut asap dan potensi gangguan kesehatan.
Warga disarankan menggunakan masker respirator seperti N95 atau KN95 saat beraktivitas di luar ruangan ketika kondisi berasap. Aktivitas luar rumah juga perlu dikurangi apabila asap semakin pekat, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung.
Masyarakat diminta memantau informasi kualitas udara dari instansi resmi dan menghindari pembakaran terbuka yang dapat memperburuk kondisi.
Warga yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan berat diimbau segera mencari pertolongan medis.





