infografis --ai-
JAKARTA — Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memantau kualitas udara, membatasi aktivitas di luar ruangan, serta melindungi kelompok rentan di lingkungan keluarga.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) membagikan panduan mitigasi mandiri agar masyarakat dapat mengurangi paparan asap ketika kualitas udara memburuk.
Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Pertama Biro Hubungan Masyarakat KLH/BPLH, Yadi Supyandi, dalam tulisan bertanggal 24 September 2026, menekankan pentingnya langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat dari rumah.
Menurut panduan tersebut, asap karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, pemantauan kualitas udara dan penerapan langkah perlindungan perlu menjadi kebiasaan selama periode kebakaran.
Lima Langkah Mengurangi Paparan Asap
KLH/BPLH mengimbau masyarakat memeriksa informasi kualitas udara melalui sumber resmi pemerintah. Kondisi langit yang tampak cerah tidak selalu berarti udara aman untuk dihirup.
Ketika kualitas udara memburuk, warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama jika tidak ada keperluan mendesak. Apabila harus bepergian, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang terpasang dengan baik.
Upaya perlindungan juga perlu dilakukan di dalam rumah. Warga dapat menutup pintu dan jendela ketika asap pekat berada di luar agar paparan asap ke dalam ruangan dapat dikurangi.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki riwayat asma atau penyakit jantung.
Jika anggota keluarga mengalami sesak napas atau pusing yang memburuk, mereka perlu segera mendapatkan pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.
Hindari Aktivitas yang Memperburuk Kualitas Udara
Selain menyampaikan langkah perlindungan, KLH/BPLH mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memperburuk kondisi udara saat karhutla terjadi.
Warga dianjurkan menghindari olahraga berat di luar ruangan ketika udara tercemar. Merokok di dalam rumah juga perlu dihindari karena menambah sumber pencemaran udara di dalam ruangan.
Masyarakat juga diminta tidak menilai keamanan udara hanya berdasarkan ketebalan asap yang terlihat. Informasi kualitas udara dari sumber resmi tetap perlu menjadi acuan.
Di tengah situasi tersebut, penyebaran informasi yang belum terverifikasi juga perlu dihindari agar tidak menimbulkan kebingungan dan kepanikan.
KLH/BPLH turut menegaskan pentingnya mencegah kebakaran sejak awal. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan indikasi awal kebakaran kepada pihak berwenang.
Pencegahan Karhutla Membutuhkan Peran Masyarakat
Dalam tulisannya, Yadi menekankan bahwa penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada petugas pemadam kebakaran. Partisipasi masyarakat dalam pencegahan, pelaporan, dan perlindungan kesehatan juga diperlukan.
Pemantauan lingkungan, penyampaian informasi yang jelas, dan edukasi kepada masyarakat menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko akibat asap.
Pesan yang ditekankan KLH/BPLH adalah pentingnya memantau kualitas udara, melindungi diri dan keluarga, melaporkan indikasi kebakaran, serta mencegah munculnya sumber api.
Langkah-langkah tersebut diharapkan membantu masyarakat mengurangi paparan asap sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla. (*)







1 thought on “Hadapi Kabut Asap Karhutla, KLH Berikan Tips Melindungi Keluarga di Rumah”