
JAMBI,–Satu lagi peristiwa yang menodai marwah pendidikan di Indonesia. Peristiwa itu terjadi di salah satu sekolah di Jambi.
Seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi dikeroyok murid-muridnya. Videonya viral di media sosial.
Guru itu bernama Agus Saputra. Dia menjadi korban penganiayaan sejumlah siswanya sendiri saat jam pelajaran masih berlangsung, Selasa (13/1/2026) pagi.
Dalam rekaman itu, Agus terlihat berusaha melindungi diri dari amukan siswa, sampai guru lain mengamankan ke salah satu ruang yang memiliki pintu besi.
- Wawali Makassar Buka Puasa Bersama Kepala BPOM RI di Rujab
- Appi Promosi LONTARA+ sebagai Kanal Aspirasi Warga Safari Ramadan Kecamatan Panakkukang
- Peletakan Batu Pertama TPA Miftahul Khair: Simbol Kebangkitan Pendidikan Al-Qur’an di Maros
- 8.854 Honorer Makassar Jadi PPPK & Ribuan Masuk PJLP
- Munafri Pimpin Rapat Sinergi Pengawasan Keselamatan Transportasi Mudik
Menurut keterangan Agus, kejadian bermula saat dirinya mendengar seorang siswa menegurnya dengan ucapan tak pantas saat dia berjalan di depan kelas.
“Menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya,” kata Agus, Rabu (14/1/2026) kemarin.
Sebagai seorang guru, Agus masuk ke dalam kelas dan meminta siswa yang bersangkutan untuk mengaku.
Siswa tersebut mengakui perbuatannya, namun bukannya meminta maaf, justru menantang sang guru.
“Dia langsung menantang saya, akhir saya refleks menampar muka dia,” ujarnya mengaku tamparan itu dimaksudkan sebagai bentuk teguran dan pendidikan moral.
Namun, reaksi siswa tersebut semakin emosional hingga memicu ketegangan yang harus dimediasi oleh guru lain.
Meski demikian, ketika hal itu dikonfirmasi kepada siswa, mereka membela diri dan menyebut Agus sempat melontarkan kata miskin kepada salah satu murid, yang diduga menjadi pemicu keributan.
Agus membantah tudingan tersebut dan menegaskan ucapannya tidak bermaksud menghina.
“Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam. Itu secara motivasi pembicaraan,” tambahnya.
Upaya mediasi sempat dilakukan. Agus bahkan memberi pilihan kepada para siswa untuk membuat petisi apabila tidak menginginkan dirinya mengajar lagi.
Ia juga meminta siswa untuk berubah. Namun, siswa justru meminta Agus menyampaikan permohonan maaf. Mediasi tersebut tidak menemukan titik temu.
Situasi kian memanas hingga jam belajar berakhir pada sore hari. Sejumlah siswa yang masih tidak terima disebut mengancam Agus dan melemparinya dengan batu. Dalam kondisi terdesak, Agus sempat mengacungkan celurit.
“Kebetulan kami itu SMK pertanian, memang kayak cangkul dan celurit lainnya memang tersedia di kantor. Kenapa saya memakai itu? Agar mereka bubar, tidak ada niat lain saya untuk itu. Pada kenyataannya mereka juga tidak bubar, malah melempari saya dengan batu,” terang Agus.
Akibat pengeroyokan tersebut, Agus mengalami memar di beberapa bagian tubuh, termasuk pipi. Ia telah melaporkan kejadian itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk ditindaklanjuti.
Gubernur Jambi, Al Haris, turut merespons video viral pengeroyokan guru bahasa Inggris di SMKN 3 Tanjabtim tersebut. Ia menegaskan, proses penanganan akan dilakukan secara adil.
“Kalau gurunya salah kita berikan sanksi. Kalau memang perkataan dia tidak patut sebagai seorang guru maka akan ditindak,” kata Al Haris, Kamis (15/1/2026).
Al Haris menekankan pentingnya menjaga marwah dunia pendidikan. Ia juga mengingatkan bahwa tindakan kekerasan oleh siswa tidak dapat dibenarkan.
Menurutnya, persoalan ini harus segera diselesaikan agar tidak mengganggu proses belajar mengajar.
Ia pun telah menginstruksikan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk menggelar rapat mediasi yang melibatkan orang tua siswa, pihak sekolah, camat, serta kepolisian guna menyelesaikan persoalan secara kekeluarga. (*)






