
Oleh: Muhammad Harun, S.S., M.Pd.
(Ketua Umum DPP Forum Dosen Swasta Nasional (FDSN).
Hari Rabu sore, usai mengajar, saya bergegas meninggalkan fakultas untuk pulang. Namun, menjelang gerbang kampus, kendaraan yang hendak keluar tampak mengular. Saya sempat memperhatikan dari balik kaca mobil. Ada kepulan asap hitam di sekitar gerbang, sementara suara mahasiswa terdengar dari arah kerumunan.
Rupanya, adik-adik mahasiswa sedang menggelar demonstrasi.
Pemandangan seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi saya. Dulu, ketika masih mahasiswa, saya juga pernah berada di posisi mereka. Berdiri di jalan, menyampaikan aspirasi, membawa kegelisahan, dan berharap ada pihak yang bersedia mendengar.
Hanya saja, sore itu ada sesuatu yang membuat saya berpikir lebih jauh. Aksi tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
98 tahun silam, pada 27 Oktober 1928, para pemuda berkumpul dalam Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta). Dari pertemuan itulah lahir ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda dan diikrarkan pada 28 Oktober 1928. Sebuah peristiwa penting yang mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi bisa menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia.
Hari ini, kita kembali memperingati semangat itu. Namun, di sejumlah tempat, anak-anak muda justru turun ke jalan untuk menyampaikan kegelisahan mereka tentang keadaan bangsa.
Terus terang, saya tidak melihat demonstrasi itu sebagai sesuatu yang bertentangan dengan semangat Sumpah Pemuda. Justru ada pertanyaan yang patut kita renungkan: mengapa masih banyak masyarakat, terutama mahasiswa, merasa perlu turun ke jalan agar suara mereka didengar?
Di Jakarta, Yogyakarta, Makassar, dan sejumlah daerah lainnya, berbagai persoalan kembali disuarakan. Mulai dari lingkungan hidup, penggunaan anggaran negara, pendidikan, lapangan pekerjaan, korupsi, penegakan hukum, hingga kebebasan berpendapat. Kehadiran akademisi seperti Prof. Zainal Arifin Mochtar dalam aksi di Yogyakarta juga menunjukkan bahwa kegelisahan terhadap persoalan bangsa bukan hanya milik mahasiswa.
Saya tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa seluruh tuntutan demonstran pasti benar. Setiap aspirasi tetap perlu diperiksa, tuduhan harus disertai bukti, dan tindakan demonstrasi juga harus memperhatikan hukum serta kepentingan masyarakat luas.
Namun, sebelum sibuk menilai siapa yang salah dan siapa yang benar, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang mereka perjuangkan. Jangan-jangan, ada persoalan yang selama ini tidak cukup mendapat tempat dalam ruang-ruang pengambilan keputusan.
Pembangunan yang Dirasakan, Bukan Sekadar Dilaporkan
Kita tentu ingin melihat Indonesia semakin maju. Pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, investasi, dan berbagai program pemerintah merupakan bagian dari ikhtiar membangun negeri. Semua itu patut diapresiasi jika memang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tetapi, ada satu pertanyaan yang tidak boleh kita abaikan: apakah kemajuan tersebut sudah benar-benar dirasakan rakyat?
Di sekitar kita masih ada keluarga yang harus berhitung berkali-kali sebelum membelanjakan uang. Ada lulusan perguruan tinggi yang belum juga mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensinya. Ada orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya lebih tinggi, tetapi kemampuan ekonomi menjadi batas yang tidak mudah dilewati.
Hal-hal seperti ini mungkin tidak selalu terlihat dalam laporan keberhasilan pembangunan. Namun, bagi mereka yang mengalaminya, persoalan tersebut sangat nyata. Bukan sekadar angka statistik, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, penggunaan anggaran negara dan pelaksanaan program pemerintah memang perlu terus diawasi. Uang yang dikelola negara berasal dari rakyat. Sudah semestinya manfaatnya kembali kepada rakyat.
Pemerintah juga tidak perlu merasa terancam setiap kali kebijakannya dievaluasi. Tidak ada pemerintahan yang selalu sempurna. Program yang berhasil patut diapresiasi, sementara yang belum tepat sasaran sebaiknya diperbaiki. Keterbukaan dalam mengakui kekurangan justru dapat menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan publik.
Kritik Bukan Ancaman bagi Kekuasaan
Dalam demokrasi, perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Bahkan, kritik merupakan salah satu cara agar kekuasaan tidak berjalan tanpa pengawasan.
