MAKASSAR — Konferensi Kerja Provinsi (Konkerprov) II Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulawesi Selatan (Sulsel) Tahun 2026 resmi dibuka di Hotel Dalton Makassar, Kamis (22/10/2026). Forum ini membahas penguatan mutu pendidikan, kepastian status tenaga pendidik, hingga perlindungan hukum bagi guru.
Kegiatan yang mengusung tema “Menjalin Silaturahmi dalam Mewujudkan Guru Bermutu Indonesia Maju” tersebut diikuti sekitar 268 peserta dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Gubernur Sulsel diwakili Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Iqbal Nadjamuddin, SE, untuk membuka kegiatan tersebut. Konkerprov menjadi wadah konsolidasi pengurus PGRI tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga cabang dalam menyelaraskan program organisasi dengan kebutuhan pendidikan di daerah.
Dalam sambutannya, Iqbal berharap konferensi ini menghasilkan program kerja yang relevan dengan persoalan guru dan kondisi pembelajaran di sekolah.
“Selamat berkonferensi untuk seluruh jajaran PGRI Sulsel. Semoga forum ini mampu melahirkan program kerja yang seirama dengan kebutuhan para guru di sekolah,” tuturnya.
Ia juga mendorong PGRI Sulsel mengambil peran dalam meningkatkan mutu pendidikan daerah. Menurutnya, sekolah-sekolah di Sulawesi Selatan perlu terus didorong agar semakin kompetitif dan mampu bersanding dengan sekolah unggulan di Pulau Jawa.
Iqbal menegaskan, tanggung jawab guru tidak terbatas pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga mencakup pembentukan karakter peserta didik.
“Guru bukan sekadar sosok yang mentransfer ilmu di kelas, melainkan garda terdepan dalam mendidik karakter bangsa,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Iqbal turut menyampaikan bahwa pemerintah provinsi sedang mengawal proses perpanjangan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu bagi tenaga pendidik.
“Langkah perpanjangan status ini sedang berproses secara intensif di BKD,” imbuhnya.
PGRI Sulsel Soroti Kebijakan Kenaikan Kelas
Ketua PGRI Sulsel, Prof. Dr. Hasnawi Haris, M.Hum., mengapresiasi partisipasi pengurus PGRI dari kabupaten/kota dan cabang dalam Konkerprov II tersebut.
Dalam forum itu, Hasnawi turut menyoroti rencana kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terkait perubahan sistem kenaikan kelas yang disebut akan berlaku mulai 2027.
Menurut Hasnawi, pola kenaikan kelas yang dianggap otomatis selama ini berpotensi membuat sebagian siswa kurang terdorong untuk meningkatkan capaian belajar.
Ia menggambarkan kondisi tersebut melalui istilah “RMS”, singkatan dari “rajin atau malas hasilnya sama saja”.
“Banyak murid yang masih terjebak dalam kelakar ‘RMS’: rajin atau malas hasilnya sama saja,” ujarnya.
Hasnawi menyambut baik rencana perubahan kebijakan tersebut karena dinilai dapat mendorong semangat belajar, membangun daya saing, dan membentuk ketangguhan siswa dalam menghadapi tantangan pendidikan.
Namun, kepastian mengenai bentuk aturan dan mekanisme penerapannya perlu merujuk pada kebijakan resmi Kemendikdasmen.
Dorong Perlindungan Hukum bagi Guru
Isu perlindungan profesi guru juga menjadi perhatian dalam Konkerprov II PGRI Sulsel. Perwakilan Pengurus Besar PGRI, Assoc. Prof. Abdul Halim Momo, menekankan pentingnya soliditas di kalangan pendidik serta penguatan payung hukum untuk melindungi profesi guru.
Ia menilai perlindungan hukum bagi pendidik masih perlu mendapat perhatian lebih besar. Karena itu, Abdul Halim menyerukan agar para guru memperkuat persatuan sekaligus mengawal upaya pembentukan undang-undang perlindungan guru.
“Guru harus berdiri rapat dan bersatu,” serunya.
Abdul Halim juga mengingatkan bahwa tugas guru memiliki nilai pengabdian yang besar dalam membentuk manusia. Menurutnya, silaturahmi tidak hanya menjadi sarana mempererat hubungan antaranggota organisasi, tetapi juga membawa nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.
“PGRI memiliki misi mulia untuk memanusiakan manusia,” ucapnya.
Ia kemudian menyampaikan tiga keutamaan silaturahmi, yakni ketenteraman jiwa, kelapangan rezeki, dan keberkahan usia.
Dengan keikutsertaan sekitar 268 utusan dari 24 kabupaten/kota, Konkerprov II PGRI Sulsel 2026 diharapkan menghasilkan rekomendasi program yang mampu menjawab kebutuhan guru sekaligus menyesuaikan diri dengan arah kebijakan pendidikan nasional.
Melalui forum tersebut, PGRI Sulsel berupaya memperkuat konsolidasi organisasi dan menjadikan silaturahmi sebagai landasan untuk mendorong peningkatan kualitas pendidik.
Upaya itu diharapkan dapat memperkuat peran guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan membentuk karakter generasi penerus bangsa. (*)

