
MAKASSAR — Inflasi di Sulawesi Selatan mencapai 3,75 persen secara tahunan pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi pada Agustus 2026 yang sebesar 2,86 persen. Kota Makassar menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi, yakni 4,07 persen.
Data BPS menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulawesi Selatan naik dari 108,72 pada September 2025 menjadi 112,80 pada September 2026. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,70 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) mencapai 3,22 persen.
Dari delapan kabupaten/kota yang dipantau BPS Sulsel, Makassar mencatat inflasi tahunan tertinggi dengan IHK 113,18. Sebaliknya, Kota Palopo mengalami inflasi terendah sebesar 2,27 persen dengan IHK 110,98.
“Pada September 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,75 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,72 pada September 2025 menjadi 112,80 pada September 2026,” demikian keterangan BPS Sulsel dalam rilis resminya.
Kenaikan harga terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran yang tercantum dalam data BPS, meskipun tingkat inflasinya berbeda-beda. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 8,74 persen.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menyusul dengan inflasi 5,16 persen. Sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi 3,91 persen, disusul transportasi sebesar 3,74 persen.
Kelompok pendidikan mencatat inflasi 2,78 persen. Adapun perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 2,16 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 2,03 persen, serta rekreasi, olahraga dan budaya 1,95 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi 1,52 persen. Berikutnya, kelompok kesehatan sebesar 1,41 persen serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,50 persen.
Harga emas dan cabai rawit ikut mendorong inflasi
Berdasarkan andil terhadap inflasi tahunan, emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang terbesar dengan angka 0,56 persen. Cabai rawit berada di urutan berikutnya sebesar 0,34 persen, disusul daging ayam ras 0,18 persen dan bensin 0,15 persen.
Minyak goreng memberikan andil 0,12 persen. Sementara nasi dengan lauk menyumbang 0,12 persen dan ikan layang atau ikan benggol sebesar 0,11 persen.
Sejumlah komoditas lainnya turut memberikan andil terhadap inflasi tahunan, antara lain sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,11 persen, sewa rumah 0,09 persen, pelumas atau oli mesin 0,08 persen, serta telepon seluler 0,08 persen.
Data tersebut menunjukkan kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kebutuhan pangan, tetapi juga pada komoditas nonpangan, termasuk emas perhiasan, bahan bakar, dan biaya hunian.
Cabai rawit jadi penyumbang inflasi bulanan
Pada September 2026, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu pendorong utama inflasi bulanan Sulawesi Selatan. Kelompok ini memberikan andil sebesar 0,56 persen terhadap inflasi umum.
Cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar pada kelompok tersebut, yakni 0,21 persen. Selanjutnya, daging ayam ras menyumbang 0,16 persen, telur ayam ras 0,05 persen, dan tomat 0,04 persen.
Ikan bandeng atau ikan bolu memberikan andil 0,02 persen. Adapun cumi-cumi, wortel, beras, labu siam atau jipang, ikan kembung, dan sejumlah jenis ikan lainnya masing-masing memberikan andil 0,01 persen.
Jika dilihat dari kontribusi tahunan berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,60 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,71 persen, diikuti transportasi sebesar 0,47 persen serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,30 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,22 persen. Sementara informasi, komunikasi dan jasa keuangan menyumbang 0,13 persen, serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,12 persen.
Kelompok pendidikan memberikan andil 0,10 persen. Adapun pakaian dan alas kaki menyumbang 0,04 persen, sedangkan kesehatan serta rekreasi, olahraga dan budaya masing-masing sebesar 0,03 persen.
BPS juga mencatat inflasi tahunan pada subkelompok perawatan pribadi lainnya mencapai 17,79 persen. Kenaikan pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama dipengaruhi oleh harga emas perhiasan.
Sementara itu, inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau turut dipengaruhi kenaikan harga cabai rawit, daging ayam ras, minyak goreng, ikan layang atau ikan benggol, SKM, cabai merah, serta ikan bandeng atau ikan bolu.
Secara keseluruhan, data September 2026 memperlihatkan inflasi tahunan Sulawesi Selatan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Makassar mencatat angka tertinggi di antara daerah yang dipantau, sedangkan kenaikan harga emas perhiasan dan sejumlah komoditas pangan menjadi bagian penting dari tekanan inflasi selama periode tersebut. (*)