Masyarakat memilih pemimpin melalui mekanisme demokrasi. Namun, hak masyarakat tidak berhenti setelah pemilihan selesai. Mereka tetap berhak mengawasi, mempertanyakan, dan memberikan penilaian terhadap kebijakan yang dijalankan.
Mahasiswa memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi. Akademisi boleh memberikan pandangan kritis. Media menjalankan fungsi kontrol, dan masyarakat sipil berhak mengingatkan ketika ada kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan publik.
Tentu, pemerintah juga berhak menjelaskan kebijakannya. Tidak semua kritik harus diterima mentah-mentah. Ada pendapat yang perlu diluruskan dan ada tuntutan yang memang membutuhkan kajian lebih mendalam.
Tetapi, jangan sampai kita lebih sibuk menilai siapa yang berbicara daripada memeriksa apa yang sedang dibicarakan.
Kalau ada tuduhan yang tidak benar, jawab dengan data. Jika kebijakan sudah dipertimbangkan secara matang, jelaskan kepada masyarakat. Kalau memang ada kekurangan, tidak perlu malu untuk mengakuinya.
Bagi saya, keberanian mengakui kekeliruan justru merupakan bagian dari kualitas kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak harus selalu terlihat benar. Yang lebih penting adalah kesediaannya memperbaiki keadaan ketika memang ada sesuatu yang perlu dibenahi.
Kampus Jangan Kehilangan Kepekaan Sosial
Sebagai dosen, saya punya perhatian tersendiri terhadap keterlibatan mahasiswa dalam persoalan sosial. Saya justru merasa khawatir apabila perguruan tinggi hanya sibuk dengan urusan internal, sementara berbagai persoalan di tengah masyarakat semakin jauh dari perhatian kita.
Kita memang memiliki tanggung jawab menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ada kurikulum yang harus diselesaikan, akreditasi yang perlu dipersiapkan, publikasi yang harus ditingkatkan, serta berbagai pekerjaan administratif lainnya.
Semua itu penting. Tetapi, jangan sampai kesibukan tersebut membuat kampus kehilangan kepekaan terhadap realitas di sekitarnya.
Mahasiswa bukan hanya sedang dipersiapkan untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Mereka juga sedang belajar menjadi bagian dari masyarakat. Mereka perlu memiliki keberanian berpikir, kepekaan sosial, dan kemampuan membaca persoalan bangsanya sendiri.
Karena itu, kampus harus tetap menjadi ruang yang terbuka bagi pemikiran kritis. Mahasiswa tidak boleh takut bertanya, berbeda pendapat, atau mempertanyakan kebijakan yang dianggap tidak tepat. Tugas perguruan tinggi bukan mencetak orang-orang dengan pemikiran seragam, melainkan mendidik manusia agar mampu berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab.
Di sisi lain, kebebasan juga harus disertai etika. Kritik perlu didukung fakta, tuduhan harus bisa dipertanggungjawabkan, dan perjuangan jangan sampai kehilangan nilai kemanusiaan.
Saya juga melihat kehadiran akademisi di ruang publik sebagai sesuatu yang penting. Ilmu pengetahuan jangan hanya berhenti di ruang kuliah atau menjadi kumpulan tulisan dalam jurnal ilmiah. Ada saatnya akademisi perlu hadir di tengah masyarakat, ikut membaca persoalan, menyampaikan pandangan, bahkan menawarkan alternatif penyelesaian.
Sebab, tanggung jawab intelektual tidak selesai hanya karena seseorang telah mengajar dan menerbitkan karya ilmiah.
Sumpah Pemuda dan Kegelisahan Generasi Hari Ini
Ada sesuatu yang menarik dari momentum demonstrasi kali ini. Kita sedang mengenang perjuangan pemuda yang hampir satu abad lalu menyatukan berbagai perbedaan demi Indonesia, sementara hari ini kita mendengar generasi muda menyampaikan kegelisahan tentang masa depan bangsanya.
Namun, jangan buru-buru menganggap keduanya bertentangan.
Persatuan bukan berarti semua orang harus diam. Persatuan juga tidak berarti setiap kebijakan harus disetujui tanpa pertanyaan. Para pemuda dahulu menyatukan perbedaan untuk memperjuangkan masa depan Indonesia. Semangat itu mestinya tetap hidup, termasuk ketika generasi hari ini mengkritisi keadaan bangsanya.
Mereka yang mengkritik pemerintah tidak otomatis membenci negara. Begitu pula mereka yang mendukung pemerintah tidak serta-merta berarti tidak peduli terhadap persoalan rakyat.
