MAKASSAR — Sebutan Kota Daeng telah melekat pada identitas Makassar. Di balik julukan tersebut, kata Daeng menyimpan sejarah dan makna budaya yang lebih luas daripada sekadar sapaan sehari-hari.
Dalam kebudayaan masyarakat Makassar, Daeng pernah digunakan sebagai nama, julukan penghargaan, hingga gelar bagi orang yang dihormati. Seiring perkembangan kehidupan sosial, penggunaannya juga meluas menjadi sapaan dalam interaksi sehari-hari.
Perubahan makna tersebut dibahas dalam penelitian berjudul “Makna Daeng dalam Kebudayaan Suku Makassar” karya Stephanie Prisilia Djaswadi dari Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.
Penelitian itu menelusuri makna Daeng dalam tradisi masyarakat Makassar sekaligus mengkaji penggunaannya dalam realitas sosial masyarakat Kota Makassar.
Daeng, dari Nama hingga Gelar Kehormatan
Penelitian Djaswadi mengidentifikasi tiga makna utama Daeng dalam sejarah kebudayaan masyarakat Makassar.
Pertama, Daeng dapat menjadi nama yang diberikan orang tua kepada anaknya. Pemberian nama tersebut berkaitan dengan doa dan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Kedua, Daeng dapat digunakan sebagai julukan atau bentuk penghargaan kepada seseorang yang memiliki kelebihan, keterampilan, atau prestasi tertentu.
Ketiga, Daeng dikenal sebagai sebutan atau gelar bagi kalangan bangsawan, orang yang dihormati, serta mereka yang dituakan dalam kehidupan sosial masyarakat Makassar.
Ragam penggunaan itu menunjukkan bahwa Daeng tidak memiliki satu makna tunggal. Pemahamannya berkaitan dengan konteks sosial, tradisi, dan perjalanan sejarah masyarakat yang menggunakannya.
Mengapa Daeng Menjadi Sapaan Sehari-hari?
Salah satu temuan menarik dalam penelitian tersebut adalah penggunaan Daeng dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Makassar.
Penelitian itu mencatat bahwa pada masa kini, sapaan Daeng kerap digunakan untuk menyapa pengayuh becak, pedagang sayur keliling, penarik becak motor (bentor), dan sejumlah pekerja sektor informal lainnya.
Menurut analisis peneliti, penggunaan tersebut berkaitan dengan tata krama dalam komunikasi masyarakat Bugis-Makassar. Daeng digunakan sebagai sapaan yang dinilai sopan ketika berinteraksi dengan orang lain, termasuk orang yang lebih tua atau belum dikenal.
Penelitian tersebut juga mengaitkan meluasnya penggunaan Daeng dengan tidak adanya sapaan umum yang dianggap sesuai dalam konteks interaksi tersebut. Akibatnya, istilah yang sebelumnya memiliki makna khusus berkembang menjadi panggilan yang lebih luas dalam pergaulan sehari-hari.
Djaswadi mencatat bahwa penggunaan Daeng sebagai sapaan bagi pekerja sektor informal itu muncul dalam realitas sosial Makassar pada dekade 1990-an. Sementara itu, penelitian tersebut menguraikan perluasan penggunaan Daeng sebagai gelar kehormatan sejak sekitar dekade 1920-an.
Perbedaan periode dan konteks tersebut memperlihatkan bahwa pemakaian Daeng mengalami perkembangan dari masa ke masa.
Daeng dan Identitas Budaya Makassar
Dalam kehidupan masyarakat, sapaan tidak hanya berfungsi untuk memanggil seseorang. Penggunaan kata tertentu juga dapat mencerminkan kebiasaan berbahasa, hubungan sosial, dan nilai kesopanan yang berlaku di lingkungan budaya tertentu.
Dalam konteks Makassar, Daeng menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah istilah tradisional terus digunakan, tetapi dengan cakupan makna yang berkembang mengikuti perubahan masyarakat.
Identitas budaya Makassar juga kerap dikaitkan dengan falsafah siri’ na pacce, yang secara umum berhubungan dengan harga diri, kehormatan, kepedulian, dan solidaritas sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam memahami kehidupan sosial masyarakat Bugis-Makassar, meskipun tidak dapat disamakan begitu saja dengan makna kata Daeng.
Kota Daeng, Julukan dan Warisan Budaya
Sebutan Kota Daeng mencerminkan kedekatan identitas Makassar dengan istilah yang dikenal luas dalam kebudayaan masyarakatnya. Namun, untuk menjelaskan asal-usul historis julukan Kota Daeng secara khusus, diperlukan sumber sejarah yang secara langsung membahas kapan dan bagaimana julukan tersebut mulai digunakan.
Penelitian “Makna Daeng dalam Kebudayaan Suku Makassar” memberikan landasan untuk memahami sejarah penggunaan dan perubahan makna kata Daeng, bukan secara khusus menetapkan asal-usul julukan Kota Daeng.
Dari penelitian tersebut, satu hal yang dapat dipahami adalah bahwa Daeng memiliki makna yang dinamis. Istilah ini dapat menjadi nama, penanda penghargaan, gelar kehormatan, sekaligus sapaan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, mengenal julukan Kota Daeng juga menjadi pintu masuk untuk memahami kekayaan bahasa, tata krama, dan tradisi sosial masyarakat Makassar yang terus berkembang seiring perubahan zaman. (*)