Kita perlu berhati-hati dengan kebiasaan saling memberi label. Indonesia terlalu besar dan terlalu beragam untuk hanya dibagi menjadi dua kelompok yang saling berhadapan.
Yang lebih penting adalah bagaimana kita memastikan generasi muda memiliki masa depan yang layak. Mereka membutuhkan kesempatan belajar, pekerjaan, ruang untuk berkembang, dan kepastian bahwa kemampuan serta usaha mereka memiliki tempat di negeri sendiri.
Jangan sampai kita begitu bersemangat memperingati sejarah perjuangan pemuda, tetapi kurang memberi perhatian terhadap persoalan yang sedang dihadapi pemuda hari ini.
Setelah Demonstrasi, Lalu Apa?
Ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita: apa yang terjadi setelah demonstrasi selesai?
Massa kembali ke rumah. Jalanan kembali ramai. Aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa. Pemberitaan pun perlahan berganti dengan isu lain.
Tetapi, apakah persoalan yang mereka suarakan sudah mendapatkan jawaban?
Pertanyaan ini penting. Demonstrasi seharusnya tidak berhenti sebagai peristiwa yang ramai diberitakan, lalu dilupakan begitu saja.
Pemerintah perlu menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan masyarakat. Lembaga legislatif juga harus menjalankan fungsi pengawasannya. Kalangan akademisi dapat membantu melalui kajian yang objektif, sementara mahasiswa dan masyarakat sipil tetap memiliki tanggung jawab mengawal isu yang mereka perjuangkan.
Saya memahami bahwa tidak semua tuntutan bisa dipenuhi dalam waktu singkat. Ada persoalan yang membutuhkan kajian, anggaran, dan proses pengambilan keputusan. Namun, masyarakat setidaknya berhak mengetahui apa respons pemerintah dan sejauh mana tindak lanjutnya.
Jangan sampai masyarakat merasa bahwa suara mereka hanya didengar ketika situasi sedang ramai, sementara setelah itu semuanya kembali seperti semula.
Mungkin sudah saatnya ruang komunikasi antara pemerintah dan masyarakat diperkuat. Bukan hanya melalui forum-forum formal, tetapi juga melalui kesediaan untuk benar-benar mendengarkan apa yang dirasakan masyarakat. Jangan menunggu demonstrasi besar baru kemudian membuka ruang dialog.
Saya tidak sedang menempatkan pemerintah sebagai satu-satunya pihak yang harus berbenah. Kita semua punya tanggung jawab. Pemerintah perlu lebih terbuka terhadap evaluasi. Mahasiswa juga harus menjaga idealisme agar gerakannya tidak mudah ditarik ke kepentingan tertentu. Begitu pula akademisi, jangan sampai kehilangan independensi hanya karena kedekatan dengan kekuasaan.
Sebagai seorang dosen, sekaligus bagian dari organisasi dosen di tingkat nasional, saya memandang perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan lulusan dengan ijazah dan kompetensi akademik. Kita juga perlu ikut membentuk generasi yang peduli, berani berpikir, dan tidak kehilangan perhatian terhadap kehidupan masyarakat.
Saya teringat kembali pada sore itu, ketika melihat mahasiswa berkumpul di gerbang kampus. Barangkali bagi sebagian orang, yang terlihat hanya kemacetan, kepulan asap, dan aktivitas yang terganggu. Tetapi, bagi saya, ada pesan yang patut diperhatikan di balik semua itu.
Mereka sedang menyampaikan sesuatu. Bisa jadi cara penyampaiannya tidak selalu sempurna, tuntutannya pun masih perlu diuji. Namun, jangan sampai kita kehilangan kesempatan untuk memahami kegelisahan yang melatarbelakanginya.
Pada akhirnya, mendengar bukan berarti harus menyetujui semuanya. Tetapi, setidaknya kita bersedia membuka ruang, memeriksa persoalannya, dan tidak langsung menutup telinga hanya karena suara yang datang berbeda dengan pandangan kita.
Saya percaya, pemerintah dan rakyat seharusnya memiliki kepentingan yang sama: Indonesia yang lebih adil, lebih sejahtera, dan memberikan kesempatan yang layak bagi seluruh warganya.
Mencintai Indonesia tidak selalu berarti mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Ada kalanya kecintaan itu justru muncul ketika kita berani mengingatkan bahwa masih ada yang perlu diperbaiki.
Semoga demonstrasi kemarin tidak hanya menjadi peristiwa yang ramai diperbincangkan, lalu hilang bersama pergantian berita. Mudah-mudahan ada sesuatu yang benar-benar didengar, dipikirkan, dan ditindaklanjuti. (*)





